Lindayanti
The Alpha Legacy
Mulai membaca
Di tempat persembunyian lain, Raphael memandangi foto keluarga mereka.
Foto lama Evelyn kecil duduk di pangkuan ibunya, sementara Davidson tersenyum di belakang. Wajah bahagia yang kini terasa seperti dari dunia lain.
Zayyan duduk di sebelahnya, menatap foto itu juga.
“Kalau Daddy masih hidup, kau tahu apa yang dia akan katakan?”
Raphael tersenyum samar. “Apa?”
Zayyan menatapnya dengan mata lelah. “Berhenti. Cukup.”
Raphael menatapnya lama. “Kalau kita berhenti, apa artinya pengorbanan Mom? Apa artinya darah Eve di tanah itu?”
Zayyan berdiri, berjalan ke arah jendela. “Kadang pengorbanan bukan untuk menang, tapi untuk menghentikan perang.”
Raphael menghela napas. “Kau terdengar seperti Mom sekarang.”
Zayyan menatap hujan. “Mungkin dia bicara lewat aku.”
Hari berikutnya, Samuel menemukan sesuatu. Di pelabuhan tua, ia bertemu nelayan yang menemukan potongan kain milik Evelyn.
Nelayan itu bilang, “Perempuan muda itu… masih hidup waktu kami temukan. Tapi orang-orang berseragam hitam membawanya pergi.”
Samuel terdiam. “Black uniforms?”
“Ya,” jawab nelayan itu. “Mereka bicara bahasa asing. Bukan Korea.”
Samuel segera kembali ke apartemen dan menceritakan semuanya pada Raphael.
“Mereka bukan pasukan pemerintah. Itu orang Alpha yang tersisa.”
Raphael menatapnya dengan mata tajam. “Berarti Alphonso belum mati.”
Zayyan terdiam lama. “Kalau Alphonso hidup… maka Eve dalam bahaya lagi.”
Raphael berdiri, menatap laut dari jendela yang basah oleh hujan.
“Kita tidak akan biarkan sejarah terulang. Kali ini, kita yang berburu mereka.”
Samuel menatapnya, perlahan tersenyum getir.
“Then let’s finish what she started.”
Malam itu, di rumah sakit bawah tanah, Evelyn duduk di depan cermin. Wajahnya pucat, tapi matanya sudah tak sama. Dulu penuh kelembutan; kini hanya ada dingin dan tekad. Dr. Han datang membawa pakaian hitam dan jaket kulit.
“Aku kira kau ingin istirahat lebih lama.”
Evelyn tersenyum samar. “Istirahat untuk orang yang sudah selesai hidup. Aku baru mulai.”
Ia mengenakan jaket itu perlahan.
Ketika menatap bayangannya di cermin, seolah ibunya berdiri di belakangnya, menatap dengan senyum tipis.
“Eve, api bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menerangi.”
Evelyn menatap pantulan itu, lalu berbisik pelan, “Kadang, Mom, dunia terlalu gelap untuk diterangi. Jadi biarkan aku membakarnya dulu.”
Ia mengambil pistol yang tergeletak di meja, memasukkannya ke pinggang. Langkahnya mantap, tanpa ragu. Bayangan baru lahir malam itu bukan lagi gadis Claire yang lemah lembut, tapi seorang wanita yang membawa amarah dan cinta sebagai satu kesatuan.
Evelyn Claire telah mati.
Yang hidup kini hanyalah api.
TIga bulan setelah malam kebakaran itu.
Langit musim dingin tampak kelabu, seperti kain tua yang dilapisi debu. Sisa-sisa reruntuhan menara Alpha kini menjadi tempat burung camar hinggap, satu-satunya saksi bisu dari perang yang mengubah segalanya.
Di atas bukit kecil di tepi laut, Raphael Claire berdiri diam memandangi horizon.
Jaket hitamnya berkibar diterpa angin, mata cokelat tuanya menatap laut dengan tatapan kosong. Sudah berbulan-bulan, tapi rasa kehilangan itu masih menggigit seperti dingin yang menembus tulang.
“Busan mulai pulih,” kata Zayyan di belakangnya, menyalakan rokok. “Tapi aku gak yakin kita bisa.”
Raphael menoleh setengah. “Kau masih merokok?”
Zayyan mengangkat bahu. “Kau pikir aku bisa tidur tanpa mimpi buruk?”
Raphael terdiam.
Di antara suara ombak, keduanya tenggelam dalam keheningan.
Mereka bukan hanya dua bersaudara lagi mereka adalah dua sisa jiwa dari keluarga yang hancur. Samuel bangun di ruangan kecil yang dingin. Keringat dingin membasahi pelipisnya, napasnya tersengal.
Mimpi itu datang lagi. Mimpi tentang api, laut, dan Evelyn yang menatapnya dari jauh dengan mata tajam.
“Go, Sam. Don’t look back.”
Ia bangun dengan teriakan tertahan. Menatap tangan kirinya, yang masih memiliki bekas luka dari malam itu.
Kepalanya berat, dan kadang, ingatan datang seperti kilatan. Evelyn, ledakan, laut lalu gelap lagi.
Zayyan masuk dengan membawa secangkir kopi. “Kau teriak lagi. Mimpi buruk?”
Samuel mengambil cangkir itu, menatap uap panasnya. “Ya. Tapi aku gak tahu mana yang mimpi, mana yang nyata.”
Zayyan duduk di kursi. “Kau harus mulai mengingat. Kalau tidak, Raphael akan terus memburu bayangan.”
Samuel menatapnya lama. “Dan kau tidak percaya dia masih hidup?”
Zayyan menghela napas. “Percaya itu hal berbahaya di dunia kita.”
Samuel tersenyum samar. “Tapi kadang itu satu-satunya hal yang bikin manusia tetap jadi manusia.”
Zayyan menatapnya heran, lalu tersenyum miring. “Kau mulai terdengar seperti Evelyn.”
Samuel menatap lantai, menahan rasa bersalah yang menyesakkan. “Maybe that’s why I can’t forgive myself.”
Di sisi lain kota, jauh dari mata siapa pun, Evelyn berdiri di depan jendela besar yang menghadap laut. Bangunan tua tempatnya tinggal dulu bekas pabrik yang hancur setengah. Kini menjadi markas kecil yang hanya diterangi cahaya neon merah.
Rambutnya kini lebih pendek, sebagian wajahnya masih memperlihatkan bekas luka samar. Ia mengenakan kemeja hitam dengan sabuk peluru di pinggang, matanya dingin dan fokus.
Di hadapannya, Dr. Han menatap layar komputer besar yang menampilkan grafik digital dan wajah beberapa orang.
“Lima belas nama,” kata Dr. Han. “Sisa-sisa Alpha yang tersebar di berbagai negara. Tapi ada yang menarik..”
Ia menunjuk satu nama di layar.
Genesis Corp. Busan Branch
Evelyn menatap layar itu lama. “Genesis?”
Dr. Han mengangguk. “Perusahaan baru, tapi sangat misterius. Berdiri hanya sebulan setelah ledakan menara Alpha. Dan kau tahu siapa pemimpinnya?”
Evelyn menatapnya tajam. “Jangan bilang…”
Dr. Han menatapnya serius. “Alphonso.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa beku.
Evelyn mengepalkan tangan, suara pernapasannya berat. “Dia… masih hidup.”
Dr. Han mengangguk pelan. “Ya. Dan dia tak sendiri. Ada nama lain — The Broker. Ia muncul kembali, bekerja di balik Genesis.”
Evelyn melangkah pelan ke jendela, menatap laut yang memantulkan cahaya bulan.
“Kalau begitu, aku belum selesai,” katanya dingin. “Kali ini, aku akan bakar semuanya sampai tak ada abu tersisa.”
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari The Alpha Legacy.