Lindayanti
The Alpha Legacy
Mulai membaca
Hujan masih turun di Busan.
Tidak deras seperti malam sebelumnya, tapi cukup untuk membuat udara beraroma tanah basah dan abu sisa kebakaran. Kota itu masih berasap, luka yang belum sempat sembuh setelah menara Alpha runtuh tiga malam lalu.
Raphael berdiri di tepi reruntuhan, tubuhnya dibalut mantel hitam yang sobek di beberapa bagian. Wajahnya kotor, matanya merah karena kurang tidur.
Di tangannya, sehelai kalung sayap perak berlumur debu. Ia menatapnya seolah benda itu adalah sisa terakhir dari adik yang ia cintai.
“Raphael, kita harus pergi,” suara Zayyan terdengar di belakangnya, berat dan parau. “Pasukan keamanan mulai menyisir area ini lagi. Mereka bisa mengenali wajahmu.”
Raphael tidak bergerak. Ia hanya berbisik pelan, nyaris seperti doa.
“Kalung ini… Evelyn selalu pakai. Dia tidak akan meninggalkannya begitu saja.”
Zayyan berjalan mendekat, menatap reruntuhan yang masih mengepulkan asap. “Mungkin dia jatuhkan saat berlari. Atau...”
“Dia masih hidup,” potong Raphael tajam.
Tatapannya tajam seperti baja.
Zayyan menatap kakaknya lama, lalu menunduk. “Kau selalu percaya keajaiban, ya?”
Raphael tersenyum tipis. “Kalau tidak percaya pada keajaiban, bagaimana kita bisa tetap hidup setelah semua ini?”
Angin bertiup membawa abu halus dan potongan besi berkarat. Langit di atas mereka kelabu sama seperti hati dua bersaudara itu.
Di sisi lain kota, jauh dari reruntuhan menara, sebuah rumah sakit bawah tanah berdiri di lorong gelap distrik Seomyeon.
Bangunannya tidak resmi. Tidak ada plang, tidak ada lampu jalan. Hanya bau alkohol, darah, dan desis mesin generator yang menemani malam.
Di salah satu ruang operasi yang dingin, Evelyn Claire terbaring di atas ranjang logam. Tubuhnya penuh luka bakar dan sayatan. Perban melilit bahunya, dan kabel-kabel menempel di kulit pucat nya.
Detak jantung di monitor berdenyut pelan, tidak stabil.
Seorang pria tua dengan janggut putih tipis Dr. Han, dokter bawah tanah yang pernah menjadi periset militer sedang membersihkan darah dari alat bedahnya.
Ia menatap Evelyn dengan mata teduh, lalu berkata pelan kepada asistennya, “Gadis ini seharusnya sudah mati tiga kali. Tapi lihatlah… dia bertahan.”
Asistennya menatap layar monitor. “Siapa dia sebenarnya, Dokter?”
Dr. Han tersenyum samar. “Seseorang yang bahkan kematian enggan mengambilnya.”
Evelyn mengerang pelan. Tubuhnya berguncang.
Dalam setengah sadar, ia melihat bayangan wanita berambut hitam panjang. Ibunya, Geovanny.
“Eve…” suara itu lembut, seperti hembusan angin.
“Kau telah melangkah terlalu jauh. Tapi kadang, pengorbanan adalah satu-satunya bahasa cinta yang dimengerti dunia.”
Air mata jatuh di pipi Evelyn.
Ia berusaha membuka mata, tapi dunia masih buram.
“Mom…” bisiknya. “I did it… I destroyed him…”
Tapi suaranya terlalu lemah. Hanya Dr. Han yang mendengarnya samar.
Dokter tua itu menatapnya iba. “Tidurlah, anakku. Dunia masih butuh waktu sebelum bisa menanggung kisahmu.”
Sementara itu, Raphael dan Zayyan kembali ke tempat persembunyian mereka, apartemen kecil di dekat pelabuhan Jagalchi. Dindingnya retak, lampu redup, tapi bagi mereka tempat itu adalah satu-satunya rumah tersisa.
Samuel duduk di pojok ruangan, tubuhnya penuh perban. Wajahnya pucat, namun matanya mulai terbuka. Ketika Raphael masuk, Samuel menatapnya dengan kebingungan.
“Where am I?” tanyanya pelan, suaranya serak.
Raphael berhenti di depan pintu. “Busan. Kau selamat. Tapi…”
Ia menatap Samuel tajam. “Evelyn tidak.”
Samuel diam lama. Wajahnya kosong, lalu perlahan ia menutup mata.
“Evelyn…” gumamnya pelan. “Aku… aku ingat sesuatu. Dia berteriak padaku untuk pergi.”
Zayyan duduk di kursi berdebu di sebelahnya. “Ya. Dan kau kabur.”
Samuel menatap Zayyan dengan mata kelabu yang sendu. “Aku mencoba menyelamatkannya.”
Raphael mendekat dan menunduk di hadapan Samuel. “Kalau kau benar-benar ingin menebus kesalahan, bantu aku menemukan dia. Aku tahu dia masih hidup.”
Samuel memegang kepalanya, wajahnya menegang seolah mencoba mengingat. “Aku… aku hanya ingat suara… suara ledakan, lalu laut. Setelah itu gelap.”
Raphael berdiri, menatap laut dari jendela apartemen.
“Kalau begitu, kita mulai dari sana. Laut menelan banyak rahasia, tapi tidak semuanya.”
Beberapa hari kemudian, mereka menemukan sebuah kapal nelayan tua terdampar di pinggiran pantai Gwangalli.
Laporan dari warga mengatakan kapal itu muncul setelah badai malam sebelumnya.
Raphael memeriksa bagian dalam kapal.
Di sana, di kursi kayu tua, ia menemukan kain yang sobek dengan noda darah dan huruf “E.C.” di ujungnya.
Zayyan menghela napas. “Bisa saja milik siapa pun.”
Raphael menatapnya tajam. “Tidak. Hanya satu orang yang menggunakan inisial itu.”
Samuel berdiri di sampingnya, diam, lalu menatap laut.
“It means she’s alive,” katanya pelan.
Raphael memandangi cakrawala, lalu berbisik, “Kalau laut mengembalikan ini, berarti dia belum pergi.”
Malam itu, di tempat lain yang tak diketahui siapa pun, Evelyn kembali membuka matanya. Ia berada di kamar kecil dengan dinding beton dan lampu redup. Tangannya dibalut perban, dan di meja sebelah tempat tidurnya terdapat koran tua dengan berita utama.
Menara Alpha Meledak Puluhan Tewas, Termasuk Evelyn Claire
Evelyn menatap koran itu lama, lalu tertawa kecil.
“Aku mati…” gumamnya. “Bagus.”
Dr. Han masuk membawa obat. “Kau sadar.”
Evelyn menatapnya dengan mata dingin tapi tajam. “Kenapa kau selamatkan aku?”
“Karena dunia masih butuh seseorang yang tahu bagaimana menutup luka yang dia buat.”
Evelyn menatap tangannya yang penuh bekas luka.
“Tidak, Dokter. Dunia tidak butuh aku. Dunia butuh dihancurkan.”
Dr. Han menghela napas panjang. “Kemarahan itu yang akan membunuhmu, Evelyn.”
Evelyn menatap keluar jendela kecil, hujan masih turun pelan.
“Mungkin kemarahan juga yang membuatku tetap hidup.”
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari The Alpha Legacy.