CeritaGW
Buku / Bab
Bab 06935 kata

The Escape

L

Lindayanti

The Alpha Legacy

Mulai membaca

Angin laut pagi di Pulau Oryukdo berhembus dingin, membawa aroma asin dan lembap. Ombak memecah karang di bawah tebing, menimbulkan suara gemuruh yang menggema ke seluruh penjuru pulau. Di atas bukit kecil, dua sosok berdiri menatap laut, Evelyn dan Samuel.

Keduanya diam cukup lama, masing-masing tenggelam dalam pikiran. Semalam, mereka bersepakat untuk bekerja sama tapi kesepakatan itu belum berarti kepercayaan.

Evelyn melilitkan selendang abu-abu di lehernya, menatap cakrawala. “Kita tidak bisa terus di sini. Orang-orang Alphonso pasti akan menemukan jejakku.”

Samuel mengangguk. “Aku tahu. Mereka punya satelit sendiri. Setiap kapal yang keluar dari Busan bisa dilacak dalam waktu satu jam.”

Evelyn menatapnya, alis berkerut. “Kau terdengar seperti orang yang sangat mengenal cara mereka bekerja.”

Samuel menatap balik. “Karena aku salah satu yang mengajarkan sistem itu.”

Sunyi. Hanya suara burung camar dan deburan ombak yang terdengar di antara mereka.

Evelyn menghela napas. “Jadi sekarang kita melawan sistem yang kau ciptakan sendiri?”

Samuel tersenyum tipis. “Ironis, bukan?”

Evelyn tidak membalas. Ia berbalik, berjalan ke arah jalan setapak menurun yang menuju ke pelabuhan kecil. “Kita harus cari kapal nelayan yang mau berangkat sebelum sore.”

Samuel mengikutinya dari belakang. “Kau pikir kita bisa menyeberang begitu saja?”

“Kalau kau punya ide yang lebih baik, aku dengarkan.”

“Ya,” jawab Samuel datar. “Kita buat seolah-olah kita mati di sini.”

Evelyn menatapnya. “Kau serius?”

Samuel mengangguk. “Kalau Alphonso percaya kita mati, mereka akan menutup pencarian. Kita bisa bergerak lebih bebas.”

Evelyn menatap laut yang berombak di bawah sana. “Bagaimana kau mau meyakinkan mereka?”

Samuel mengeluarkan alat kecil dari sakunya semacam beacon pelacak. Lampu merahnya berkedip pelan.

“Ini pelacak yang mereka tanam di mobilku. Aku tinggal hancurkan di tebing itu. Setelah itu, aku kirim sinyal darurat yang menunjukkan kapal kita tenggelam.”

Evelyn menatap alat itu lama, lalu mengangguk. “Baiklah. Tapi begitu kita tiba di Busan, kita pisah. Aku punya urusanku sendiri.”

Samuel tidak membantah. “Seperti yang kau mau.”

Siang menjelang, dan mereka berhasil menumpang kapal nelayan kecil. Kapten kapal, pria tua berkulit legam bernama Hoon, menerima mereka setelah Samuel membayar dua kali lipat tarif biasa.

Hoon menatap mereka berdua dengan tatapan curiga, tapi akhirnya hanya berkata, “Aku tidak ingin masalah. Kalian paham?”

Evelyn menatapnya tenang. “Kami juga tidak.”

Kapal berlayar perlahan meninggalkan dermaga, menembus kabut tipis yang menyelimuti laut. Oryukdo semakin kecil di belakang mereka, seperti bayangan masa lalu yang mulai tenggelam di cakrawala.

Di dek kapal, Samuel berdiri diam, menatap arah utara. Evelyn menghampirinya. “Apa kau yakin Alphonso akan percaya?”

Samuel menjawab tanpa menoleh, “Alphonso tidak mudah percaya. Tapi dia mempercayai sistemnya. Dan aku tahu bagaimana membuat sistem itu salah.”

Evelyn menatapnya lama, lalu bergumam, “Semoga kau benar.”

Samuel menoleh pelan, pandangan matanya tajam tapi lembut. “Kau masih tidak percaya padaku.”

Evelyn menatap balik. “Aku tidak percaya siapa pun dari Alpha.”

Samuel mengangguk kecil. “Itu keputusan yang tepat.”

Sementara itu, di sisi lain Busan, Raphael dan Zayyan tiba di kawasan pelabuhan Jagalchi. Luka Raphael sudah mulai mengering, meski gerakannya masih terbatas. Mereka berdua menyusuri lorong sempit di antara gudang, mencari seseorang bernama Hoon, kontak lama ayah mereka.

“Dia pasti masih di sekitar sini,” gumam Zayyan. “Dulu Daddy sering menyebut namanya.”

Raphael mengangguk. “Kalau dia masih hidup.”

Mereka berhenti di depan sebuah kedai tua dengan papan kayu bertuliskan HOON SEAFOOD SUPPLY. Dari luar tampak sepi, tapi ada suara radio samar dari dalam.

Zayyan mengetuk pintu tiga kali.

Seorang pria tua membuka pintu, matanya tajam, wajahnya keras.

“Hoon?” tanya Raphael.

Pria itu menatap mereka lama sebelum menjawab. “Kalian anak Davidson?”

Keduanya saling pandang. Raphael mengangguk. “Ya.”

Hoon menarik napas panjang. “Aku sudah menunggu waktu ini datang.”

Mereka masuk ke dalam kedai. Hoon menutup pintu rapat-rapat, lalu menatap Raphael dengan serius. “Alpha sudah mulai bergerak lagi. Aku dengar rumah kalian dibakar.”

Raphael mengangguk. “Ayah kami tewas. Adik kami kabur. Kami datang untuk mencari tahu ke mana dia pergi.”

Hoon berpikir sejenak, lalu mengambil secarik kertas dari laci meja. “Ada satu kapal berangkat ke Oryukdo dua malam lalu. Aku kenal kaptennya. Namanya Hoon juga… sepupuku. Dia bilang ada gadis muda menumpang kapal itu.”

Zayyan langsung bereaksi. “Itu pasti Evelyn.”

Hoon mengangguk. “Kalau begitu, kalian harus segera ke sana. Tapi hati-hati, Alpha juga mencarinya.”

Raphael menatap pria tua itu tajam. “Kau masih punya akses ke jalur rahasia Alpha?”

Hoon tersenyum samar. “Kau seperti ayahmu, selalu langsung ke inti.”

Ia berjalan ke arah lemari tua, membuka bagian bawahnya, dan mengeluarkan sebuah peta lusuh.

“Ini jalur distribusi senjata mereka. Banyak terowongan bawah tanah yang terhubung ke pelabuhan. Kalian bisa menggunakannya untuk menyelinap keluar.”

Raphael mengambil peta itu. “Terima kasih, Hoon. Kau baru saja menyelamatkan kami.”

Hoon menatap mereka dengan mata tua yang sayu. “Tidak, anak muda. Aku hanya menunda kematian kalian.”

Sementara itu, kapal nelayan kecil yang membawa Evelyn dan Samuel sudah mendekati pantai selatan Busan. Langit mulai gelap, hujan turun rintik-rintik.

Hoon tua yang mengemudikan kapal berseru, “Kita akan mendarat di dermaga tua dekat Gijang. Tidak banyak penjaga di sana.”

Samuel mengangguk. “Baik. Setelah sampai, kau pergi saja. Jangan lihat ke belakang.”

Hoon menatapnya curiga. “Kau bawa masalah besar, ya?”

Samuel menjawab datar, “Masalah tidak pernah pergi dariku.”

Ketika kapal mulai merapat, Samuel menyalakan alat kecil di tangannya beacon pelacak tadi. Ia menatap Evelyn sebentar, lalu melemparnya ke laut.

Beberapa detik kemudian, alat itu meledak kecil, memercikkan api di permukaan air.

“Dan sekarang,” katanya pelan, “dunia akan percaya kita tenggelam.”

Evelyn menatapnya dalam diam, antara kagum dan waspada.

“Kalau kau benar-benar berkhianat pada Alphonso,” katanya pelan, “kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri.”

Samuel tersenyum samar. “Mungkin memang itu yang seharusnya terjadi.”

Mereka tiba di dermaga Gijang ketika malam sudah turun sepenuhnya. Lampu jalan padam di sebagian besar wilayah, hanya cahaya bulan yang menyorot jalan basah di depan mereka.

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 06 / 6
The Alpha Legacy
05

The Eden Project

824 kata / Tersedia

06

The Escape

935 kata / Sedang dibaca