Indra One
Selubung Perangkap
Mulai membaca
Hadi boleh ragu jika pandangannya salah usai berkali-kali kepalanya terbentur. Tapi faktanya ia memang tak lagi berada di tempat yang sama seperti sebelumnya. Kini ia berdiri di tengah-tengah tanah luas yang dikitari pepohonan besar di sekeliling.
Petak-petak kebun telah menghilang, berganti dengan sederet gundukan-gundukan tanah menyerupai kuburan tanpa nisan. Rumah kayu tadi pun lenyap, berubah menjadi sebatang pohon beringin tua raksasa yang menjulang kokoh ke atas.
Bibi berwujud kuntilanak tadi bertengger di salah satu dahan. Ia cekikikan sambil menenteng Risma hanya dengan sebelah tangan.
"LEPASKAN DIA SEKARANG JUGA!", hardik Hadi.
"HIHIHIHIIII, INI KAN YANG KAU MAU? AMBIL SANA!!", lengking Bibi, seraya melempar Risma seenaknya. Tubuh Risma terjun bebas ke bawah, hingga terhempas begitu saja mencium tanah.
Hadi tak mengira gadis itu akan dilempar jatuh. Dengan panik, ia buru-buru menghampiri Risma yang tergolek di tanah berlumpur. Sepupunya tersebut pingsan sehingga Hadi memutuskan membawa ia pergi.
Sementara gerimis kian menderas. Rentetan kilat menyambar langit disusul gemuruh yang memekakkan telinga.
Hadi mencoba memapah Risma di pundak lalu berjalan pelan menjauh dari situ. Tiba-tiba saja muncul satu sosok lain menukik tajam dari atas pohon raksasa.
Tanah ikut bergetar seiring sosok tersebut menjejakkan kaki. Akibatnya Hadi kehilangan keseimbangan hingga jatuh terduduk. Ia menyangka si Bibi yang datang, tapi Hadi keliru. Lewat kilatan petir, ia dapat menyaksikan wujud sebenarnya dari sosok yang baru tiba ini. Dan Hadi terperangah tak percaya.
Sosok tinggi tersebut memiliki bobot badan yang terlampau besar, persis seseorang yang menderita obesitas parah. Keseluruhan tubuhnya diselimuti rambut-rambut hitam lebat nan kasar seperti serabut.
Makhluk itu berdengus, nafasnya naik turun tak menentu. Dua matanya yang diselubungi rambut mendelik menatap Hadi. Saat pandangan mereka bertemu, Hadi melonjak kaget setengah mati.
Berbeda dengan Bibi yang masih berbentuk manusia, makhluk tersebut malah memiliki kepala menyerupai seekor babi. Lebih tepatnya babi hutan, karena terdapat sepasang taring melengkung yang mencuat dari mulut khas hewan buas tersebut.
Moncong besar si makhluk bergerak-gerak seolah mengendus bau santapan lezat. Sementara ingus kental bercampur liur meleleh di mulut tanpa henti. Pemandangan menjijikkan tersebut mengingatkan Hadi pada hidangan yang dimakan Risma. Membayangkannya kembali bikin ia ingin muntah.
Di tempatnya, Hadi benar-benar tak berkutik. Dirinya terlalu takut sehingga tanpa sadar kencing di celana.
"NAH, ITU DIA SUAMIKU! KAU BELUM BERTEMU DIA KAN, NAK? AYO SEKARANG KENALAN DULU! HIHIHIHIIIII....", seru Bibi lagi, mengejek Hadi yang gemetaran.
Hadi menerka manusia setengah hewan inilah yang membuat gaduh di kolong rumah sebelumnya. Mungkin ia menanti waktu yang tepat untuk unjuk diri sembari bersembunyi.
Makhluk berkepala babi meraung panjang. Raungannya ngeri mencekam, mengisyaratkan suatu ancaman lain yang jauh lebih berbahaya.
"ARRRRRRHHHHGGGGHHHH....."
Lalu ia mengancang-ancang hendak menyerbu. Dalam sekejap, makhluk tersebut meluncur menuju Hadi berada.
"Tidak! Aku tak boleh mati! Aku tak mau mati di sini...", gumam Hadi, mengusir ketakutannya sendiri.
Bergegas ia bangkit tepat saat sosok tersebut menghempaskan bodi gemuknya untuk menggencet Hadi.
BAAAAMMMMM!
Bunyi berdebam keras terdengar hingga menggema ketika ia membanting diri.
NGGGOOOOOKKKKK!!
Si manusia babi menguik emosi karena sasarannya luput. Sedangkan Hadi lintang pukang berupaya menjauh dari situ. Susah payah dia berlari, hingga terpeleset berkali-kali sebab menginjak tanah becek. Sekujur badannya bermandikan air hujan disertai lumpur yang menempel.
Sementara si makhluk tak rela buruannya lepas. Ia menghambur kembali mengejar Hadi yang telah mencapai hutan. Gerakannya bahkan termasuk cepat mengingat ukuran badan dia yang bongsor kelewat batas.
Dua kaki Hadi terus melaju. Ia berlari tunggang langgang menembus lebatnya hutan belantara. Tak terhitung berapa banyak sayatan dan luka di tubuh akibat menerobos semak belukar yang tajam berduri.
Selain itu, rasa perih dari perkelahiannya dengan Risma masih belum juga hilang. Namun ia tak mau merisaukan. Sakit-sakit tersebut akan tak sebanding jika ia sampai tertangkap oleh babi yang tengah memburunya di belakang sana.
Hadi telah berlari sejauh mungkin tanpa henti. Nafasnya sendiri mulai tersengal-sengal minta diistirahatkan. Ia melangkah sempoyongan hingga nyaris ambruk. Bila ia tidak berhenti, jantungnya bisa-bisa copot. Pada suatu titik ia menepi sejenak demi mengatur pernafasannya yang telah goyah.
Hadi bersandar ke salah satu pohon di dekatnya. Rasanya lelah luar biasa, sampai-sampai detak di jantungnya berdebar tak karu-karuan. Entah sudah berapa lama ia lari. Waktu seperti terhenti, hingga detik ini pun langit di atas belum menunjukkan tanda-tanda bahwa malam akan berakhir.
Di sisi lain, Hadi sangat mencemaskan Risma. Entah apa yang akan mereka lalukan, yang pasti nyawa anak itu terancam jika tak segera diselamatkan.
Hujan mereda menyisakan gerimis-gerimis kecil yang menyirami bumi.
Hal ini membuat Hadi dapat melihat lebih mudah dibanding sebelumnya. Dia memperhatikan sekeliling dengan seksama, lalu tersentak menyadari sesuatu.
Hadi tahu betul lokasi ini.
Pohon-pohon rendah serta rerumputan terpangkas menandakan ia hampir menjangkau wilayah kebun milik penduduk kampung. Bahkan dirinya sering kali melewati jalan ini bila mencari kayu bakar atau pun ikut bapak ke kebun. Sungguh tak terduga, pada akhirnya ia berhasil keluar dari belantara tak dikenal tersebut.
Sekarang ia hanya tinggal mengikuti jalur agar tiba di kampung di mana rumahnya berada. Hadi sangat bersyukur, perjalanan pulang benar-benar sudah di depan mata.
Tapi, seharusnya ia tak terlalu cepat senang.
Mendadak bunyi berdebum keras terdengar sangat jelas di kupingnya. Hadi sontak terperanjat, suara langkah itu semakin dekat dan kian mendekat. Si manusia kepala babi menyeruak muncul entah dari mana, seraya menyorongkan kepala hendak menyeruduk Hadi.
BRUUAKKKK....
Beberapa pohon kecil di situ seketika tumbang akibat ditabrak si makhluk.
"NGOOOOKKKKKKKHHHH....."
Sosok itu marah besar, ia kesal serangannya luput lagi dari sasaran. Sementara itu lutut Hadi gemetar hebat. Nyawanya serasa di ujung tanduk. Untungnya ia masih sempat menghindari tabrakan maut barusan.
Mara bahaya ternyata masih mengintai. Sepertinya tak mungkin dia bisa lolos dari semua mimpi buruk ini.
"AAAAAKKKHHHHHH...."
Hadi memekik, meluapkan emosi di dada.
Si makhluk besar kembali menyerbu. Memburu Hadi yang berlari bagai kesetanan.
Dalam pelarian, Hadi meneteskan air mata. Ini tangisannya yang pertama semenjak semua teror ini bermula.
Jujur saja, ia sudah tak sanggup lagi melangkah lebih jauh. Tulang-tulang di kaki serasa mau patah, nafasnya pun mungkin akan putus sebentar lagi. Lelah ini tak dapat lagi dikompromi. Dan sepertinya ia akan menyerah.
Di tengah-tengah keputusasaan, ia melihat sejumlah cahaya terang dari kejauhan. Bersamaan dengan itu terdengar pula suara orang-orang berteriak memanggil-manggil namanya.
"HADIIII..."
"HADIIIIII...."
"DI MANA KAU....."
"HADIIIIIII...HADIIIIII...."
******