CeritaGW
Buku / Bab
Bab 051.334 kata

Bab V : Selubung Yang Tersibak

IO

Indra One

Selubung Perangkap

Mulai membaca

Hadi membelalak demi melihat apa yang tengah disantap Risma. Nasi beserta berbagai macam lauknya berganti menjadi tumpukan-tumpukan lumpur berbau busuk. Pada permukaannya terdapat beronggok-onggok cacing menggeliat-geliat menjijikkan.

Bukan cuma itu, sejumlah potongan daging masak yang sebelumnya menggugah selera telah menjadi setumpukan bangkai dari hewan-hewan seperti tikus, ular, ayam bahkan kepala kerbau. Sekumpulan makhluk-makhluk kecil macam belatung, kecoa dan kelabang merayap-rayap pada bangkai-bangkai tersebut. Aromanya teramat busuk hingga tak pelak Hadi memuntahkan seluruh isi perutnya saat itu juga.

Ajaib, Risma masih tetap makan tanpa menyadari perubahan yang sedang terjadi. Dengan rakus ia menjejali mulut dengan makanan-makanan busuk tadi, hingga sisa-sisanya menempel berlepotan di sekujur wajah. Beberapa ekor belatung merayap di sekitar mulut Risma, sementara di bibir menjuntai cacing-cacing yang belum ditelan habis. Lidahnya menyapu ludes hewan-hewan tersebut lalu dikunyah dan ditelan tanpa sisa.

Hadi terpojok entah mesti melakukan apa. Bukannya membantu, Bibi pemilik rumah malah terkikik nyaring kegirangan.

"ENAK, KANNN? NIKMAT BUKANN? HABISKAN MAKANMU, NAK! HABISKAN SEMUANYAAA! HIHIHIHIHIIIIII......"

Suhu ruangan mendadak turun drastis, begitu dingin dan mencekam. Bau anyir tak sedap semakin menusuk penciuman. Selain itu, suara gaduh di kolong rumah semakin menjadi-jadi. Makhluk di situ sepertinya sedang marah, benturan demi benturan yang ia buat makin lama justru semakin keras.

NGGOOOOKKKK... BRAAKKKKK....NGOOOKKKK...BRAAAKKKKK....

Rumah pun ikut bergetar seiring benturan. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu sampai rumah ini benar-benar roboh.

Hadi mengguncang-guncang Risma memaksanya segera sadar.

"RISMA, SADAR! KITA HARUS PERGI SEKARANG!! RISMAAA!!"

Percuma. Risma masih fokus dengan makanannya. Kali ini ia tengah menikmati sepasang bola mata yang dicungkil dari kepala kerbau yang membusuk. Sama sekali dirinya tak memedulikan teriakan Hadi. Tatapan Risma kosong, persis korban hipnotis.

"Mau pergi ke mana kalian? Belum sadarkah kau bahwa semuanya sudah terlambat?", kata Bibi.

"Terlambat? Maksud Bibi apa?", tanya Hadi, cemas.

Bibir Bibi tersungging lebar.

"Manusia mana pun yang telah makan jamuannya, maka dia akan menjadi milik kami seutuhnya! Kikikikikkkkkk....", serunya, sambil mengikik.

Wajah Hadi memucat.

Ingatannya bergulir ke masa ia kecil. Dahulu di kampungnya pernah terdengar mitos tentang setan penculik manusia yang bersemayam jauh di dalam hutan. Kisah ini beredar dari mulut ke mulut, tanpa satu pun bukti konkret yang menunjukkan waktu dan kapan pernah terjadi. Seiring Hadi tumbuh, cerita tersebut hanya jadi dongeng buat menakuti anak-anak biar tidak terlalu nakal.

Tapi Hadi memang sudah curiga sejak awal menginjak tanah ini, firasat buruk terus menghinggapi. Sekarang dia dan Risma malah terperangkap dalam jebakan si Bibi misterius. Namun belum terlambat buat melarikan diri, karena Hadi tidak dalam pengaruh apa pun. Ia memberanikan diri buat menantang.

"KAU APAKAN RISMA, HAHH? LEPASKAN DIA! BIARKAN KAMI PERGI!!", bentak Hadi, nekat.

Bibi menyeringai seram.

"Lepaskan katamu? Setelah dia makan semua hidanganku? Salahmu sendiri, siapa suruh mampir ke rumahku! Hihihihihiiii....."

Tawanya bikin merinding sebadan-badan. Entah manusia jenis mana yang bisa tertawa semengerikan itu.

"Takkan kubiarkan seekor pun mangsa lolos dari jeratanku"

Tanpa diduga, perlahan-lahan Bibi berubah wujud menjadi sosok yang menakutkan. Mulutnya menganga begitu lebar, memamerkan sederet gigi-gigi hitam yang hancur membusuk. Kulit di wajahnya keriput dan mengelupas, demikian juga pada kedua lengan yang dipenuhi dengan borok serta koreng bernanah campur darah. Sedangkan rambut panjangnya tergerai awut-awutan hingga menyeret ke lantai. Sementara dari jari-jarinya mencuat kuku-kuku runcing nan panjang.

Sosok Bibi yang telah berganti secara utuh berdiri tegak di hadapan Hadi. Mata tajamnya melotot melempar senyum kejam yang mengancam jiwa. Penampilan itu mengingatkan Hadi dengan hantu kuntilanak yang pernah ia tonton di layar tancap. Kecuali yang ini bentuknya sangat hancur dan jauh lebih menyeramkan.

Badan Hadi gemetaran. Lututnya bergetar hebat, apalagi saat Bibi dengan wujud barunya mulai maju mendekat. Tangan penuh borok itu menjulur seraya terkikik melihat calon mangsa yang sudah tak berdaya.

KIK KIK KIK KIK KIKK...

Namun sebenarnya Hadi bukan anak yang lemah. Dia cukup menguasai ilmu bela diri. Dalam kondisi setakut apa pun, ia masih dapat melakukan perlawanan.

Hadi menendang teko yang posisinya terjangkau kaki, hingga teko tersebut terbang dan mendarat di kepala Bibi. Teko dari tanah liat itu pecah berderai tepat mengenai pelipisnya. Bibi sempat terhenti sejenak, tapi sayang, tak tampak sedikit pun tanda-tanda luka usai dihantam teko barusan. Wanita tersebut malah tertawa lantang mengejek.

HEHEHEHEHEHEHEHHHHHHEEEE.....

Di tengah-tengah kekacauan, Risma masih disibukkan dengan makanan. Hadi pikir sangat tidak memungkinkan untuk membawa dia turut serta. Terpaksa ia pergi sendiri, namun akan kembali menjemput bersama bantuan jika berhasil selamat.

"Maafkan aku, Risma. Aku janji pasti akan kembali buat menolongmu", gumamnya, dengan perasaan goyah.

Hadi menuju pintu rumah dan hendak membukanya. Tapi, pintu itu terkunci dan sulit dibuka. Tanpa pikir dua kali, ia menendangnya sekuat tenaga hingga pintu terkutuk itu terdobrak keras. Baru saja kakinya menyentuh teras, seseorang telah mendekap dia erat-erat dari belakang.

Ternyata Risma. Matanya mendelik dingin pada Hadi, seolah siap membunuh.

Saat Hadi berontak agar dilepaskan, sekonyong-konyong gadis itu membanting dengan kekuatan bak seorang pegulat sehingga tubuh Hadi terhempas keras.

BWAKKKKKK!!

"AAAAHRRGGGGHHH......"

Hadi meraung kesakitan. Kuatnya bantingan barusan bahkan membuat lantai papan jebol. Tulang-tulang Hadi serasa mau patah. Entah bagaimana gadis sekurus Risma bisa memiliki tenaga sekuat itu.

"JANGAN SAMPAI DIA LOLOS DARI SINI! BUNUH SAJA DIA!!", perintah Bibi selanjutnya.

Bagai kerbau yang hidungnya dicocok, Risma menurut. Ia melompat dan menerkam Hadi yang masih tergeletak. Cakaran dan pukulan menghunjam membabi buta mendarat di sekujur tubuh Hadi. Tak hanya itu, Risma juga tak segan menggigit jika serangannya ditangkis.

Terus terang Hadi belum siap menerima gempuran tersebut, ia hanya berusaha menghalau sebisa mungkin.

"JANGANNN, RISMAAAAA!!! BERHENTIIIII.....", pekik Hadi, memohon.

Namun, Risma tak peduli. Kupingnya sama sekali tak mendengar.

Kukunya berhasil menyabet pipi kanan Hadi, sedangkan tangannya yang lain menjambak rambut anak malang itu dengan tarikan kuat.

Hadi menggeram menahan nyeri. Ia pun melayangkan satu tendangan dan BUKK, Risma terpental mundur ke belakang saat kaki Hadi bersarang di lambungnya.

Hadi bangkit tertatih. Perih di kepala hingga badan membuat ia tak sanggup bergerak. Tapi Risma belum berhenti sampai di situ.

Ia meraih sebatang kayu alu yang bersandar di dinding, lalu menentengnya sambil menghampiri Hadi.

Risma berdiri dengan posisi tegak menghadap Hadi yang masih terkulai lemah. Kayu di genggaman siap dihantamkan. Begitu terayun, Hadi refleks menghindar.

Serangan tersebut menghancurkan lantai papan di mana Hadi berada barusan. Mungkin jika telat sedetik saja, kepalanya yang akan bocor.

Risma menyerang lagi. Ia mengibaskan alu tersebut ke sembarang arah, tujuannya agar mengenai sasaran. Susah payah Hadi mengelak, namun satu pukulan keras mendarat juga di bahu kirinya.

Emosi Hadi memuncak sehingga menjadi beringas. Ia nekat merangsek maju mencoba merampas benda sialan itu dari tangan Risma. Pada tahap ini, tenaga Risma mungkin sudah menyamai tiga pria dewasa. Tentu Hadi kalah kuat. Ia kewalahan mengimbangi gempuran demi gempuran.

Tiba-tiba saja Risma menendang, kali ini sasarannya tepat menusuk ke ulu hati. Punggung Hadi melengkung akibat nyeri tak terperih di perut.

"AAAAAHHHHKKKKHHH....", pekiknya, diikuti semburan muntah.

Hadi terkulai jatuh. Dari dalam rumah, terdengar lengkingan tawa kemenangan Bibi. Dua tangan Risma mengangkat alu di atas kepalanya, bersiap menghajar Hadi kembali.

Untung Hadi belum pingsan. Ia sadar apa yang akan diperbuat Risma. Batinnya berkata, "aku tak mau mati di sini..."

Dengan tangkas kaki kanannya membuat gerakan menyapu dan berhasil menyepak betis Risma hingga gadis itu jatuh terlentang. Buru-buru Hadi memungut alu yang lepas dari tangan Risma.

"Grrrmmmm..grrmmmm....", Risma menggeram emosi seraya bangkit hendak menerjang. Ia melompat ke arah Hadi, namun sayang langkahnya mesti berhenti usai digebuk Hadi menggunakan alu yang tadi dijadikan senjata oleh dia.

BAAAKKKK!

Risma memegang kepalanya yang melelehkan darah, tubuhnya oleng lalu jatuh pingsan. Hadi mundur perlahan, ia melempar benda ditangannya jauh-jauh. Penyesalan menyergap setelah melukai sepupunya sendiri. Namun tak ada pilihan lain. Ia hanya mencoba melindungi diri sendiri.

Kekalahan Risma membuat Bibi murka.

Giliran dia maju menyerang. Kedua tangannya hendak menerkam Hadi, namun anak itu sukses mengelak. Ia mundur ke belakang, sialnya malah tersandung tubuh Risma yang tergolek begitu saja di lantai. Alhasil Hadi terguling-guling di tangga dan meluncur ke bawah rumah. Keningnya membentur batu usai mendarat di tanah. Darah mengucur dari luka, kepalanya jadi pening. Pandangannya sesaat ikut mengabur.

Gerimis masih membasahi malam yang teramat panjang.

Hadi telah berada di luar rumah. Namun, ia tak dapat melihat dengan leluasa. Disekanya wajah dari cipratan tanah dan air hujan supaya penglihatannya membaik. Di sini ia menyaksikan suatu pemandangan lain yang tak kalah mengejutkan.

******

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 05 / 5
Selubung Perangkap
04

Bab IV : Jamuan

1.080 kata / Tersedia

05

Bab V : Selubung Yang Tersibak

1.334 kata / Sedang dibaca