Indra One
Selubung Perangkap
Mulai membaca
Kawasan itu menjadi riuh dengan bunyi-bunyian dari kentungan yang dipukul terus menerus oleh warga desa. Tidak hanya kentung tadi, sebagian orang bahkan membawa panci serta wajan.
Mereka memukul-mukul perkakas dapur dengan keyakinan suaranya dapat membantu mengembalikan orang hilang. Bunyi berisik panci-panci berkelontang terdengar jelas di telinga Hadi.
TANG TANG TANG TANG TANG TANG....
Di belakang sana tiba-tiba saja si manusia babi tersungkur tanpa sebab. Hadi menoleh, menyaksikan secara langsung makhluk tersebut tengah berguling-guling seraya mencengkeram kepalanya sendiri. Tubuh bongsornya ikut meronta-ronta tak terkendali.
"GRRRROOOOHHHH....GRROOOHHHHH....."
Dia melolong kesakitan, lalu menghentak-hentakkan kepala ke tanah secara brutal.
Hadi paham yang terjadi. Makhluk tersebut ternyata lemah terhadap bunyi gaduh yang berasal dari sana. Bahkan kuping lebarnya pun tak tahan mendengar suara yang kelewat berisik.
Si sosok babi mengerang panjang usai menghajar sendiri kepalanya. Darah hitam pekat mengucur dari luka yang menganga. Cairan yang sama juga mengalir lewat moncong besar di wajahnya yang lebar. Tak lama, ia bangkit tertatih-tatih lalu berjalan sempoyongan. Kemudian dia kembali memasuki hutan hingga akhirnya menghilang ditelan kegelapan.
Untuk sesaat Hadi bernafas lega. Ancaman itu telah pergi. Namun dirinya belum merasa benar-benar aman jika tidak segera menemui orang-orang di sana. Ia berlari sekencang-kencangnya seraya berteriak-teriak lantang.
"AKU DI SINI! TOLONG....AKU DI SINI...."
Hadi terengah-engah, mungkin tak lama ia akan pingsan. Tinggal sedikit lagi jarak antara dia dan rombongan tersebut.
"PUJI TUHAN! HADIII....ITU HADIII....", pekik seseorang.
Anak itu pun tergolek lunglai di hadapan penduduk yang langsung mengerumuni. Bapak Hadi muncul, lalu mendekap putranya yang lemas kehabisan tenaga. Ia terpana tak percaya melihat kondisinya. Ya, sekujur badan Hadi bukan cuma kotor dan basah, tapi juga dipenuhi luka-luka yang cukup parah.
Bapak menangis haru, penduduk kampung yang membantu pencarian Hadi juga ikut bahagia. Mereka bersyukur akhirnya bocah itu berhasil ditemukan setelah lama menelusuri hutan.
"Ke mana saja kau, nak? Semalaman kami mencarimu ke sana sini. Tapi tiba-tiba saja kau nongol sendiri", ucap Bapak.
Mendadak Hadi mengingat sesuatu yang masih tertinggal. Seseorang yang mesti diselamatkan dari belantara di sana.
"RISMA, PAK! DIA MASIH DI DALAM HUTAN! KITA HARUS MENOLONG RISMA SEKARANG JUGA, PAK!", seru Hadi, panik.
Bapak bingung, "Risma? Kenapa Risma?".
Secara singkat Hadi mengulang peristiwa demi peristiwa yang menimpa mereka berdua. Bapak dan warga lain saling berpandangan. Semua orang yang ada di situ terlihat tak mengerti.
"KALAU KITA TIDAK MENOLONGNYA SEKARANG, DIA BISA MATI, PAK!", paksa Hadi lagi.
Bapak berusaha menenangkan anaknya yang makin meracau.
"Kita pulang dulu ke rumah. Sebaiknya kau tenangkan diri terlebih dahulu. Ibumu sudah cemas menanti kau tak kunjung pulang", bujuk beliau dengan lembut.
Tapi Hadi tetap ngotot. Ia menuntut mereka supaya mencari Risma saat itu juga.
"TAPI AKU SUDAH JANJI AKAN MENJEMPUTNYA! BAPAK, TOLONGLAH...", raung Hadi, seraya tersedu-sedu.
Ia terkulai pasrah. Rasa bersalah yang teramat dalam menusuk ke jantung. Semestinya aku membawa Risma pulang bersama-sama, batin Hadi. Namun ia tak punya pilihan lain sewaktu manusia babi mulai memburu. Seharusnya semua berjalan sesuai yang direncanakan.
Hadi terisak-isak penuh penyesalan. Kemudian Bapak bersama beberapa warga menggotong dia yang tak sanggup lagi berjalan. Bocah lelaki itu pun dibawa pulang. Sepanjang jalan ia menangis seraya menyebut-nyebut nama Risma.
******
Rumah sederhana yang ditempati keluarga Hadi ramai oleh sanak saudara dan tetangga yang berkumpul. Kabar menghilangnya anak itu telah tersebar luas hingga ke kampung sebelah.
Hampir semua orang dewasa turut berperan serta dalam operasi pencarian Hadi. Penelusuran dimulai sekitar pukul tujuh malam hingga menjelang pukul tiga pagi, bertepatan dengan waktu di mana Hadi ditemukan.
Kedatangan rombongan yang mengantar Hadi pulang disambut tangis histeris oleh sang ibu. Perempuan itu mendekap erat-erat anak kesayangannya seolah lama tak berjumpa. Seorang petugas puskesmas masuk dan langsung memeriksa kondisi kesehatan Hadi.
"Ibu, Risma masih di sana. Aku tak bisa membawa dia pulang. Kita harus menyelamatkan dia...", tukas Hadi, lemah.
Ibu jadi ikutan bingung.
"Hah? Risma?", tanya seorang wanita di sebelah Ibu.
"Maafkan aku, Bi. Kami tadinya bersama-sama di dalam hutan, tapi..tapi..dia ditangkap..."
Lagi-lagi Hadi terisak pilu.
Wanita tadi yang merupakan ibu Risma sendiri, melongo tak paham. Seisi ruangan mendadak jadi riuh rendah.
"Ngomong apa sih kau ini?"
Kesabaran Hadi habis. Emosinya meledak sebab tak satu pun yang mau menanggapi dengan serius.
Namun matanya membelalak lebar ketika di balik kerumunan ia mendapati seseorang.
"RIS-RIS-RISMA...?", ucap Hadi terbata-bata. Bibirnya gemetar, seraya menunjuk ke mana Risma berada. Sulit dipercaya namun nyatanya gadis itu sungguh-sungguh ada di situ.
"Syukurlah kau berhasil keluar dari sana..."
Tangis si bocah pecah lagi.
Risma mendekati Hadi dengan cemas lalu menatapnya lekat-lekat. Dia turut prihatin melihat kondisi Hadi yang babak belur. Sementara tak seorang pun yang mengetahui apa yang terjadi pada anak ini sebenarnya.
"Senang sekali kau kembali dengan selamat. Hebat juga kau, Ris bisa pulang duluan sebelum aku. Hehehe...", Hadi tertawa lemah.
"Maksudmu apa, sih? Sedari tadi aku tidak ke mana-mana, tahu!", tukas Risma. "Malahan sejak kau hilang, aku sudah di sini buat menemani ibumu!", tambahnya.
Hadi berusaha mencerna kalimat Risma barusan. Seperti ada yang tak beres di sini, pikirnya.
"A-aku tak mengerti. Bukannya kau pingsan di hutan itu? Bagaimana caranya kau lolos dari sana?"
Kening Risma berkerut, "Hah?"
Sementara petugas puskesmas tadi memberi saran ke Bapak agar Hadi lekas diperiksa ke rumah sakit di kota. Ia kuatir anak itu mengalami syok atau suatu trauma yang hebat hingga mentalnya terganggu.
Risma sendiri masih beradu argumen menolak semua yang disebut oleh Hadi.
"Bagaimana aku bisa masuk ke hutan? Sedangkan aku sama sekali tak beranjak dari rumah ini. Kau tanya sendiri ibumu, tuh!", tunjuk Risma.
Hadi tetap bersikeras dengan ceritanya.
"Jangan membantah aku, Ris! Sudah jelas kita tersesat sama-sama di hutan entah apalah namanya! Dan kau makan semua hidangan itu, lalu kita berdua berkelahi dan kau pingsan..", jelasnya, mengingat satu persatu kejadian menakutkan tersebut.
Risma naik pitam.
"Melantur saja kau ini! Kutegaskan sekali lagi, ya! Hampir semalaman aku di sini dan tidak pernah pergi jauh ke mana pun, apalagi masuk ke hutan seperti yang kau bilang!"
Menurut Hadi ini sangat tak masuk akal. Pasti Risma hanya bercanda. Tapi bercandanya tidak lucu, karena membuat dia seperti orang tolol. Mana mungkin ada dua Risma dalam satu waktu.
"Bukankah aku menyusulmu di belakang sekolah sore tadi. Masa kau tidak ingat?", tanyanya lagi.
Risma menepuk jidat sendiri.
"Astaga, Hadi. Justru aku yang menyusuli kau ke situ buat mengajakmu pulang. Kulihat kau pergi ke belakang gedung sehabis kita main bola. Bahkan kupanggil berkali-kali tapi kau tak menyahut. Ya sudah kubiarkan saja. Soalnya aku takut hari keburu hujan", terangnya, panjang lebar. "Kupikir kau akan pulang sendiri nanti, eh ternyata kau malah hilang!"
Mendengar penuturan barusan, Hadi terhenyak seketika
"Itu benar, nak", tukas Bapak. "Risma sendiri yang memberi tahu lokasi terakhir kau terlihat. Nyaris satu hutan kami jelajahi buat mencarimu. Bapak hampir saja putus asa karena kau belum diketemukan".
"Jangan dipikirkan lagi yang terjadi di sana. Yang penting sekarang kau sudah pulang dengan selamat".
Ibu mengangguk setuju sambil berlinang air mata.
Lidah Hadi kelu.
Sejujurnya ia sama sekali tak mengerti entah apa yang terjadi. Hatinya bingung bagaimana menjelaskan semua peristiwa mengerikan yang terjadi sepanjang malam ini agar orang-orang percaya.
Rumah kayu itu, Bibi kuntilanak hingga suaminya yang menyerupai babi, serta Risma. Semua hal tersebut masih segar dalam ingatan. Mungkin dia cuma bermimpi, tapi detailnya terlalu nyata jika dianggap hanya mimpi belaka.
Kepala Hadi menengadah.
Tatapannya menangkap pergerakan sesuatu di langit-langit rumah. Serangga kecil itu melayang-layang ringan di atas sana.
Capung yang Hadi lihat sebelumnya pada rumah di tengah hutan tampak terbang meliuk-liuk bagai menari-nari seolah menertawakan dirinya.
Usai berputar-putar beberapa saat, capung itu terbang tinggi hingga mencapai bubungan. Kemudian dalam sekali kejapan, ia menghilang entah ke mana.
* Selesai *