CeritaGW
Buku / Bab
Bab 041.080 kata

Bab IV : Jamuan

IO

Indra One

Selubung Perangkap

Mulai membaca

Mulut Hadi tak sabar ingin memaki, tapi Risma keburu beralasan.

"Dalam kondisi darurat begini, harusnya kau melupakan ego dan gengsimu, Di!", ujarnya, cuek.

"Kau kira di luar sana tersedia makanan buat kita? Jika aku mati kelaparan, kau mau tanggung jawab?"

Hadi mengibaskan tangan, tanda ia telah muak.

"Hahhh, terserah kau sajalah! Aku sudah capek!"

Tak hanya fisik, mental Hadi juga ikut lelah sepanjang malam ini. Punggungnya bersandar lemah pada dinding, rasanya ingin memejamkan mata tapi kuatir terjadi sesuatu jika ia tertidur. Berkebalikan dengan Risma yang santai sambil bersenandung pelan.

Hadi mengamati tiap-tiap sudut ruangan di sekitarnya. Rumah ini sebenarnya biasa saja, mirip dengan kebanyakan rumah penduduk di kampung. Namun entah kenapa batinnya membisikkan ada yang tak beres mendiami rumah tersebut.

Mata Hadi tertuju pada langit-langit rumah yang tinggi di atas sana. Pada salah satu sudut, ia melihat seekor capung sedang melayang perlahan. Ia perhatikan dengan seksama, kemudian menyadari terdapat kejanggalan pada hewan kecil tersebut.

Ukuran serangga itu sedikit lebih besar dari capung yang biasa Hadi lihat. Warnanya pun agak terang mencolok sehingga dari jarak sejauh ini pun masih dapat disaksikan lumayan jelas. Lantas ia teringat cerita Risma sebelum mereka tersesat sejauh ini.

"Apa mungkin capung itu yang diikuti Risma? Kenapa bisa ada di sini?", pikir Hadi.

Hewan itu berputar-putar sejenak mengitari langit-langit kemudian dari suatu celah, ia pun terbang keluar.

Hadi termenung seiring berlalunya capung tersebut. Namun beberapa detik kemudian, ia terlonjak kaget setengah mati ketika tiba-tiba terjadi benturan keras menghantam bagian bawah rumah.

BRRRAKKKKK!!!!

Risma juga terperanjat. Hadi langsung cemas, jantungnya nyaris copot.

"Apa, tuh?"

Dinding rumah sempat bergetar akibat benturan barusan. Air putih di dalam gelas yang belum diminum ikut tumpah. Muncul suara aneh yang terdengar dari kolong rumah.

Ngooookkkkkk.....

Ngoooookkkkk.....

Hadi siap-siap mengambil langkah seribu, tapi Risma malah terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah sepupunya.

"Tenang, Di. Itu cuma babi. Hahahaha...."

"Ba-babi? Maksudmu babi sungguhan?"

"Ya iyalah! Masa babi jadi-jadian!", jawab Risma, masih ketawa melihat Hadi yang pucat ketakutan.

"Dari mana kau tahu itu babi?", tanya Hadi lagi, masih penasaran.

"Hemmm, pakai nanya lagi. Memang biasanya babi peliharaan ditaruh di kolong rumah oleh yang punya. Setahuku orang-orang di kampung kita juga begitu", jelas Risma, sok tahu.

"Hah? Masa sih? Memangnya ada orang yang piara babi di kampung? Kok aku tak pernah lihat?".

Risma menjawab ketus, "Hanya karena kau tak pernah lihat bukan berarti tidak ada, bego!"

Hadi terdiam, enggan lanjut berdebat.

Penjelasan Risma tak berarti apa-apa, jantungnya tetap saja masih berdebar. Ia mencoba membujuk Risma sekali lagi supaya minggat dari situ.

"Dengarkan, Ris. Lebih baik kita pergi sekarang. Ada sesuatu yang sedang mengintai kita di rumah ini..", ajaknya, sambil memegang lengan Risma.

Kening Risma mengerut, ditepisnya tangan Hadi.

"Kau ini memang sudah gila! Kau dan aku akan baik-baik saja selama masih berada di dalam sini. Heran, kau malah ngotot memaksaku buat keluar!", sergahnya.

"Aku belum dapat menjelaskan sekarang. Tapi percayalah, firasatku tak pernah keliru. Ada bahaya terselubung di sini..."

Risma naik pitam, emosi karena santainya terusik.

"Sudahlah, Hadi! Aku capek mendengarmu sedari tadi! Kalau mengoceh sekali lagi, jangan salahkan aku jika kau kutendang ke luar sana!", ancamnya.

Tirai pintu tersibak, si Bibi tuan rumah muncul dari dapur. Dua tangannya membawa nampan berisi penuh masakan siap santap.

"Kenapa ribut-ribut?", tanya dia, lembut.

"Oh, tidak ada apa-apa, Bi. Sepupu saya ini kadang suka kambuh gilanya", jawab Risma, sambil melirik bengis pada Hadi.

Bibi tertawa kecil.

"Begitu, ya. Nah berhubung masakannya sudah selesai, silakan kalian makan. Jangan sungkan-sungkan, ambil saja semaunya!", suruh Bibi, ramah.

Air liur Risma nyaris menetes dari sudut bibir demi melihat hidangan lezat tersaji di depan matanya. Wangi aroma pandan tercium dari bakul nasi yang masih mengepul hangat. Tersedia juga pelengkap berupa aneka lauk pauk dari jenis daging dan sayuran favorit Risma. Semuanya menggoda selera hingga terlalu rugi bila tidak dicicipi. Dan tak ketinggalan juga sepoci teh melati hangat untuk menemani makan malam mereka.

Harus diakui, Bibi memang tuan rumah yang sangat perhatian pada tamu. Ia rela menyiapkan itu semua buat kedua anak yang bahkan tak dikenalnya sama sekali.

Risma berdecak kagum. Bahkan jarang sekali ibunya masak sebanyak ini di rumah. Apalagi usai berjam-jam lamanya menahan lapar, kini ia bisa makan enak sepuasnya.

"Ayo, silakan mumpung masih hangat".

Tanpa perlu disuruh dua kali, Risma meraih piring lalu menyendok nasi plus lauknya dalam jumlah besar. Tapi, Hadi malah menghentikan.

"Apa-apaan sih kau ini?", protes Risma.

"Jangan dimakan!", desis Hadi.

"Memangnya kenapa? Mengganggu saja kau!"

Risma marah, lalu mendorong Hadi agar menjauh. Tanpa sungkan dan ragu, gadis itu mulai menyantap hidangan tersebut. Sedang Hadi belum mau menyentuh barang secuil pun.

Bibi bertanya heran, " Kok tidak dimakan? Kamu tak suka masakan yang Bibi sajikan?".

Hadi terdiam kaku. Wajahnya tegang antara takut dan malu.

"Atau bagaimana kalau Bibi buatkan sesuatu yang kamu mau? Bilang saja, nanti akan Bibi siapkan buatmu".

Rasanya Risma sudah tak tahan lagi ingin menendang Hadi sekuat-kuatnya. Bahu bocah lelaki itu ia cengkeram keras, lalu berbisik di telinga Hadi dengan penuh amarah.

"Kalau kau tak mau makan, sama saja kau tak menghargai tuan rumah. Semestinya kau berterima kasih, bukan diam saja kayak orang bisu. Kau itu cuma disuruh makan tapi malah sok jual mahal!", geramnya.

"Dengar, ini peringatan terakhir! Jika kau masih berniat pergi, aku tak akan melarang. Lebih baik aku tidur di sini ketimbang tidur di bawah pohon!"

Hadi tak berkutik. Sudah tabiat Risma yang terlalu keras kepala dan sulit diajak kompromi.

Kemudian, Risma mencomot sepotong paha ayam dari piring saji. Dengan santai ia mengunyah perlahan menghayati rasa di lidah.

"Enaknya. Pandai sekali Bibi masak", pujinya.

Bibi tersenyum senang masakannya disanjung.

"Hihi. Bisa saja kamu. Nah, makanlah yang banyak sampai kau kenyang, ya!", ucapnya.

Risma jadi kalap. Seluruh menu di hadapannya disikat tanpa kecuali. Bahkan cara makannya pun jadi tak beradab, tak tahu tata krama. Brutal dan rakus persis babi yang kelaparan.

"Mmmmmpphhhh....mmmmppphhhh...", mulutnya menggumam tak jelas akibat dijejali makanan.

Hadi terpana menyaksikan tingkah Risma yang tidak sepantasnya. Ini sudah keterlaluan. Tidak selayaknya ia makan menyerupai cara seekor binatang.

"STOP! RISMA! HEIII!! RISMAAA!!", bentak Hadi berusaha menghentikan sepupunya. Diguncang-guncangnya badan Risma supaya lekas sadar.

Tapi anak perempuan itu tak merespon. Seolah terpengaruh oleh sesuatu. Dua tangannya meraup makanan ke piring-piring lalu menyuapi mulutnya sendiri secara brutal.

"Kau harus mencicipi juga, Di. Sayang sekali kau menolak. Tap tak masalah sih, aku sendiri bisa menghabiskan semuanya", ucapnya, datar. Isi perut Hadi jadi penuh, melihat Risma makan tak beraturan menyebabkan dia mual.

Tanpa diduga, seluruh hidangan di hadapan mereka mendadak berubah begitu saja. Bentuknya menjadi tak nyaman dipandang dan sangat menjijikkan. Hadi ternganga, buru-buru menutup mulutnya menahan muntah yang hampir tumpah.

******

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 04 / 4
Selubung Perangkap
03

Bab III : Rumah di Belantara

1.203 kata / Tersedia

04

Bab IV : Jamuan

1.080 kata / Sedang dibaca