Indra One
Selubung Perangkap
Mulai membaca
Namun ditunggu-tunggu, hujan tak kunjung juga berhenti. Di langit, kilat sesekali menyambar. Suasana ikut mencekam, kegelapan malam membawa hawa angker yang membuat berdiri bulu roma.
Risma merapatkan diri ke bahu Hadi ketika suara-suara hewan malam terdengar dari setiap penjuru. Bunyi-bunyian tersebut saling bersahutan, seakan memberi pertanda bakal terjadi suatu peristiwa buruk.
Dalam diamnya, Hadi bergidik ngeri. Sedangkan Risma terisak pelan.
"Aku mau pulang...", lirihnya.
Hadi tak menanggapi. Menangis sampai matamu bengkak pun bukannya selesai masalah kita, pikirnya. Lalu, tangis Risma berhenti ketika ia melihat sesuatu di depan sana.
"Ada apa, Ris?"
Telunjuk Risma mengarah ke satu titik jauh di depan. "Sepertinya aku lihat ada sinar dari sebelah sana", ucap dia.
"Mana?", tanya Hadi sambil memperhatikan baik-baik arah yang ditunjuk.
"Itu seperti cahaya dari api obor, bukan? Artinya ada rumah orang di sana", terka Risma, mulai kembali semangat.
"Hah? Mana mungkin di tengah hutan belantara begini ada rumah. Pasti kau cuma salah lihat!", sanggah Hadi, tak yakin.
Risma memaksanya melihat sekali lagi. Dan ternyata benar. Nampak seberkas sinar dari kejauhan. Tapi Hadi masih ragu.
"Itu rumah benaran?"
"Bisa kita pastikan kalau kau dan aku pergi melihatnya secara langsung", sahut Risma, penuh percaya diri.
Hadi menolak ide Risma mentah-mentah. Alasannya jarak menuju rumah tersebut terlampau jauh dan mustahil dijangkau dengan mudah dalam kondisi gelap dan hujan.
"Menurutku, sebaiknya kita tunggu saja dulu di sini. Siapa tahu ada warga kampung yang sedang mencari kita".
Giliran Risma yang tak setuju.
"Aku tak mau menunggu tanpa kepastian. Aku sudah lelah dan lapar. Kalau kita datangi rumah itu, mungkin orangnya bisa membantu. Saat ini kita perlu tempat untuk beristirahat, syukur-syukur kalau ada yang ngasih makanan" jelasnya.
Hadi belum mau bergerak padahal Risma sudah berusaha membujuk. Sampai gadis itu dongkol dan memutuskan pergi sendiri.
"Jangan, Risma! Berbahaya kalau kau sendirian! Kakimu juga masih terluka!", cegah Hadi.
"Terserah kau mau bilang apa! Yang jelas aku akan ke sana meskipun tanpa kau!", ungkap Risma, sambil beranjak pergi.
"Kau ini bisa sabar sebentar tidak, sih? Jangan terburu-buru! Risma!", panggil Hadi.
Tapi Risma tak peduli. Ia nekat walau mesti berjalan dengan kaki sebelah pincang. Hadi merutuk.
Terpaksa ia menyusul ke mana Risma pergi. Lagi pula sebenarnya ia juga enggan berteduh di bawah pohon tadi tanpa ada yang menemani.
Risma tersenyum sinis.
"Lho, kok ikut? Takut ya ditinggal sendiri?" sindirnya.
Muka Hadi cemberut. Ia juga sudah kelelahan, bahkan sejak sore tadi perutnya berbunyi minta diisi. Kerongkongannya juga kering kehausan. Cuma ia terlalu gengsi mengakuinya di depan Risma.
Kedua anak remaja tersebut menerobos semak belukar berusaha mencapai rumah tujuan mereka. Usai berjalan cukup lama, tibalah mereka di suatu lahan yang luas.
Di situ terdapat satu unit rumah kayu bergaya panggung. Bangunannya kecil dan terlihat sederhana. Sebatang obor yang menyala terpasang di dekat pintu masuk. Sinar dari obor inilah yang mengarahkan Hadi dan Risma hingga bisa sampai di lokasi tersebut.
Seperti biasa, Hadi memperhatikan lagi sekeliling sebelum melangkah lebih jauh. Cahaya obor membantunya melihat-lihat apa saja yang ada di sekitar.
Selain rumah panggung, terdapat juga beberapa petak kebun yang ditanami berbagai jenis tumbuhan dan sayur. Semuanya tampak terawat hingga berkesan asri. Pemiliknya pasti orang yang telaten dan rajin.
Hati Risma lega berhasil menemukan tempat tersebut.
"Akhirnya...", ia mendesah.
Tak mau membuang waktu, ia segera mengetuk pintu rumah seraya mengucapkan salam.
"Permisi, selamat malam..."
Berkali-kali pintu diketuk namun penghuninya belum kunjung muncul juga.
"Jangan-jangan rumah ini kosong", kata Hadi.
Risma mengintip ke dalam melalui celah kecil di dinding.
"Masa, sih? Tapi di dalam sana terang", jawabnya.
Tak lama, pintu kayu itu terbuka. Seorang wanita paruh baya menyembulkan kepala dari baliknya. Ia memperhatikan kedua bocah di hadapannya dengan waspada.
"Siapa kalian? Ada perlu apa malam buta begini datang ke mari?", tanyanya, penuh kecurigaan.
Tanpa canggung, Risma langsung berkata. "Selamat malam, Bibi. Maafkan kami sebelumnya jika mengganggu ketenangan Bibi. Saat ini kami berdua sangat mengharapkan pertolongan...".
Kemudian ia menjelaskan situasi yang tengah mereka alami dengan rinci. Untungnya Bibi pemilik rumah mau mendengarkan. Lambat laun ia jadi simpati dan bersedia untuk membantu.
"Malang sekali kalian berdua. Kalau memang begitu keadaannya, masuklah ke dalam rumah. Kalian pasti kedinginan sedari tadi. Di sini kalian bisa menghangatkan badan sambil beristirahat", tawar Bibi, ramah.
Risma menyambut dengan bahagia. Entah berapa puluh kali ia mengucap terima kasih hingga membungkuk-bungkuk.
"Hadi, yuk kita disuruh masuk tuh!", ajaknya.
Namun Hadi masih bergeming di luar. Ada yang mengganjal di hatinya tentang si tuan rumah. Dan Risma bisa menebak apa isi kepala bocah lelaki tersebut.
"Kau ini selalu saja berpikir negatif. Jangan begitu, dong! Aku tahu kau curiga dengan si Bibi itu, kan? Apa sih yang kau curigai? Dia itu orang baik, tahu!", tegur Risma, kesal.
"Perasaanku tidak enak saja...", ungkap Hadi.
Risma makin berang.
"Kuingatkan kau sekali lagi, ya! Tolong jaga sikapmu selama kita menumpang di sini. Jika dia sampai tersinggung, bisa-bisa kita berdua ditendang keluar dari rumah ini!", ancamnya, galak.
Mau tak mau Hadi mengikuti Risma masuk karena tangannya ditarik kuat-kuat.
Bagian dalam rumah tersebut ternyata cukup hangat serta nyaman. Walaupun hanya rumah kayu sederhana, tapi pemiliknya sangat menjaga kerapian dan kebersihan. Di sudut ruangan, satu buah lampu petromak kuno menyala menerangi seisi ruangan.
Mereka duduk di lantai yang dialasi anyaman daun rotan. Risma tampak lega dapat kembali santai usai tadi berjalan jauh. Sepertinya pun rasa sakit di kaki dia telah hilang.
Bibi datang lagi membawa sesuatu. Ia menyerahkan dua lembar handuk putih bersih.
"Pakai ini buat mengeringkan badan kalian".
Risma menerimanya seraya mengucapkan terima kasih untuk ke sekian kali, lalu menyeka rambut pendeknya yang basah. Hadi mengusap wajah dengan hati-hati. Aroma ganjil tercium samar ketika hidungnya menempel pada handuk tersebut. Ia jadi teringat bau khas kembang pekuburan di kampung. Ditaruhnya handuk itu di lantai, tak mau ia gunakan.
"Maafkan kami yang merepotkan ya, Bi. Kami sangat bersyukur sekali Bibi sudah mau menolong", tukas Risma, seraya mengembalikan handuk setelah ia pakai.
Si Bibi murah hati tertawa.
"Ah, tidak apa-apa. Bibi malah senang ada orang yang berkunjung ke sini. Biasanya rumah ini selalu sepi", sebutnya.
"Bibi tinggal sendiri?", tanya Risma, ingin tahu.
"Tidak. Bibi tinggal berdua di sini bersama suami. Tapi sekarang dia lagi pergi. Mungkin malam ini dia pulang".
Risma bertanya lagi dengan nada memelas.
"Tapi, tidak masalah kan jika kami berdua menumpang semalam saja di sini?", pintanya, berharap.
"Oh tentu. Tentu saja boleh. Kalian bebas mau menginap di sini sampai kapan pun. Bibi sama sekali tidak keberatan!", jawab Bibi dengan antusias.
Dan Risma tersenyum penuh kelegaan. Beda dengan Hadi yang masih menyimpan rasa resah.
"Tapi, ingat ya, Ris. Besok pagi-pagi sekali kita sudah harus pergi", bisik dia. Risma malah menanggapi dengan sinis.
"Takut amat kau ini!"
Bibi nampak bahagia sekali dengan kehadiran dua tamunya ini. Yang satunya cerewet sementara yang satu lagi pendiam tapi terlihat waspada.
"Oh iya, kalian pasti belum pada makan. Bagaimana kalau sekarang Bibi menyiapkan makanan buat kalian?", serunya.
Tawaran makan memang sesuatu yang paling dinanti Risma. Ia nyaris melonjak kegirangan.
"Kebetulan, Bi. Saya dan sepupu saya ini memang lagi kelaparan!", sahutnya tanpa lagi sungkan. Hadi melotot marah pada Risma tak sudi dirinya dibawa-bawa.
"Baiklah. Kalian duduk manis saja di sini dan tunggu sejenak sampai Bibi selesai masak, ya!"
Si Bibi yang baik berlalu menuju dapur, meninggalkan Risma yang senyum-senyum sendiri membayangkan bakal makan enak sebentar lagi. Sedangkan Hadi semakin jengah dengan kelakuan Risma yang makin ke sini malah semakin tak tahu diri.
******