Indra One
Selubung Perangkap
Mulai membaca
"Risma, kau sadar tidak?", seru Hadi.
"Sadar apa?"
"Jalan setapak yang tadinya di sini sekarang ke mana, ya?", tanya Hadi, bingung.
Pandangannya berputar ke sekeliling.
Risma ikut mencari jalan yang dimaksud Hadi.
"Hilang ke mana ya tuh jalan? Padahal aku melewatinya sewaktu ke sini..."
"Iya, ya. Seharusnya kan masih di dekat sini juga. Sekolahnya pun sekarang sudah tak kelihatan", tambah Risma, heran.
Dari sini, Hadi merasakan suatu kejanggalan.
Pohon-pohon berukuran besar nan kokoh mengelilingi sekitar mereka. Semak belukar setinggi dada orang dewasa terhampar sepanjang mata memandang.
Wilayah ini terlihat berbeda dengan yang sebelumnya. Dua anak tersebut seolah berpindah tempat, namun bagaimana bisa terjadi, Hadi masih belum mengetahui.
"Lalu, kita mesti pulang lewat jalan mana, Di?", tanya Risma dengan nada panik.
Sepertinya ia juga menyadari hal yang sama.
Hadi mencoba berpikir.
Melihat lingkungan sekitar yang sangat asing, ia ragu bakal menemukan jalan kembali dengan mudah.
Hatinya bertambah bimbang saat menatap mendung yang semakin menghitam.
Langit sepenuhnya tertutup oleh awan gelap. Waktu petang dipastikan akan tiba dalam beberapa menit lagi.
Dalam situasi ini, Hadi harus memastikan agar mereka dapat kembali sebelum malam datang.
"Kita tak bisa berdiam diri saja. Kita harus cari jalan keluar dari sini , Di!", tukas Risma.
"Iya, aku tahu. Tapi cari ke mana?"
"Kita terobos saja hutan ini! Siapa tahu ada rumah atau perkampungan di dalam sana", ucap Risma, yakin.
Hadi setuju dengan ide tersebut.
"Tak ada salahnya juga dicoba. Bisa saja yang dikatakan Risma memang benar", pikir dia.
Kemudian, keduanya mulai menyusuri hutan tak dikenal tersebut.
Sepanjang perjalanan, tak satu pun ditemukan tanda-tanda adanya manusia yang pernah melintasi wilayah itu. Semakin jauh berjalan, semakin dalam mereka terjerumus ke dalamnya.
Hadi yang sedari tadi memapah Risma, mulai kelelahan.
Ia pun mengeluh.
"Coba saja tak kau kejar capung sialan itu, mungkin sekarang kita sudah duduk manis di rumah..", gerutunya.
Risma melirik sinis, jelas ia tak sudi disalahkan.
"Bukankah sudah kujelaskan padamu, aku sendiri seperti terhipnotis sewaktu melihat capung itu. Lagi pula aku tidak minta kau datang. Jadi siapa suruh kau mengikutiku, hah?", hardiknya.
Hadi terpancing emosi.
"Heh, tak tahu terima kasih rupanya kau! Andai tadi aku tidak datang, mungkin sekarang kau menjerit-jerit ketakutan sendiri di sana. Masih untung aku mau mencarimu, kalau tidak..."
Risma tak kalah sewot.
"Kalau tidak, apa? Memangnya jika bukan kau yang menemukanku, tak ada orang lain yang mau mencariku kalau hilang? Itu kan maksudmu? Pikir dong pakai otak!", sembur Risma, berapi-api.
Hadi geram bukan main.
"Andai aku lebih tega, mending kubiarkan saja kau tadi...", sesalnya.
Senja pun menghampiri.
Rintik kecil menjadi gerimis. Sesekali langit bergemuruh menggema dari atas sana.
Hal yang sangat dicemaskan Hadi akhirnya terjadi juga.
Gelapnya malam membuat jarak pandang semakin terbatas. Hadi bahkan sudah tak ingat lagi jalur mana yang telah ia lalui. Menurutnya, mereka hanya berputar di sekitar situ saja.
Di sini baru ia sadari, mereka berdua telah tersesat jauh ke dalam hutan.
Hadi tak dapat menyembunyikan kegelisahannya.
"Jangan putus asa dulu, Di. Aku yakin kita pasti keluar dari sini, asal kita tetap mencari jalannya", kata Risma, berusaha menenangkan.
"Tidak, Ris. Ini sudah di luar kewajaran. Aku sama sekali tak tahu di mana posisi kita sekarang. Kita berdua sudah tersesat", tegas Hadi.
"Dari mana kau bisa menyimpulkan sedang kau sendiri belum mengenal hutan ini seluruhnya", kilah Risma. " Hutan di kampung kita ini luas. Masih banyak tempat yang mungkin belum pernah kau datangi".
Hadi menggeleng tak sabar.
"Jangan tanya aku soal itu. Aku sudah keluar masuk hutan sejak umurku tujuh tahun. Aku juga sering ke kebun karet di tengah hutan buat membantu bapak, atau mencari kayu bakar kalau disuruh emak", tukasnya.
"Maksudmu, saat ini kita bukan berada di hutan yang sama, begitu?"
Hadi mengiyakan.
"Aku sudah memperhatikan semuanya. Pohon-pohon sejenis ini mana ada dalam hutan di kampung kita. Rumput di sini juga cenderung lebih tinggi dan liar, seakan tak pernah tersentuh oleh manusia", terang Hadi. Jarinya menunjuk ke deretan pohon dan semak belukar di sekitar.
Ia melanjutkan analisanya dengan suara cemas.
"Berdasarkan pengamatanku, kita berdua telah masuk dalam hutan di suatu gunung. Tapi bagaimana bisa, itu yang mengganggu pikiranku.."
Mendengar penjelasan barusan, Risma malah ketawa mengejek.
"Hahahaha! Ngawur! Kau ini kebanyakan baca buku dongeng, jadinya suka ngarang kalau bicara!", oloknya, enteng.
Hadi menatap tajam.
"Masih belum sadar kau rupanya usai kita berjalan sejauh ini?"
Risma mengangkat kedua bahunya.
"Entah, ya! Tapi menurutku yang kau sampaikan itu sangat di luar nalar".
"Silakan saja kalau tak percaya. Aku yakin ada yang sengaja menyesatkan kita semenjak kau dan aku bertemu di belakang sekolah tadi", ungkap Hadi.
Percakapan mereka terhenti oleh gerimis yang kian deras.
Tubuh kedua anak tersebut basah bersimbah air hujan. Sementara malam benar-benar telah menyelubungi langit.
"Kita mesti cari tempat berteduh, Di", ajak Risma, kalut.
Mereka bergegas menemukan tempat buat berlindung. Walau gelap di sekitar, keduanya berhasil mencapai satu pohon besar yang rindang. Di bawahnya, mereka mengambil posisi yang aman dari terpaan hujan.
Suara guntur lagi-lagi menggelegar memecah kesunyian.
Risma bergidik. Dia duduk di salah satu akar yang menonjol sambil memeluk lutut. Badannya menggigil kedinginan.
"Semoga bapak ibu mencariku. Kalau tidak, bisa mati aku di sini..", gumamnya, gemetar seperti mau menangis.
Hadi diam, tapi sebenarnya ia tengah memikirkan jalan keluar.
Tapi ia benci menyadari bahwa saat ini mereka berada di suatu tempat antah berantah. Yang artinya, sangat kecil kemungkinan orang-orang yang mencari akan menemukan mereka dengan mudah.
Diam-diam Hadi merasa ngeri. Ia membayangkan berbagai hal buruk yang bisa menimpa dirinya kapan saja selama masih di sana.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Di? Jujur, aku sudah sangat takut...", Risma mengeluh lagi.
"Entahlah. Aku juga sudah bingung. Saat ini tak ada yang bisa kita perbuat selain menunggu hujan reda", tukas Hadi, lelah.
Ia pun ikut duduk di samping Risma, sambil melamunkan cara supaya dapat keluar dengan selamat dari hutan ini.
******