CeritaGW
Buku / Bab
Bab 01989 kata

Bab Satu : Hutan di Belakang Sekolah

IO

Indra One

Selubung Perangkap

Mulai membaca

Awan kelabu menggantung di langit yang mendung pada sore hati itu.

Rintik-rintik kecil sesekali jatuh menetes ke tanah kering berdebu. Angin dingin berhembus, mengisyaratkan bahwa hujan akan segera tiba.

Hadi, nama anak lelaki berusia empat belas tahun itu, menatap lama mendung yang kian menggelap. Satu persatu teman sepermainannya mulai meninggalkan lapangan.

Tadinya, mereka masih hendak melanjutkan bermain sepak bola di situ. Tetapi kegiatan tersebut terpaksa harus disudahi karena cuaca yang tak lagi mendukung.

"Hei, Hadi! Tak pulang kau? Kalau tidak cepat, bisa kehujanan!", seru seorang temannya.

Hadi mengangguk, lalu buru-buru memakai sendal jepitnya yang usang dan bersiap pergi dari situ.

Tapi dia urung saat melihat Risma , sepupu sebayanya yang juga ikutan main bola bersama-sama, tengah berjalan cepat menuju belakang gedung sekolah.

" Mau apa si Risma ke sana?", pikir Hadi.

Lapangan tersebut terletak persis di dalam bangunan sekolah dasar satu-satunya di kampung tersebut. Karena tidak berpagar, anak-anak kampung bebas menggunakan tempat itu sebagai arena bermain mereka sehari-hari.

Dari pihak sekolah juga tidak melarang mereka beraktivitas di situ, asalkan tidak merusak dan mengotori fasilitas yang ada.

Sementara itu, Hadi masih menunggu Risma keluar.

Dia mulai cemas usai menanti sekian menit, gadis itu tak kunjung muncul juga.

Padahal langit sudah gelap. Hadi khawatir Risma mengalami sesuatu yang buruk di sana, tapi kalau menyusulnya ke belakang gedung, terus terang ia tak berani.

Pasalnya, di bagian belakang sekolah terdapat hutan yang bisa menghubungkan ke kampung sebelah. Warga sini juga terbiasa keluar masuk hutan tersebut, baik ketika hendak ke kebun atau pun keperluan lain.

Namun, jika hari telah memasuki senja tak seorang pun yang sudi melintasi wilayah itu. Berada di sana pada waktu seperti ini saja membuat nyali menciut. Apalagi bila sampai nekad masuk ke dalamnya. Inilah yang Hadi cemaskan jika Risma memang benar-benar pergi ke sana.

Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk menyusul Risma walau dengan berat hati. Langkahnya sedikit tergesa ketika menyusuri lorong sempit di belakang gedung sekolah. Suasana sunyi mencekam, yang kedengaran hanya gemerisik ranting pepohonan yang bergoyang kala dihempas angin.

Jantung Hadi berdebar-debar.

Ia berusaha memberanikan diri, namun rambut di tengkuknya merinding saat ia menginjakkan kaki di tempat tersebut.

Memang tak seharusnya ia berada di situ. Pada jam segini, lokasi ini malah semakin angker dari biasanya.

Hadi tak tahan berdiam diri lebih lama lagi, ia sudah ingin minggat dari sana. Tapi, hingga kini pun batang hidung Risma masih belum kelihatan.

"Kemana tuh anak, ya?", decak Hadi, dongkol.

"Atau jangan-jangan tadi aku cuma salah lihat?", gumamnya, ragu pada diri sendiri.

Namun ia yakin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Risma memang masuk ke lorong ini. Karena rasa penasaran yang besar, ia berjalan lagi ke depan seraya berteriak memanggil nama Risma.

"RISMAAAA....."

"RISMAAAAAA! HEII, DI MANA KAU? RISMAAAAA....."

Gaung suaranya menggema memecah keheningan senja yang muram. Namun, tetap tak ada satu pun sahutan yang membalas.

Hadi mengulang sekali lagi, kali ini teriakannya lebih nyaring lagi.

"RISMAAAAA! KAU DENGAR TIDAK, SIH?! RISMAAA, JAWAAAAB...."

Tenggorokannya jadi kering akibat terlalu semangat berteriak. Ia mulai jengkel, lalu merutuk Risma yang seperti sedang mempermainkannya.

Tapi, usaha Hadi tidak sia-sia karena sejurus kemudian ada seseorang yang membalas panggilannya.

"HADIIIII! DI SINIII!! AKU DI SINIII!!"

Suara Risma lumayan jelas terdengar dari sini. Hanya orangnya sendiri masih belum kelihatan.

"HEEEIIII, AKU DI SINI!! CEPATLAH KAU KEMARI! HADIII...", pekik Risma lagi dari kejauhan.

IYAAA AKU DENGAR! TAPI AKU TAK BISA MELIHATMU! DI MANA KAU MEMANGNYA?", balas Hadi, tak kalah lantang.

Lalu matanya tertuju pada semak-semak tinggi di bagian pinggir hutan di ujung sana. Suara Risma persis berasal dari balik rerimbunan tersebut.

Entah kenapa Risma bisa sampai berada di situ.

Tapi, mengingat tingkah lakunya yang mirip anak laki-laki dan punya jiwa ingin tahu yang tinggi, seharusnya Hadi bisa memaklumi.

Dan benar, di situ memang ada Risma. Saat ditemui, posisinya sedang duduk sambil memijat-mijat betisnya yang sebelah kanan. Mukanya meringis menahan nyeri di kaki.

"Kena apa kaki kau, Ris? Bisa-bisanya kau jalan sampai masuk ke hutan ini. Bukannya pulang, kau malah main ke sini sendirian. Mana sudah mau malam lagi!", seloroh Hadi, meluapkan emosinya karena lelah.

Risma menatapnya dengan benci.

"Begini ya, sepupuku. Kau lihat bukan aku lagi kesakitan? Jadi bisa tidak kau tolong aku dulu sebelum kau ceramah panjang lebar?"

Hadi menghela nafas.

"Bukan begitu, Ris. Aku capek keliling mencarimu sedari tadi, tau! Untung saja aku sempat melihatmu tadi. Kalau tidak, mungkin tak ada yang tahu kau berada di sini", tukas Hadi.

Risma malah merenung.

"Iya, kau benar juga.." katanya, pelan.

Sebelum Hadi bertanya, Risma terlebih dahulu menyebut penyebab sampai ia bisa berada di pinggiran hutan.

"Sewaktu aku mau pulang tadi, aku lihat ada seekor capung yang melintas di dekatku."

Hadi merespon singkat.

"Capung? Capung apa?"

Risma mengangguk lemah.

"Iya, capung. Tapi bentuknya agak aneh, tak lazim sebagaimana capung kebanyakan di kampung kita."

Ia melanjutkan, "Aku seperti terpengaruh hingga kukejar dia. Dan aku baru tersadar gara-gara kakiku terpeleset tanah licin", sambungnya.

"Sekarang mana capung itu?", tanya Hadi.

"Ya, mana aku tahu. Aku tak melihatnya lagi setelah aku sampai di sini", jawab Risma.

"Itu cuma khayalanmu saja, Ris! Makanya jangan suka melamun. Masih untung kau kutemukan masih di dekat sini", ucap Hadi, mengingatkan.

Ia membantu Risma berdiri, kemudian memapah sepupunya tersebut agar bisa berjalan.

"Aduhh, pelan-pelan sedikit bisa tidak, sih?", rutuk Risma pada Hadi.

Tentu Hadi dongkol, padahal ia sudah sangat berhati-hati.

"Kau ini, kalau berjalan terlalu pelan bisa basah kuyup kita nanti. Kau tidak lihat sebentar lagi mau turun hujan deras?", gerutunya.

"Memangnya kalau kena air hujan, kita bisa langsung mati?", jawab Risma, asal-asalan.

Hadi semakin geram, ia membalas.

"Jangan bodoh kau! Mikir dong! Kalau kita tak segera pulang, takutnya keburu malam. Orang tua kita juga bisa cemas. Atau jangan-jangan kau mau tidur di sini? Aku sih tidak, aku takut!"

Mulut Risma mencibir.

"Dasar kau saja yang kelewat penakut. Apa-apa kau takut. Sedikit-sedikit kau takut. Kapan mau jadi lelaki dewasa jika kau begitu terus?" ledeknya, sadis.

Rasanya Hadi ingin mendorong tubuh Risma saat itu juga. Namun, ada sesuatu yang ia baru sadari. Sesuatu yang jauh lebih penting ketimbang meladeni omongan Risma.

******

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 01 / 1
Selubung Perangkap
01

Bab Satu : Hutan di Belakang Sekolah

989 kata / Sedang dibaca