Ale Hiri
Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang
Mulai membaca
Suasana kediaman keluarga Prasetyo pagi itu nampak normal di permukaan. Cahaya matahari memantul hangat di lantai marmer yang mengilap, tetapi retakan tipis dalam hubungan mereka perlahan mulai membesar tanpa ada yang menyadari.
Pukul sepuluh pagi, ketika Arman dan Raka sedang berada di kantor, Ratih sibuk mengawasi perbaikan taman di belakang rumah bersama para pekerja. Rumah bagian dalam terasa lengang.
Jelita Prasetyo baru saja menyelesaikan tugas sekolahnya. Memegang sebuah buku resep masakan yang ia temukan di perpustakaan kecil rumahnya, gadis itu melangkah gembira menuju lantai dua. Ia berniat memberikan buku itu kepada Maya, sebuah upaya polos untuk mencairkan ketegangan ganjil yang ia rasakan beberapa hari terakhir. Pintu kamar utama Raka dan Maya sedikit terbuka.
"Mbak Maya...?" panggil Jelita lembut seraya mengetuk daun pintu yang terkuak dua inci.
Tidak ada jawaban. Jelita mengintip ke dalam. Kamar itu kosong; suara gemericik air dari kamar mandi menandakan Maya sedang membersihkan diri. Tepat di atas meja rias berbingkai ukiran emas, sebuah amplop cokelat tebal tergeletak terbuka. Dari dalam amplop itu, beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah mencuat keluar, berserakan di dekat cermin bersama barang-barang perhiasan Maya. Jelita tersenyum tipis.
'Mbak Maya lupa merapikan uangnya,' pikirnya jujur. Tanpa niat buruk sedikit pun, Jelita melangkah masuk tiga tindak, meletakkan buku resep di pinggir meja rias, lalu merapikan lembaran uang itu agar tidak jatuh tersapu angin dari jendela.
Namun, belum sempat Jelita menarik tangannya kembali, pintu kamar mandi mendadak terbuka. Maya keluar dengan handuk melilit rambutnya. Langkah kakinya terhenti seketika. Tatapan matanya yang tadinya santai berubah tajam dalam hitungan detik saat melihat Jelita berdiri tepat di depan meja riasnya dengan tangan memegang lembaran uang tersebut.
"Jelita?" tegur Maya, suaranya sengaja dibuat agak bergetar. Jelita terkejut dan memutar tubuhnya cepat.
"Eh, Mbak Maya! Kaget Jelita... Ini, Mbak, Jelita cuma mau mengantarkan buku resep, terus lihat uang Mbak Maya berantakan di meja. Jadi Jelita rapikan—"
"Oh... begitu ya?" potong Maya. Senyum tipis yang janggal terukir di bibirnya. Ia melangkah mendekat dengan santai, mengambil amplop cokelat itu, lalu menghitung lembaran uang di dalamnya dengan jemarinya yang terampil.
Jelita menatap kakak iparnya dengan polos, tidak menyadari bahwa di dalam otak Maya, sebuah skenario licik sedang dirajut dengan sangat cepat.
Maya menghitung lembaran uang itu sekali, dua kali, lalu mendadak menghentikan jemarinya. Wajah cantiknya mendadak pucat. Matanya melebar penuh kecemasan yang dibuat-buat.
"Lho... kok... kok kurang?" bisik Maya, suaranya cukup keras untuk memantul di dinding kamar. Dahi Jelita berkerut halus.
"Kurang? Maksud Mbak Maya apa?"
Maya menatap Jelita dengan tatapan terluka yang luar biasa duka.
"Jelita... Mbak baru saja mengambil uang tunai lima juta rupiah dari ATM tadi pagi untuk bayar gaun di penjahit. Tapi kenapa... kenapa sekarang cuma ada tiga juta?"
Jelita membeku. Senyum di wajah manisnya memudar seketika.
"Mana Jelita tahu, Mbak? Jelita baru saja masuk kamar ini dua detik lalu! Jelita cuma pegang uang itu untuk dimasukkan lagi ke dalam amplop!"
Maya tidak menjawab. Ia malah menghela napas panjang, menundukkan kepala, dan mengusap sudut matanya seraya memegang amplop itu rapat-rapat di dadanya.
"Sudah... tidak apa-apa, Jelita. Kalau kamu butuh uang untuk beli sesuatu, bilang saja sama Mbak. Jangan begini caranya..."
"Mbak Maya!" pekik Jelita, suaranya meninggi karena rasa terkejut yang luar biasa. Dada gadis empat belas tahun itu mulai berdebar kencang.
"Jelita tidak mengambil uang Mbak! Kenapa Mbak bicara begitu?!"
Namun Maya hanya menggelengkan kepala dengan raut wajah keputusasaan yang sangat meyakinkan, lalu berjalan melewati Jelita tanpa kata-kata lagi.
Malam harinya, panggung sandiwara yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di ruang makan yang elegan, makan malam keluarga Prasetyo yang biasanya dipenuhi tawa renyah mendadak diselimuti keheningan yang tak nyaman. Maya duduk di sebelah Raka, hanya mengaduk-aduk nasinya tanpa menyentuhnya sama sekali. Wajahnya muram, dan sesekali ia mendesah pelan seraya mengusap pelipisnya. Arman yang menyadari perubahan sikap menantunya meletakkan sendok dan garpunya.
"Maya, kamu kenapa, Nak? Dari tadi Ayah perhatikan kamu tidak menyentuh makananmu. Kamu sakit?" tanya Arman ramah penuh perhatian.
Maya mendongak kaget, seolah baru saja terbangun dari lamunan panjang. Ia memaksakan senyum tipis yang kelihatan sangat getir.
"Ah... tidak apa-apa, Ayah. Maya cuma... agak pusing sedikit."
Raka yang duduk di sampingnya merangkul bahu istrinya dengan cemas.
"Sayang, kalau kamu sakit atau ada masalah bilang padaku. Ada apa sebenarnya? Jangan dipendam sendiri."
Maya melirik sekilas ke arah Jelita yang duduk di seberang meja. Jelita langsung menegang, cangkir es teh di tangannya gemetar.
"Tidak apa-apa, Raka. Cuma masalah kecil," bisik Maya dengan suara parau yang sengaja dikondisikan agar terdengar memilukan.
"Uang bayaran penjahit gaunku yang lima juta tadi siang, hilang dua juta rupiah dari meja rias."
"Apa?!" Ratih memekik pelan, menaruh serbetnya di meja.
"Hilang bagaimana, Maya? Rumah ini kan aman. Pembantu kita sudah ikut puluhan tahun, tidak pernah ada yang tidak jujur!"
Arman mengernyitkan dahi dalam-dalam. Wajah pria berwibawa itu mendingin.
"Dua juta bukan jumlah yang kecil untuk uang tunai yang hilang di dalam rumah. Maya, kamu yakin tidak lupa menaruhnya di tempat lain?"
Maya menunduk, air mata buatan mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah. Ia memainkan jarinya dengan gelisah.
"Maya yakin sekali, Ayah. Tadi siang Maya baru ambil dari bank. Tapi, ya sudahlah, Ayah. Maya ikhlas. Mungkin belum rezeki Maya. Maya tidak mau menuduh siapa-siapa..."
"Tunggu dulu," Raka memotong cepat, matanya menatap Maya dengan serius.
"Tadi siang di rumah ada siapa saja saat uang itu hilang?"
Maya menggigit bibir bawahnya, berpura-pura ragu dan panik.
"Raka, jangan diperbesar... Kasihan—"
"Sebutkan saja, Maya!" tegas Raka, nadanya mulai dipenuhi amarah yang membumbung.
Maya menatap suaminya dengan mata memerah, lalu dengan lirih dan terbata-bata ia berbisik,
"Tadi siang... di lantai dua, cuma ada Jelita yang masuk ke kamarku."
Brak!
Jelita berdiri dari kursinya hingga kursi kayu jati itu terdorong ke belakang. Wajah gadis kecil itu memucat pasi, bibirnya gemetaran hebat.
"Mbak Maya bohong!" jerit Jelita, air matanya langsung menetes deras membasahi pipinya.
"Ayah! Ibu! Kak Raka! Jelita tidak mengambil uang itu! Jelita masuk ke kamar Mbak Maya cuma mau mengantarkan buku resep dan merapikan uang Mbak Maya yang berantakan!"
"Jelita! Jaga bisikmu pada kakak iparmu!" tegur Arman dengan suara berat dan tegas, mengejutkan seluruh ruangan.
Jelita menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya. Ayah yang selama ini tidak pernah membentaknya, kini menatapnya dengan tatapan penuh selubung curiga.
"Ayah... Ayah tidak percaya padaku?" bisik Jelita, suaranya pecah oleh histeria yang tertahan.
"Jelita tidak pernah mencuri! Demi Allah, Jelita tidak pernah menyentuh uang dua juta itu!"
Ratih yang duduk di samping Arman tampak bingung dan serba salah. Ia memandang putrinya yang menangis sesenggukan, lalu memandang Maya yang menunduk terisak.
"Jelita, Sayang... Ibu tahu kamu anak baik. Tapi kalau kamu memang butuh uang untuk beli sesuatu, kamu bisa bilang sama Ibu atau Ayah, Nak. Kamu tidak perlu—"
"Ibu juga tidak percaya padaku?!" potong Jelita dengan jeritan pilu yang memotong hati. Air matanya mengalir bagaikan air bah.
"Ibu... Jelita ini anak Ibu! Kenapa Ibu malah percaya tuduhan tanpa bukti ini?! Kenapa Ibu berpikir Jelita seorang pencuri?!"
"Jelita!" kini Raka yang berdiri, menatap adiknya dengan kekecewaan yang mendalam.
"Jaga batasanmu kalau berbicara dengan Ibu! Mbak Maya sama sekali tidak menuduhmu secara langsung! Dia cuma menjawab pertanyaan Ayah! Kenapa kamu malah bereaksi histeris begini kalau kamu memang tidak merasa bersalah?!"
"Karena aku memang tidak salah, Kak Raka!" pangkas Jelita, beralih menatap kakaknya, sosok pelindung yang selalu pasang badan untuknya.
"Kak Raka... tolonglah... Kakak kan kenal Jelita dari kecil... Jelita tidak pernah berbohong pada Kak Raka..."
Raka menatap adiknya yang menangis terisak-isak di depan meja makan. Ada keraguan yang sempat melintas di benaknya; ia tahu betul betapa jujurnya Jelita selama empat belas tahun ini. Namun, ketika Raka melirik ke arah istrinya yang tersedu-sedu menutup wajah dengan kedua telapak tangan, ego pelindung seorang suami melibas logika Raka.
"Sudah, Raka... Tolong, jangan marahi Jelita lagi..." Maya menyela dengan tangisan yang makin menjadi, memegang lengan Raka dengan lembut.
"Mungkin Jelita cuma sedang butuh uang untuk keperluan sekolahnya. Mbak tidak apa-apa, sungguh. Anggap saja uang itu Mbak hadiahkan untuk Jelita. Tolong jangan perpanjang masalah ini, Maya mohon..."
Kalimat manipulatif Maya menghantam jantung ruangan itu dengan sangat mematikan. Kalimat itu tidak hanya berpura-pura mengampuni, tetapi secara tidak langsung 'mengkonfirmasi' tuduhan bahwa Jelita adalah pelakunya.
Arman menghela napas panjang, wajahnya dipenuhi kekecewaan yang teramat berat. Ia menatap Jelita yang masih berdiri gemetar.
"Jelita," kata Arman dengan nada dingin yang belum pernah Jelita dengar sebelumnya.
"Ayah sangat kecewa malam ini. Bukan hanya karena masalah uangnya, tapi karena kamu tidak mau mengakui kesalahanmu dan justru berteriak pada orang tuamu."
"Ayah... aku tidak—"
"Masuk ke kamarmu sekarang!" perintah Arman, memotong ucapan Jelita tanpa ampun.
"Renungkan perbuatanmu. Sampai kamu mau minta maaf pada Mbak Maya dan mengakui kesalahanmu, Ayah tidak mau melihatmu di meja makan ini."
Jelita membeku di tempatnya. Dunia yang selama empat belas tahun ini ia kenal indah dan aman, mendadak runtuh berkeping-keping di bawah kakinya.
Ia memandang ibunya, namun Ratih memalingkan wajah dengan raut duka dan keraguan. Ia memandang Raka, namun sang kakak hanya menatapnya dingin seraya merangkul Maya yang bersandiwara menangis. Tak ada satu pun tangan yang terulur untuk membela atau mempercayainya.
Dengan Isak tangis yang pecah, Jelita berbalik dan berlari meninggalkan ruang makan, melintasi lorong menuju kamarnya. Suara pintu kamar yang terbanting kencang menggelegar ke seluruh penjuru rumah.
Di dalam kamar yang gelap, Jelita melemparkan dirinya ke atas ranjang. Ia memeluk bantalnya erat-erat, membiarkan kain katun itu menyerap air matanya yang tak berhenti mengalir. Dadanya terasa begitu sesak, seperti dihantam batu besar yang tak kasat mata.
"Kenapa...?" bisik Jelita di antara isaknya yang pilu.
"Kenapa tidak ada yang percaya padaku...?"
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kamar yang dulu menjadi tempat paling nyaman kini terasa bagaikan penjara yang dingin. Kehangatan rumah keluarga Prasetyo yang dipujanya telah menguap tanpa sisa, digantikan oleh selimut kecurigaan yang mencekik.
Sementara itu, di kamar utama lantai dua, Maya berdiri di depan cermin meja riasnya. Suara isak tangisnya telah menghilang sepenuhnya.
Dengan perlahan, Maya membuka laci paling bawah meja rias yang terkunci, memasukkan amplop cokelat berisi sisa uang tunai itu ke dalam selipan tas lamanya, lalu mengunci laci itu kembali. Ia memandang pantulan dirinya di cermin. Sebuah senyuman puas yang mengerikan terukir indah di bibir cantiknya.
'Ini baru permulaan, Jelita,' bisik Maya dalam hati, matanya menyala oleh kejahatan yang kelam.
'Benih pertama sudah ditanam. Sekarang, seluruh keluarga ini akan melihatmu sebagai seorang pembohong dan pencuri. Dan aku... akan memastikan kamu kehilangan segalanya.'
Di luar, angin malam berhembus kencang meniup dedaunan, membawa firasat buruk bahwa tuduhan pertama ini hanyalah awal dari gelombang fitnah yang jauh lebih kejam, gelombang fitnah yang perlahan tapi pasti akan merenggut seluruh masa kecil, cinta, dan senyuman Jelita Prasetyo.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang.