Ale Hiri
Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang
Mulai membaca
Sejak insiden hilangnya uang Maya, atmosfer di kediaman keluarga Prasetyo berubah drastis. Rumah megah yang dulu dipenuhi gelak tawa dan kehangatan kini terasa bagaikan istana es. Koridor-koridor rumah menjadi senyap, digantikan oleh keheningan yang mencekik. Jelita Prasetyo tidak lagi berlarian menuruni tangga atau menyapa keluarganya dengan keceriaan yang membuncah. Gadis kecil itu memilih mengurung diri di kamar, menyembunyikan tatapan matanya yang kini selalu menyiratkan rasa takut dan kesedihan yang mendalam.
Setiap kali Jelita melewati ruang makan atau ruang keluarga, pandangan Arman terasa dingin dan berjarak. Ratih lebih banyak diam, memendam rasa bimbang antara insting seorang ibu dan prasangka yang sengaja ditanamkan. Namun, yang paling meremukkan hati Jelita adalah perubahan Raka. Kakak laki-laki yang dulu selalu memasang badan untuk melindunginya, kini memalingkan wajah setiap kali Jelita berusaha mendekat.
Pagi itu, tiga minggu setelah tuduhan pertama, hujan gerimis mengguyur kota. Raka sedang berada di kantor, sementara Arman pergi menemui rekan bisnisnya. Di dalam rumah, hanya ada Ratih, Maya, dan Jelita.
Maya berdiri di depan cermin kamar utamanya, memperhatikan penampilannya dengan tatapan penuh kepuasan. Keraguan yang mulai mengendap di hati keluarga Prasetyo belum cukup baginya. Ia menginginkan vonis mati bagi posisi Jelita di rumah ini. Dengan gerakan perlahan, Maya membuka kotak perhiasan beludru merah miliknya, mengambil sebuah kalung emas berliontin ukiran unik, hadiah pernikahan mewah dari Arman dan Ratih. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman beracun yang begitu dingin.
"Satu dorongan lagi, Jelita. Dan kamu tidak akan pernah bisa bangkit lagi," bisik Maya pada pantulan dirinya di cermin.
Maya melangkah keluar kamar dengan sangat hati-hati. Memastikan Ratih sedang sibuk mengawasi perbaikan dapur di lantai bawah, Maya berjalan cepat menuju kamar Jelita di ujung koridor. Pintu kamar gadis itu sedikit terbuka karena Jelita sedang berada di kamar mandi lantai bawah untuk mencuci tangan. Tanpa membuang waktu, Maya menyusup masuk. Dengan gerakan cekatan dan terlatih, ia menyibak sprei, menyelipkan kalung emas itu jauh ke bawah bantal tempat tidur Jelita, lalu merapikannya kembali hingga tak berbekas.
Setelah memastikan jebakannya terpasang sempurna, Maya keluar dan kembali ke kamarnya. Ia menanti beberapa menit sebelum memulai babak baru dari sandiwaranya.
Pukul dua siang, Raka dan Arman pulang lebih awal dari kantor. Baru saja Raka melangkah melewati pintu utama, suara jeritan panik dan isak tangis histeris memecah keheningan rumah.
"Ibu! Raka! Tolong...!"
Maya berlari turun dari anak tangga dengan wajah pucat pasi dan air mata yang mengalir deras di pipinya. Matanya memerah, tangannya gemetar hebat seolah-olah ia baru saja mengalami musibah besar.
Raka yang terkejut langsung berlari menyongsong istrinya, menangkap tubuh Maya yang berpura-pura lemas.
"Maya! Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menangis seperti ini?"
Arman dan Ratih yang mendengar kegaduhan itu segera berlari dari arah dapur.
"Maya, ada apa, Nak? Kenapa histeris begini?" tanya Ratih penuh kecemasan.
Maya mendongak, menatap Raka dengan pandangan penuh keputusasaan yang begitu meyakinkan. Tangisannya semakin menjadi-jadi.
"Kalung... kalung emas hadiah pernikahan dari Ayah dan Ibu... hilang, Raka!"
"Apa?!" Arman terbelalak, langkahnya mendekat cepat.
"Kalung emas itu? Bagaimana bisa hilang, Maya? Kamu menyimpannya di mana?"
"Di... di dalam kotak perhiasanku di meja rias, Ayah," sahut Maya di antara isakannya yang tersendat-sendat.
"Tadi pagi kalung itu masih ada ketika Maya merapikan perhiasan. Tapi saat Maya mau menguncinya sore ini... kotaknya sudah terbuka dan kalungnya sudah tidak ada!"
Raka merasakan darahnya mendidih. Rasa trauma dari insiden uang hilang tiga minggu lalu mendadak mencengkeram pikirannya.
"Kamu sudah cari di seluruh kamar, Maya? Di bawah meja? Di kamar mandi?"
"Sudah, Raka! Maya sudah membongkar seluruh kamar! Tapi tidak ada!" Maya menangis kencang, menyembunyikan wajahnya di dada Raka.
"Kalung itu sangat berharga untukku... Itu kenang-kenangan dari Ayah dan Ibu..."ded
Di saat yang bersamaan, Jelita melangkah keluar dari perpustakaan kecil di lantai bawah, memegang buku pelajaran dengan kening berkerut bingung melihat seluruh keluarganya berkumpul di dekat tangga dengan suasana tegang.
"Ada apa ini...?" bisik Jelita pelan, melangkah mendekati mereka dengan ragu.
Mendengar suara Jelita, Maya sengaja menghentikan tangisnya sejenak dan melirik gadis itu dengan raut ketakutan yang dibuat-buat, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali pada Raka. Gestur kecil itu ditangkap sempurna oleh Raka dan Arman. Arman menatap Jelita dengan pandangan selidik yang sangat tajam.
"Jelita. Dari tadi pagi kamu di mana saja?"
Jelita membeku di tempatnya. Nada suara ayahnya begitu penuh tuduhan hingga dadanya mendadak terasa sesak.
"J-Jelita di kamar, Yah... Lalu tadi sempat ke perpustakaan bawah untuk baca buku..."
"Kamu ada naik ke lantai dua saat Mbak Maya sedang mandi atau turun ke dapur?" desak Arman, suaranya makin berat dan menekan.
"Ayah..." Ratih memegang lengan suaminya dengan ragu.
"Jangan langsung menuduh begitu, Yah..."
"Aku tidak menuduh, Ratih! Aku cuma bertanya!" tegas Arman, lalu kembali menatap Jelita.
"Jawab jujur, Jelita!"
Jelita menggeleng cepat, air matanya mulai menggenang karena rasa takut yang membakar.
"Tidak, Ayah! Jelita tidak masuk ke kamar Kak Raka dan Mbak Maya sama sekali hari ini! Jelita bersumpah!"
Namun, Maya menyela dengan suara lirih yang sarat akan fitnah terselubung.
"T-tadi pagi... saat Maya di dapur membantu Ibu... Maya sempat lihat ada orang yang naik ke atas... Tapi... tapi Maya tidak berani menuduh siapa-siapa... Mungkin Maya yang lupa menaruhnya..."
Kata-kata Maya bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api amarah Raka. Pria itu menatap adiknya dengan kekecewaan yang sudah mencapai puncaknya.
"Cukup," kata Raka dingin. Wajahnya mengeras.
"Kalau memang tidak ada yang mengambilnya, kita periksa seluruh rumah. Mulai dari kamar Jelita."
Jelita membelalakkan matanya, rasa terkejut dan terhina menghantam dadanya tanpa ampun.
"Kak Raka! Kenapa harus kamar Jelita yang diperiksa?! Kenapa Kakak selalu mencurigai aku?!"
"Kalau kamu tidak bersalah, kenapa kamu harus takut kamarmu diperiksa?!" bentak Raka keras, membuat Jelita melonjak kaget dan tersurut mundur beberapa langkah.
Belum pernah sekalipun dalam hidupnya Raka membentaknya dengan suara selantang dan senada dendam itu. Hati Jelita terasa hancur berkeping-keping di detik itu juga.
Tanpa mendengarkan tangisan Jelita, Raka melangkah lebar menaiki anak tangga menuju lantai dua, diikuti oleh Arman, Ratih, Maya yang berpura-pura memohon agar Raka membatalkan niatnya, serta Jelita yang berlari kecil di belakang mereka dengan isak tangis yang pecah.
"Kak Raka, jangan! Jelita tidak pernah mengambil perhiasan Mbak Maya!" jerit Jelita seraya mencoba menahan lengan kakaknya di depan pintu kamar.
Raka mendorong pintu kamar Jelita hingga terbuka lebar. Tanpa rasa ragu sedikit pun, pria itu mulai membongkar isi kamar adiknya. Ia membuka lemari pakaian, menggeledah laci meja belajar, dan melemparkan buku-buku Jelita ke lantai.
"Kak Raka, hentikan! Jangan acak-acak barang Jelita!" tangis Jelita histeris, berlutut mencoba merapikan buku-bukunya yang berserakan di lantai.
"Ibu... tolong hentikan Kak Raka... Jelita tidak mencuri..."
Ratih menutup mulutnya dengan tangan, air mata menetes di pipinya. Ia merasa sangat teriris melihat putrinya terpuruk di lantai, tetapi ketegasan Arman membendung niatnya untuk maju membela. Raka melangkah mendekati ranjang Jelita. Dengan wajah dingin tanpa keraguan, ia menyibak selimut dan menarik bantal putih milik adiknya.
Tring...
Suara benturan halus antara logam emas dan kayu ranjang bergema sangat nyaring di dalam ruangan yang sunyi itu. Sebuah kalung emas berliontin unik berkilau di bawah lampu kamar, tergeletak persis di bekas posisi bantal Jelita. Dunia seolah berhenti berputar bagi Jelita. Gadis kecil itu mendongak dengan pandangan tak percaya. Matanya membelalak menatap benda berkilau itu.
"T-tidak... Tidak mungkin... Kenapa... kenapa barang itu ada di sana?!"
Maya langsung menutup mulutnya, melepaskan isakan tangis yang begitu pilu.
"Ya Tuhan... Kalungku... Kenapa bisa ada di bawah bantalmu, Jelita...?"
"Jelita!" Arman meraung, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Wajah pria paruh baya itu memerah padam oleh kemarahan dan rasa malu yang luar biasa.
"Kurang ajar kamu! Ayah tidak pernah mengajarkanmu menjadi seorang pencuri!"
Jelita merangkak di lantai, berlutut di hadapan ayahnya seraya menggelengkan kepala secara histeris.
"Ayah! Demi Allah, Ayah! Jelita tidak pernah menyentuh kalung itu! Jelita tidak tahu kenapa kalung itu bisa ada di bawah bantal Jelita! Seseorang telah menaruhnya di sana, Yah! Tolong percaya padaku!"
"Siapa yang menaruhnya?!" bentak Arman, menunjuk wajah Jelita dengan jari gemetar.
"Siapa lagi yang masuk ke kamarmu selain kamu sendiri?! Mau sampai kapan kamu berbohong dan melemparkan kesalahan pada orang lain, Jelita?!"
"Ibu..." Jelita beralih memegang ujung gaun Ratih dengan tangan gemetar, menatap ibunya dengan tatapan memohon hidup dan mati.
"Ibu... Ibu tahu kan Jelita tidak seperti ini? Ibu kenal Jelita... Tolong katakan pada Ayah kalau Jelita tidak bersalah..."
Ratih menangis tersedu-sedu, namun ia memalingkan wajahnya dan perlahan menarik gaunnya dari genggaman Jelita. Bukti tak terbantahkan di depan matanya telah meruntuhkan kepercayaan Ratih. Keheningan ibunya menjadi pukulan terkejam yang menghujam dada Jelita.
Namun, hantaman yang paling mematikan datang dari sosok yang paling ia hormati. Raka berjalan mendekat, mengambil kalung emas itu dari ranjang, lalu menatap Jelita dengan tatapan yang begitu dingin, benci, dan penuh kekecewaan. Pandangan penuh kasih sayang yang dulu selalu Raka berikan pada adiknya telah menguap tanpa sisa.
"Kamu benar-benar membuatku jijik, Jelita," kata Raka, suaranya bergetar menahan amarah yang membakar dada.
Jelita menatap kakaknya dengan bibir gemetar.
"Kak... Raka..."
"Dulu aku selalu bangga punya adik seperti kamu!" bentak Raka tepat di depan wajah Jelita, memotong ucapan adiknya tanpa ampun.
"Aku selalu membelamu! Aku selalu menjaga senyummu! Tapi ternyata di balik wajah polosmu ini, kamu seorang pembohong dan pencuri yang licik!"
"Kak Raka, tidak! Dengarkan aku dulu!" jerit Jelita seraya mencoba menggapai tangan Raka.
Srett!
Raka menepis tangan Jelita dengan kasar hingga gadis itu tersungkur ke lantai kayu.
"Jangan sentuh aku!" teriak Raka dingin.
"Mulai hari ini, jangan pernah panggil aku Kakak lagi! Aku tidak punya adik seorang pencuri!"
Duar!
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar tepat di dada Jelita, menghancurkan seluruh benteng pertahanan jiwa mudanya. Hatinya tidak sekadar terluka; hatinya hancur menjadi debu. Orang yang paling ia percayai di dunia ini, orang yang berjanji akan selalu melindunginya, baru saja membuangnya tanpa tersisa sedikit pun rasa percaya.
Maya yang berdiri di belakang Raka merangkul lengan suaminya, menyandarkan kepala di bahu Raka seraya berbisik berpura-pura menenangkan.
"Sudah, Raka... Cukup. Jangan bentak Jelita lagi. Yang penting kalungnya sudah ketemu."
Namun di balik bahu Raka, saat mata Maya beradu dengan mata Jelita yang sedang bersimpuh di lantai berderai air mata, Maya menarik garis tipis di bibirnya. Sebuah senyuman kemenangan yang begitu kejam, ejekan tanpa suara yang menegaskan bahwa dialah pemenang dari permainan ini.
Jelita terpaku menatap senyuman tipis Maya di balik bahu Raka. Pada detik yang mengerikan itu, sebuah kebenaran yang pahit menyengat kesadarannya:
'Mbak Maya... Dialah yang melakukan semua ini.'
Namun Jelita tahu, tak ada gunanya lagi bersuara. Bukti telah direkayasa dengan sempurna. Orang tuanya telah buta oleh prasangka, dan kakaknya telah sepenuhnya terjerat dalam manipulasi Maya. Kebenaran telah mati di dalam rumah ini.
"Keluar kalian semua dari kamar ini!" perintah Arman dengan nada dingin yang menyayat hati.
"Biarkan dia merenungi perbuatannya yang memalukan ini!"
Arman berbalik melangkah keluar, diikuti oleh Ratih yang terus menangis tanpa berani menatap Jelita. Raka merangkul Maya dengan protektif, menuntun istrinya keluar dari kamar tanpa sekali pun melirik kembali ke arah adiknya.
Brak!
Pintu kamar terbanting keras, disusul suara kunci diputar dari luar. Di dalam kegelapan kamarnya yang kini terkunci, Jelita terbaring bersimpuh di lantai dingin. Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi karpet tempat ia jatuh tersungkur. Suara tangisnya tidak lagi nyaring; yang tersisa hanyalah isakan pilu yang tertahan dan dada yang sesak luar biasa.
Gadis empat belas tahun itu memeluk kedua lututnya rapat-rapat, merapatkan tubuhnya di sudut dinding yang dingin. Ia menatap foto keluarga berbingkai emas di meja belajarnya, foto di mana Raka merangkulnya erat dengan senyuman paling hangat.
"Kak Raka..." bisik Jelita parau, suaranya hampir tak terdengar di antara deru hujan di luar jendela.
"Kenapa Kakak tidak percaya padaku...?"
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan malam dan dinginnya dinding kamar yang merespon jeritan hatinya.
Di kamar utama, Maya tersenyum manis saat Raka memeluknya erat, menenangkannya yang berpura-pura masih syok. Maya tahu bahwa tindakannya hari ini tidak hanya berhasil menanamkan kebencian mendalam di hati Raka terhadap adiknya, tetapi juga telah meretakkan fondasi utama keluarga Prasetyo.
Seperti domino yang runtuh satu per satu, tuduhan dan jebakan ini akan menyeret Jelita ke dalam penderitaan yang jauh lebih sistematis. Gelombang fitnah berikutnya akan memastikan seluruh penghuni rumah berbalik memusuhinya, mengikis habis sisa-sisa harapan, hingga gadis yang dulu tak pernah berhenti tersenyum itu tak memiliki alasan lagi untuk bertahan.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang.