Ale Hiri
Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang
Mulai membaca
Enam bulan telah berlalu sejak sore hangat di mana Raka memperkenalkannya pada Maya Anggraini. Suasana megah di kediaman keluarga Prasetyo hari ini berbalut warna putih dan sage green yang anggun. Bunga-bunga mawar segar dan lili putih menghiasi setiap sudut ruangan, memancarkan aroma harum yang lembut. Hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba: pernikahan Raka dan Maya digelar dengan meriah namun tetap terasa hangat, dihadiri oleh kerabat dekat dan kolega bisnis Arman Prasetyo.
Di sudut ruang tengah, Jelita Prasetyo berdiri dengan gaun kebaya modern berwarna senada. Senyum manis tak pernah lepas dari bibirnya. Sebagai seorang adik berusia empat belas tahun yang sangat mencintai kakaknya, melihat Raka tersenyum begitu bahagia di samping Maya adalah sebuah impian yang menjadi kenyataan.
"Lihat Kak Raka, Bu," bisik Jelita pada Ratih yang berdiri di sampingnya seraya mengusap air mata haru.
"Kak Raka kelihatannya tampan sekali hari ini. Mbak Maya juga cantik sekali, seperti putri raja."
Ratih tersenyum melukiskan kehangatan seorang ibu, menepuk pelan punggung tangan Jelita.
"Iya, Sayang. Ibu senang sekali. Semoga rumah tangga kakakkmu selalu diberkahi. Dan sekarang, kamu resmi punya seorang kakak perempuan."
"Jelita janji akan jadi adik ipar yang baik untuk Mbak Maya!" seru Jelita riang, matanya berbinar jernih.
Ketika acara resepsi usai dan para tamu mulai berpamitan, keluarga Prasetyo berkumpul di ruang keluarga. Maya yang masih mengenakan riasan pengantinnya tampak sigap membantu Ratih membereskan beberapa cangkir dan sisa piring di meja.
"Eh, Maya... tidak usah, Nak," cegah Ratih cepat-cepat dengan raut wajah tidak enak.
"Kamu kan pengantinnya, pasti capek sekali. Biar Mbak Asih dan Bi Sumi yang membereskan ini."
Maya tersenyum manis, mengibaskan tangannya pelan dengan gestur yang sangat santun dan penuh ketulusan.
"Tidak apa-apa, Ibu. Maya sudah jadi bagian dari keluarga ini sekarang. Maya ingin belajar jadi menantu yang berbakti. Lagipula, Maya senang bisa membantu Ibu di dapur."
Arman Prasetyo yang duduk di sofa utama mengangguk-angguk kagum melihat sikap lembut menantu barunya.
"Raka, kamu tidak salah pilih. Mencarikan istri yang cantik, santun, dan tidak sungkan membantu orang tua itu tidak mudah zaman sekarang."
Raka tersenyum bangga, melingkarkan lengannya di pinggang Maya dengan mesra.
"Tentu saja, Ayah. Maya ini wanita paling sempurna yang pernah Raka temui."
Jelita yang baru saja kembali dari dapur membawa nampan berisi teh hangat ikut menimbrung. Ia meletakkan nampan itu di meja lalu merangkul lengan Maya dari samping secara spontan.
"Mbak Maya memang hebat! Pokoknya Jelita senang sekali Mbak Maya tinggal di rumah ini!"
Maya tertawa halus, mengusap kepala Jelita dengan kelembutan yang memikat semua orang di ruangan itu.
"Mbak juga senang sekali punya adik segemas Jelita."
Di mata semua orang, Arman, Ratih, Raka, dan Jelita sendiri, Maya Anggraini adalah sosok malaikat tanpa celah. Perempuan yang sempurna untuk melengkapi kebahagiaan keluarga Prasetyo.
Malam kian melarut. Ketika seluruh penghuni rumah telah terlelap dalam buaian mimpi, Maya berdiri di balkon kamar utamanya di lantai dua. Angin malam yang dingin berhembus mengibarkan rambut hitam panjangnya. Di balik gaun tidurnya, gestur tubuhnya yang tadi siang penuh kesantunan kini berubah drastis. Tegak, kaku, dan dingin.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela balkon, lalu beralih menatap deretan foto keluarga yang terpajang di lorong lantai dua. Di hampir setiap foto, Jelita selalu berada di tengah. Dirangkul oleh Arman, dipeluk oleh Ratih, dan digendong atau diacak-acak rambutnya oleh Raka.
Maya mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kuku-kukunya yang terawat menancap halus ke telapak tangan.
'Keluarga yang sempurna,' batin Maya, bibirnya mengukir garis tipis yang getir dan sinis.
'Sangat berkecukupan. Sangat harmonis. Dan anak perempuan itu, dijadikan ratu di atas segalanya.'
Sejak kecil, Maya tumbuh dalam keluarga yang menuntutnya untuk selalu bersaing demi mendapatkan perhatian. Kedatangannya ke dalam keluarga Prasetyo awalnya ia kira akan menjadikannya pusat kehangatan baru, seorang menantu pertama yang dipuja-puja. Namun, hanya dalam beberapa jam tinggal di rumah ini, Maya menyadari satu kenyataan pahit: Selama Jelita Prasetyo ada di rumah ini, perhatian semua orang akan selalu terbagi, atau bahkan sepenuhnya tersedot pada gadis kecil itu.
Tadi siang, saat Arman memujinya, pria tua itu tetap menambahkan kalimat,
"Mirip sekali seperti Jelita yang selalu ceria."
Saat Ratih mengajarinya letak bumbu dapur, Ratih berkata,
"Jelita suka sekali sup ayam buatan Ibu, nanti kamu belajar masak ini ya."
Bahkan Raka, suaminya sendiri, sebelum tidur sempat berbisik,
"Terima kasih ya sayang, sudah mau menyayangi Jelita seperti adikmu sendiri."
Jelita. Jelita. Jelita.
Nama itu bergema di dalam kepala Maya bagaikan dengungan lebah yang membakar kemarahannya. Rasa iri yang tajam dan beracun merayap perlahan, mengaliri setiap pembuluh darahnya.
"Aku tidak sudi jadi nomor dua," bisik Maya pada kegelapan malam, suaranya dingin tak tersentuh.
"Aku yang menantu di rumah ini. Aku yang seharusnya jadi pusat perhatian Raka dan orang tuanya. Bukan anak kecil itu."
Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Kehidupan berjalan seperti biasa, namun Maya mulai menjalankan peran ganda dengan sangat rapi. Di depan keluarga, ia adalah kakak ipar idaman. Setiap pagi, Maya bangun paling awal untuk membantu Ratih menyiapkan sarapan. Saat Jelita hendak berangkat sekolah, Maya akan menyisipkan bekal makanan yang ia hias secara khusus.
"Mbak Maya! Bekal hari ini lucu sekali!" seru Jelita suatu pagi di meja makan, memamerkan kotak bekal berhias susunan nasi berbentuk karakter kartun.
"Mbak Maya baik sekali! Terima kasih ya, Mbak!"
Maya tersenyum manis, membelai pipi Jelita.
"Sama-sama, Jelita sayang. Dimakan sampai habis ya di sekolah. Kalau Jelita senang, Mbak juga ikut senang."
"Lihat itu, Raka," bisik Ratih pada putra sulungnya sambil tersenyum haru.
"Ibu senang sekali melihat Maya begitu menyayangi Jelita."
"Iya, Bu. Raka merasa jadi pria paling beruntung di dunia," jawab Raka penuh kepuasan.
Namun, tidak ada yang tahu apa yang terjadi di belakang mereka. Siang itu, tatkala Raka sedang bekerja di kantor dan kedua orang tua pergi melayat ke rumah kerabat, hanya ada Maya dan Jelita di rumah. Jelita baru saja pulang sekolah dan sedang duduk di meja belajar kamarnya, serius berkutat dengan tumpukan buku latihan olimpiade Sains. Pintu kamarnya terketuk pelan.
Tok, tok, tok.
"Masuk, tidak dikunci!" panggil Jelita riang.
Maya melangkah masuk membawa segelas jus jeruk segar. Wajahnya mengumbar senyuman lembut seperti biasa.
"Jelita... Mbak buatkan jus jeruk dingin untukmu. Pasti capek kan pulang sekolah langsung belajar?"
Jelita mendongak, matanya berbinar.
"Wah, terima kasih banyak, Mbak Maya! Mbak repot-repot saja."
Jelita menerima gelas itu dan meminumnya hingga tersisa separuh.
"Segar sekali! Mbak Maya memang terbaik!"
Maya duduk di tepi ranjang Jelita, matanya menyapu sekeliling kamar yang luas dan penuh dengan piala berjejer. Tatapannya tertahan pada sebuah foto berbingkai emas di meja belajar: foto Raka yang sedang merangkul Jelita erat-erat saat gadis itu menjuarai lomba pidato bahasa Inggris tahun lalu.
"Jelita..." panggil Maya pelan, suaranya terdengar sangat lembut, namun ada ketegangan aneh yang tersembunyi di balik nadanya.
"Iya, Mbak?" Jelita memutar kursinya, menatap kakak iparnya dengan kepolosan murni.
Maya mengelus bingkai foto itu dengan ujung jarinya.
"Mbak mau tanya sesuatu... Tapi Jelita jangan marah ya?"
Jelita tertawa kecil, menggeleng polos.
"Mana mungkin Jelita marah sama Mbak Maya? Mau tanya apa, Mbak?"
Maya menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih milik Jelita. Senyumnya masih terukir, tetapi matanya terasa dingin.
"Jelita tidak merasa... kamu sudah terlalu besar untuk terus-terusan menempel pada Kak Raka?"
Pertanyaan itu membuat Jelita mengerutkan dahi, bingung.
"Maksud Mbak Maya?"
Maya terkekeh halus, suara terkekeh yang dibuat-buat seolah sedang bercanda.
"Ya... kamu kan sudah empat belas tahun, sebentar lagi masuk SMA. Tapi Mbak lihat, kamu masih suka minta diantar jemput Kak Raka, minta dibelikan novel, bahkan manja sekali kalau Kak Raka pulang kantor. Kasihan Kak Raka, Jelita. Dia kan sudah punya istri sekarang. Punya kehidupan sendiri."
Hati Jelita berdesir aneh. Ada rasa tersetrum pelan di dadanya mendengar kalimat itu. Selama ini, hubungan dekatnya dengan Raka adalah hal paling alami di dunia. Raka adalah kakaknya, pelindungnya sejak ia lahir.
"T-tapi... Kak Raka sendiri yang menawarkan mau mengantar Jelita..." cicit Jelita, nadanya mulai terdengar ragu dan tidak percaya diri.
"Kak Raka bilang, dia senang kalau bisa mengantar Jelita..."
Maya menghela napas panjang, memasang raut wajah prihatin seolah sedang mengasihani Jelita.
"Tentu saja Kak Raka bilangnya begitu, Jelita sayang," potong Maya cepat, mengusap bahu Jelita dengan lembut namun cengkeramannya agak menekan.
"Kak Raka itu sangat menyayangimu, jadi dia tidak enak untuk menolak. Tapi di kamar... Raka sering cerita sama Mbak kalau dia sebenarnya lelah. Dia cape kalau harus membagi waktunya antara mengurus pekerjaan, mengurus Mbak, dan harus terus menuruti kemanjaan adiknya."
Bagaikan disiram air es, wajah Jelita mendadak pucat.
"Kak Raka... bilang begitu sama Mbak Maya?" suara Jelita bergetar. Tenggorokannya terasa tersumbat.
"Kak Raka... merasa terbeban karena Jelita?"
Maya mengangguk pelan, menampilkan wajah penuh simpati palsu yang sangat meyakinkan.
"Mbak memberitahumu ini bukan karena Mbak benci padamu, Jelita. Mbak justru sayang padamu. Mbak ingin kamu belajar dewasa dan tidak menjadi beban untuk Kakakmu lagi. Kasihan Kak Raka, kan?"
Airmata bening menumpuk di pelupuk mata Jelita. Gadis kecil yang belum pernah merasakan kejahatan manipulasi itu menunduk dalam-dalam. Kata-kata Maya merasuk begitu dalam ke dalam pikirannya yang masih polos. Ia merasa sangat bersalah. Apakah selama ini senyuman dan kehangatan kakaknya hanyalah sebuah kepura-puraan demi menjaga perasaannya?
"J-Jelita... Jelita tidak tahu kalau Kak Raka merasa begitu..." bisik Jelita, air matanya menetes satu titik membasahi paha rok seragamnya.
"Maafkan Jelita, Mbak... Jelita janji tidak akan merepotkan Kak Raka lagi..."
Maya tersenyum penuh kemenangan di balik kepala Jelita yang menunduk. Ia merangkul bahu gadis itu, mengelus punggungnya dengan penuh kehangatan yang palsu.
"Anak pintar," bisik Maya merdu di telinga Jelita.
"Tidak apa-apa. Cukup kita berdua saja yang tahu percakapan ini, ya? Jangan cerita pada Kak Raka atau Ibu, nanti mereka bisa kepikiran dan suasana rumah jadi tidak enak. Janji?"
Jelita menyapu air matanya cepat-cepat, lalu mengangguk pelan.
"Iya, Mbak... Jelita janji."
R
Malam harinya, Raka pulang dari kantor dengan wajah berseri-seri. Setelah membersihkan diri, pria itu melangkah menuju kamar Jelita membawa sebuah kotak hadiah kecil, sebuah gantungan kunci kristal berbentuk anjing pudel yang pernah Jelita minta minggu lalu.
"Jelita!" panggil Raka seraya mendorong pintu kamar adiknya yang terbuka sedikit.
Jelita yang sedang duduk di meja belajar langsung menegang. Mengingat kembali ucapan Maya tadi siang, rasa bersalah langsung membakar dadanya. Ia takut keberadaannya hanya akan menyusahkan kakaknya.
"Eh... Kak Raka," sapa Jelita pelan. Senyuman yang biasanya langsung menyala cerah kini tampak redup dan dipaksakan.
Raka berjalan mendekat, menyodorkan kotak kecil itu dengan bangga.
"Lihat Kakak bawa apa! Gantungan kunci yang kamu mau minggu lalu. Lucu, kan?"
Jelita menatap kotak itu. Dulu, ia pasti sudah melompat girang dan memeluk leher Raka. Namun sekarang, bayangan ucapan Maya bahwa 'Raka merasa lelah karena kemanjaan adiknya', membuat tangan Jelita gemetar. Jelita tidak mengambil kotak itu. Ia justru menunduk dan menggeleng pelan.
"Terima kasih, Kak... Tapi, Jelita sudah tidak butuh gantungan kunci itu lagi," ujar Jelita dengan suara canggung yang sangat formal.
"Lagipula Kak Raka pasti capek baru pulang kantor. Kakak istirahat saja di kamar sama Mbak Maya. Jelita mau fokus belajar."
Raka terpaku di tempatnya. Tangannya yang memegang kotak hadiah menggantung di udara. Pria itu menatap adiknya dengan kening berkerut dalam. Belum pernah sekalipun Jelita menolak pemberiannya, apalagi menyuruhnya pergi dengan nada dingin dan kaku seperti itu.
"Jelita... kamu kenapa?" tanya Raka bingung, mencoba meraih tangan adiknya.
"Kamu sakit? Atau Kakak ada buat salah?"
Jelita dengan refleks menarik tangannya mundur sedikit, menghindar.
"Tidak ada, Kak. Jelita cuma mau belajar sendiri. Jelita kan sudah besar, tidak boleh manja terus."
Raka menatap adiknya dengan tatapan terluka dan bingung. Namun melihat Jelita yang kembali membuka bukunya tanpa memandangnya, Raka akhirnya menarik napas panjang.
"Ya sudah kalau begitu. Kalau butuh apa-apa, panggil Kakak ya."
Raka berbalik dan melangkah keluar kamar dengan hati ganjil. Di luar kamar, Maya sudah berdiri menunggunya di lorong remang-remang. Wanita itu memasang raut wajah khawatir yang sangat sempurna saat melihat Raka keluar dengan wajah lesu.
"Kenapa, Raka?" tanya Maya lembut seraya mengelus lengan suaminya. Raka menghela napas berat, menatap kotak hadiah di tangannya.
"Aku bingung, Maya. Jelita tiba-tiba berubah dingin. Dia tidak mau terima hadiah dariku, padahal kemarin dia yang minta. Apa dia sedang ada masalah di sekolah, ya?"
Maya menunduk sebentar, pura-pura ragu untuk berbicara, sebelum akhirnya menatap Raka dengan mata yang penuh kehati-hatian.
"Sebenarnya... tadi siang Mbak Asih cerita sama aku, Raka," bisik Maya dengan nada suara sangat pelan seolah membocorkan rahasia besar.
"Katanya Jelita tadi sore mengeluh, dia bilang dia risih kalau kamu terlalu sering mencampuri urusannya. Jelita merasa dia sudah remaja dan tidak mau ditekan-tekan lagi olehmu..."
Mata Raka membelalak tidak percaya.
"A-apa? Jelita bilang begitu?"
"Maya juga kaget dengarnya, Sayang," lanjut Maya seraya mengusap dada Raka untuk menenangkannya.
"Tapi ya... anak remaja umur empat belas tahun kan memang sedang emosional dan mulai berubah. Mungkin Jelita mulai bosan diperlakukan seperti anak kecil olehmu. Kamu jangan terlalu memaksanya ya, kasihan dia."
Raka mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa terkejut dan rasa kecewa merayap di dalam hatinya. Ia yang selama ini selalu membanggakan adiknya, merasa seperti dihantam kenyataan pahit bahwa kasih sayangnya kini dianggap sebagai beban oleh Jelita sendiri.
"Begitu ya..." gumam Raka dengan suara parau yang menyembunyikan rasa sakit hati.
"Aku tidak menyangka Jelita berpikir begitu tentangku."
Maya memeluk Raka dari samping, menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Dari balik bahu Raka, Maya menatap ke arah pintu kamar Jelita yang tertutup rapat. Sebuah senyuman tipis yang sangat beracun dan penuh keji terukir sempurna di bibir cantiknya.
'Langkah pertama berhasil,' bisik Maya dalam hatinya dengan kepuasan yang membakar.
'Benih keraguan pertama sudah tertanam. Sebentar lagi, tidak akan ada lagi tempat untukmu di rumah ini, Jelita.'
Di dalam kamar yang sunyi, Jelita menangis dalam diam menatap buku pelajarannya, meratapi keretakan pertama yang tak ia pahami. Dan di luar, kebohongan Maya mulai merajut benang-benang perangkap yang lebih gelap, perangkap yang akan menghancurkan seluruh kepercayaan, cinta, dan masa muda Jelita Prasetyo untuk selamanya.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang.