Ale Hiri
Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang
Mulai membaca
Dinding-dinding kediaman Prasetyo kini benar-benar membeku. Label "pencuri" yang disematkan secara sepihak tak hanya mematahkan hati Jelita Prasetyo, tetapi juga meracuni seluruh atmosfer rumah megah itu.
Pagi berganti sore, namun kehangatan tak kunjung kembali. Dulu, meja makan adalah tempat favorit Jelita untuk membagikan cerita sekolahnya. Kini, meja porselen luas itu terasa bagaikan medan sidang yang mengintimidasi.
Arman duduk di ujung meja dengan wajah tegang, membaca berkas kantor tanpa sekali pun melirik ke arah Jelita yang duduk terdiam di sudut paling jauh. Ratih memotong buah dengan gerakan kaku, tatapan matanya rumit, sarat akan kekecewaan, kepedihan, dan keraguan yang sengaja ia pelihara agar tidak berkonflik dengan suaminya.
Raka melangkah masuk ke ruang makan, menarik kursi persis di samping Maya. Pria itu menyendokkan nasi untuk istrinya tanpa menyapa adiknya sedikit pun. Jelita memegang sendoknya dengan tangan gemetar. Keheningan itu begitu berat hingga suara denting peralatan makan terasa menyayat telinganya.
"Ayah..." panggil Jelita, suaranya parau dan bergetar halus.
"Nilai ujian Biologi Jelita dapat seratus hari ini... Ibu mau lihat lembar jawabannya?"
Jelita mencoba mengulurkan kertas ujian bernilai sempurna itu dengan sisa keberanian yang ia miliki, berharap ada setitik kebanggaan yang bisa mencairkan es di antara mereka. Namun, Arman bahkan tidak mendongak dari tablet pintarnya.
"Nilai akademis tidak ada artinya kalau moralmu rusak, Jelita," sahut Arman, suaranya dingin bagaikan belati tajam.
"Ayah lebih bangga punya anak berkecukupan yang jujur daripada anak pintar yang tangannya panjang."
Deg.
Darah Jelita serasa berhenti mengalir. Kertas ujian di tangannya terlepas, jatuh melayang ke lantai.
"Ayah... Jelita tidak pernah mengambil barang siapa pun..." bisik Jelita, air mata yang ia tahan sejak pagi mulai merebak di pelupuk matanya.
"Kenapa Ayah tidak percaya? Jelita anak Ayah..."
"Cukup, Jelita!" sela Raka dengan nada membentak, membanting sendoknya ke atas piring porselen hingga menimbulkan suara nyaring.
"Jangan mulai bersandiwara lagi! Bukti kalung itu ada di kamarmu! Apa kurang jelas?!"
"Tapi bukan Jelita yang menaruhnya di sana, Kak Raka!" jerit Jelita, berpaling menatap kakaknya dengan pandangan putus asa.
"Ada orang lain yang menaruhnya! Mbak Maya yang—"
"Jelita!" Ratih akhirnya bersuara, memotong ucapan putrinya dengan napas memburu.
"Jangan melempar tuduhan sembarangan pada kakak iparmu! Mbak Maya dari tadi menangis membela kamu, meminta Ayah tidak melaporkan masalah ini! Kenapa kamu malah menuduh dia?!"
Maya yang duduk di sebelah Raka menundukkan kepala, mengusap sudut matanya dengan sapu tangan putih seraya terisak pelan.
"Tidak apa-apa, Ibu... Raka..." bisik Maya dengan nada teramat lembut dan terzalimi.
"Maya mengerti kalau Jelita benci pada Maya. Mungkin kedatangan Maya di rumah ini membuat Jelita merasa tersingkirkan... Kalau memang Jelita bahagia dengan menuduh Maya, tidak apa-apa... Maya terima..."
"Lihat itu, Jelita!" bentak Raka, matanya merah padam menatap adiknya.
"Mbak Maya masih memikirkan perasaanmu, sementara kamu terus-terusan memfitnah dia! Kamu benar-benar sudah tidak punya empati!"
Jelita memandangi mereka satu per satu. Ayahnya yang berwajah dingin, ibunya yang memalingkan muka, kakaknya yang menatapnya penuh kebencian, dan Maya, yang di balik sapu tangannya menyunggingkan senyum kemenangan yang amat tipis. Hati Jelita hancur. Bukan lagi berkeping-keping, melainkan lumat menjadi debu.
Sejak malam itu, status Jelita di rumah Prasetyo berubah sepenuhnya. Ia tak lagi diperlakukan sebagai putri kesayangan, melainkan tersangka abadi atas setiap kemalangan kecil yang terjadi di dalam rumah.
Dua hari kemudian, Bi Sumi, salah satu pembantu rumah tangga, panik karena kehilangan kunci gudang belakang. Sebelum ada yang sempat mencari, Raka sudah berdiri di depan kamar Jelita dengan tatapan menuduh.
"Jelita, kamu ambil kunci gudang?" tanya Raka tanpa basa-basi saat Jelita membuka pintu.
Jelita menatap kakaknya dengan mata sembap.
"Tidak, Kak. Jelita bahkan tidak tahu kunci gudang bentuknya seperti apa."
"Jawab yang jujur!" tekan Raka, memegang daun pintu kamar Jelita dengan cengkeraman kuat.
"Mbak Maya bilang dia lihat kamu jalan-jalan di dekat area dapur tadi pagi. Kembalikan kuncinya sebelum Ayah tahu!"
"Jelita bilang tidak, ya tidak, Kak Raka!" pekik Jelita, dadanya naik turun menahan gumpalan sesak.
"Kenapa sih... kenapa sekarang kalau ada barang hilang, selalu Jelita yang dituduh?! Kenapa Kakak tidak pernah mau dengar penjelasan Jelita?!"
"Karena kamu sudah kehilangan kepercayaan kami!" balasan Raka menancap telak di dada Jelita. Pria itu berbalik pergi tanpa memedulikan tangisan adiknya yang kembali pecah.
Beberapa jam kemudian, kunci itu ditemukan di bawah selipan taplak meja dapur, tempat Maya tak sengaja melupakannya. Namun, tidak ada satu pun kata maaf yang terucap untuk Jelita. Tidak dari Raka, tidak juga dari Arman. Bagi mereka, mencurigai Jelita sudah menjadi refleks baru yang wajar.
Ketidakadilan itu menyebar bagaikan wabah. Prasangka keluarga Prasetyo membuat Jelita semakin terisolasi.
Sore harinya, Jelita mencoba berjalan menuju halaman samping rumah untuk menyiram tanaman bunga favoritnya, kegiatan yang dulu selalu ia lakukan bersama ibunya. Saat ia memegang selang air, Ratih muncul dari balik pintu kaca.
"Jelita, sedang apa kamu?" tanya Ratih, nadanya datar dan penuh kewaspadaan.
"Jelita cuma mau menyiram bunga Ibu..." jawab Jelita pelan, berharap respon hangat dari ibunya.
Ratih menghela napas panjang, merampas selang air dari tangan Jelita secara halus namun tegas.
"Tidak usah. Biar Mbak Asih saja yang siram. Nanti kalau ada pot yang pecah atau tanaman yang rusak, kamu lagi yang disalahkan. Masuklah ke kamarmu, belajar."
Jelita menatap tangannya yang kosong.
"Ibu... Ibu takut Jelita merusak tanaman Ibu?"
Ratih tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya, menyalakan kran air tanpa menatap mata putrinya. Penolakan halus itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan Raka. Ibu yang dulu memeluknya setiap kali ia menangis, kini bahkan tidak sudi berbagi ruang dengannya di taman.
Jelita melangkah mundur. Dinding isolasi itu kini berdiri kokoh mengelilinginya. Rumah yang megah ini telah berubah menjadi penjara tanpa jeruji, di mana setiap langkahnya diawasi dan setiap geraknya dicurigai.
Malam harinya, ketika hujan gerimis menyapu kaca jendela, Jelita berjalan menyusuri lorong lantai dua yang remang-remang untuk mengambil air minum di dapur bawah.
Saat melewati area perpustakaan keluarga, ia mendengar suara bisikan dari balik pintu yang sedikit terbuka. Suara Maya dan Raka. Jelita menghentikan langkahnya, bersembunyi di balik bayangan dinding.
"Raka... kasihan Jelita," suara Maya terdengar begitu lembut, penuh belas kasihan palsu.
"Dia makin mengurung diri di kamar. Mbak khawatir mentalnya terganggu..."
"Biarkan saja, Maya," sahut Raka, suaranya terdengar lelah dan keras.
"Dia harus sadar kalau perbuatannya itu salah. Kalau kita terlalu lembek, dia tidak akan pernah berubah. Aku hanya tidak menyangka, adik yang aku rawat dari kecil bisa tumbuh jadi anak yang manipulatif seperti itu."
"Tapi... bagaimana kalau dia makin benci sama aku?" bisik Maya lagi, nada suaranya mengayunkan simpati.
"Aku merasa jadi penyebab rumah ini dingin..."
"Ini bukan salahmu, Maya!" pangkas Raka cepat, terdengar sangat protektif.
"Kamu itu korban di sini! Jangan salahkan dirimu sendiri. Jelita yang harus belajar bertanggung jawab atas watak buruknya."
Di balik dinding, Jelita menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Tangisnya pecah tanpa suara. Air mata hangat membasahi jemarinya.
'Watak buruk? Anak manipulatif?'
Apakah begitu citra dirinya di mata orang-orang yang paling ia cintai? Apakah empat belas tahun kebaikan, kejujuran, dan kehangatan yang ia berikan terhapus begitu saja hanya karena beberapa tuduhan tanpa bukti nyata?
Jelita berbalik, berlari pelan kembali menuju kamarnya tanpa jadi mengambil air minum. Ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, menguncinya dari dalam, lalu terduduk lemas di balik pintu.
Gadis kecil itu memeluk lututnya, menyandarkan kepala pada pintu kayu yang dingin. Di dalam kegelapan kamar, ia menatap deretan piala dan foto-foto masa kecilnya yang berdebu. Dulu, foto-foto itu adalah bukti betapa ia dicintai. Kini, foto-foto itu hanya menjadi pengingat pahit atas kebahagiaan yang telah direnggut darinya. Jelita mengepalkan tangannya di atas dada yang terasa hampa dan sakit.
"Aku tidak salah..." bisik Jelita pada kegelapan malam, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin di luar.
"Aku tidak pernah mencuri... Kenapa tidak ada satu orang pun yang mau mendengarkan aku...?"
Tidak ada jawaban. Rumah Prasetyo tetap membisu, membiarkan benih kebencian yang ditanam Maya terus tumbuh subur, di mana air mata kesedihan Jelita tak lagi mampu menyentuh hati siapa pun di rumah itu.