CeritaGW
Buku / Bab
Bab 061.534 kata

Airmata yang Tak Dipercaya

AH

Ale Hiri

Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang

Mulai membaca

Keheningan di kediaman Prasetyo kini merayap menjadi teror psikologis yang tak kasat mata. Nama "Jelita" tak lagi diucapkan dengan nada bangga. Di mata seluruh penghuni rumah, gadis berusia empat belas tahun itu telah bergeser dari sosok putri berprestasi menjadi cela yang mencoreng nama baik keluarga.

Malam itu, hujan gerimis mengguyur jendela kaca ruang keluarga. Lampu gantung kristal membiaskan cahaya hangat yang mewah, namun hawa di dalam ruangan terasa bagaikan lemari es.

Arman duduk di sofa utama, menatap lembaran laporan keuangan dengan raut wajah kaku. Di sebelahnya, Ratih sedang merajut, namun jemarinya kerap kali berhenti, matanya yang redup terus melirik ke arah lorong lantai atas. Sementara itu, Raka duduk di meja sudut bersama Maya, mengusap lembut jemari istrinya yang pura-pura mengantuk.

Jelita melangkah turun dari tangga kayu jati dengan perlahan. Langkah kakinya begitu kaku. Matanya sembap, memerah, dan bengkak akibat tangisan tanpa henti selama berminggu-minggu. Penampilannya tak lagi sepadan dengan sebutan gadis yang selalu tersenyum; kaus tipis yang ia kenakan tampak kebesaran di tubuhnya yang mulai mengurus karena kehilangan nafsu makan.

Dada Jelita gemetar hebat. Ia tidak bisa lagi terus-terusan hidup dalam pengasingan ini. Kesunyian yang mencekik dan pandangan benci dari orang-orang tercintanya terasa jauh lebih menyiksa daripada hukuman fisik apa pun. Ia butuh rumahnya kembali. Ia butuh keluarganya kembali.

Dengan sisa keberanian yang membakar napasnya, Jelita berjalan mendekat ke tengah ruang keluarga.

Bruk.

Kedua lututnya dihantamkan begitu saja ke lantai marmer yang dingin. Jelita bersimpuh tepat di depan meja Arman dan Ratih. Dontak, perajut di tangan Ratih terjatuh. Arman menghentikan gerakannya, memandang putrinya dengan dahi berkerut dalam. Raka dan Maya memutar tubuh mereka, menatap pemandangan itu dengan reaksi yang amat bertolak belakang.

"Jelita? Apa-apaan kamu ini?" tegur Arman, suaranya berat dan sarat akan kekecewaan yang tak disembunyikan. 

"Berdiri! Jangan buat drama di depan Ayah!"

Jelita tidak berdiri. Ia justru menundukkan kepalanya hingga dahinya hampir menyentuh marmer. Air mata yang sejak tadi ditahannya pecah seketika, mengalir membasahi lantai.

"Ayah... Ibu... Kak Raka..." jerit Jelita, suaranya parau, serak, dan pecah oleh rasa sakit yang sudah meluap melewati batas kemampuannya. 

"Demi Allah... Jelita tidak pernah mencuri uang Mbak Maya. Jelita tidak pernah mengambil kalung emas itu. Tolong... tolong percaya padaku sekali ini saja..."

"Jelita, bangun, Nak..." bisik Ratih, tangannya terulur secara refleks karena iba. Namun, saat Ratih melirik ke arah Arman, pria itu memberi isyarat tangan agar Ratih tetap diam. Tangannya pun kembali ditarik.

Jelita mendongak. Di wajahnya yang pucat, air mata membasahi pipinya tanpa henti. Matanya menatap Arman dengan keputusasaan yang begitu dalam.

"Ayah... Jelita ini anak Ayah," bisik Jelita seraya merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon bagaikan seorang pesakitan yang menunggu vonis mati. 

"Empat belas tahun Jelita hidup bersama Ayah dan Ibu... Apa Jelita pernah berbohong? Apa Jelita pernah mengambil barang orang lain? Kenapa... kenapa cuma karena tuduhan tanpa bukti ini, Ayah dan Ibu membuang Jelita begitu saja?!"

Arman mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas lutut. Wajah pria paruh baya itu memerah. 

"Tanpa bukti kamu bilang?!" bentak Arman, suaranya menggelegar menembus keheningan malam. 

"Kalung itu ditemukan di bawah bantal tempat tidurmu sendiri! Kamu sendiri yang memegang uang di meja rias Maya! Apa itu masih kamu sebut tanpa bukti?!"

"Tapi bukan Jelita yang menaruhnya di sana, Ayah!" pangkas Jelita histeris, tubuhnya gemetar dari kepala hingga ujung kaki. 

"Ada orang yang sengaja memfitnah Jelita! Ada yang ingin menjatuhkan Jelita di rumah ini!"

Raka berdiri dari duduknya, melangkah maju dengan tatapan mata yang dipenuhi kemarahan murni. 

"Cukup, Jelita! Cukup!" seru Raka keras, menunjuk wajah adiknya. 

"Sampai detik ini kamu masih saja berbohong dan melempar kesalahan pada orang lain?! Kamu mau menuduh siapa lagi? Pembantu? Atau kamu mau menuduh Mbak Maya lagi seperti kemarin?!"

"Memang Mbak Maya pelakunya, Kak Raka!" jerit Jelita tanpa mampu menahan kepedihannya lagi. 

"Mbak Maya yang sengaja menaruh kalung itu! Mbak Maya yang berpura-pura kehilangan uang! Dia benci sama Jelita! Dia mau menyingkirkan Jelita dari rumah ini!"

"Jelita!" Raka melangkah maju seraya mengepalkan tangan, seolah hendak meluapkan amarahnya, namun langkahnya tertahan ketika Maya menangis terisak dan memegang lengan suaminya dari belakang.

Maya berdiri, wajahnya tertutup air mata yang mengalir deras. Tubuhnya gemetar hebat, menampilkan ekspresi seorang wanita lembut yang hatinya hancur karena difitnah berulang kali oleh adik iparnya sendiri.

"Raka... sudah... jangan marahi Jelita..." bisik Maya dengan suara terputus-putus oleh isakan, melangkah mendekat dengan gestur yang teramat rapuh. 

"Mungkin... mungkin ini memang salah Maya. Kehadiran Maya di rumah ini membuat Jelita merasa terancam..."

Maya berlutut perlahan di samping Jelita, meraih bahu gadis itu dengan kelembutan yang terencana dengan amat rapi. Pandangan Maya menatap Jelita dengan rasa iba yang dibuat-buat, namun di kedalaman matanya, ada kilatan kepuasan yang dingin.

"Jelita sayang..." panggil Maya, suaranya mendayu-dayu, terdengar bagaikan malaikat pembawa damai di hadapan Arman dan Ratih. 

"Mbak maafkan kalau Jelita benci pada Mbak. Mbak tidak marah kalung itu diambil... Mbak juga tidak marah uang itu hilang... Tapi tolong, Jelita, jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini..."

Maya mendongak menatap Arman dan Ratih dengan wajah terurai air mata, seolah sedang menyampaikan sebuah analisis yang teramat bijaksana dan penuh kasih.

"Ayah... Ibu..." bisik Maya, suaranya bergetar prihatin. 

"Tolong jangan terlalu keras pada Jelita. Maya rasa... Jelita melakukan semua ini bukan karena berniat jahat atau ingin mencuri... Mungking Jelita hanya sedang mencari perhatian kita semua."

Deg.

Kalimat itu terucap dari bibir Maya bagaikan anak panah beracun yang ditancapkan persis di pusat jantung permasalahan. Kalimat yang tampak membela, namun pada kenyataannya membunuh seluruh sisa martabat dan integritas Jelita. Maya mengusap pipi Jelita yang basah, melanjutkan sandiwaranya. 

"Sejak Raka dan Maya menikah, fokus keluarga kan terbagi. Jelita mungkin merasa tidak lagi jadi pusat perhatian seperti dulu. Makanya dia melakukan hal-hal nekat ini agar Ayah, Ibu, dan Raka kembali memperhatikan dia... Kan, Jelita?"

"Bukan!" jerit Jelita, menepis tangan Maya dari pipinya dengan kasar. 

"Jangan sentuh aku! Aku tidak butuh perhatian dengan cara mencuri! Kamu iblis, Mbak Maya! Kamu bohong!"

Brak!

Arman memukul meja kayu jati di sampingnya dengan telapak tangan, berdiri tegak dengan wajah yang murka luar biasa. Pukulan itu begitu keras hingga cangkir teh di atasnya bergetar nyaring.

"Jelita Prasetyo!" raung Arman, suaranya begitu dingin dan berwibawa, sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. 

"Tutup mulutmu! Kakak iparmu masih berusaha memahamimu dan membela dirimu di hadapan Ayah, tapi kamu malah memaki dan menepisnya seperti binatang!"

Jelita terpaku, menatap ayahnya dengan sepasang mata yang kehilangan binar kehidupan. 

"Ayah... dia bohong... Kenapa Ayah lebih percaya pada orang asing daripada anak Ayah sendiri...?"

Arman menatap Jelita dengan kekecewaan yang telah mengkristal menjadi kebencian kaku. 

"Karena orang asing yang kamu sebut itu punya moral dan tenggang rasa! Sementara kamu... air matamu itu tidak ada artinya lagi untuk Ayah!"

'Air matamu tidak ada artinya lagi untuk Ayah.'

Kalimat itu bergema berulang-ulang di dalam kepala Jelita. Memantul di dinding-dinding hatinya yang sudah remuk. Gadis kecil itu terdiam seketika. Isakannya berhenti secara mendadak. Udara di dalam paru-parunya serasa tersedot habis.

Jelita mengalihkan pandangannya pada ibunya. Ratih menunduk dalam-dalam, mengusap air matanya sendiri tanpa berani menatap mata putrinya. Ia diam, dan kediamannya adalah konfirmasi terkejam bahwa sang ibu pun telah menerima narasi Maya: bahwa Jelita adalah seorang anak haus perhatian yang bersandiwara.

Jelita memandang Raka. Kakak laki-lakinya itu memalingkan wajah, merangkul bahu Maya yang masih berpura-pura terisak pelan di lantai. Raka menatap Jelita hanya dengan tatapan jijik dan muak. Di detik itu, sesuatu dalam diri Jelita Prasetyo patah untuk selamanya.

Tangisnya berhenti total. Tidak ada lagi air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Kehangatan, rasa aman, dan kepercayaan yang selama empat belas tahun dibangun di dalam rumah ini mendadak musnah tanpa sisa. Rumah megah keluarga Prasetyo bukan lagi tempat berteduh, melainkan sebuah medan pertempuran di mana ia telah kalah sebelum sempat bertarung.

Maya yang berada dalam pelukan Raka melirik sekilas ke arah Jelita. Di balik bahu suaminya, Maya mengulurkan senyuman tipis, sebuah senyuman penuh keangkuhan yang mengabarkan bahwa skenario "mencari perhatian" yang ia ciptakan telah sukses besar mematikan seluruh pembelaan Jelita.

Jelita berdiri perlahan dari lantai marmer yang dingin. Gerakannya lambat, bagaikan sebuah boneka kayu yang kehabisan daya. Ia tidak lagi memohon. Ia tidak lagi menjerit. Wajahnya mendadak menjadi sangat datar, hampa, dan tak berekspresi.

"Baik..." bisik Jelita, suaranya terdengar begitu datar dan dingin, tak lagi menyerupai suara gadis kecil yang dulu selalu riang. 

"Kalau Ayah, Ibu, dan Kak Raka memang lebih memilih percaya pada kebohongan ini... Jelita tidak akan pernah bertanya lagi."

Jelita berbalik tanpa menunggu jawaban dari siapa pun. Langkah kakinya menyusuri anak tangga satu per satu, menaiki lantai dua menuju kamarnya. Tidak ada derap langkah riang seperti sebelumnya. Yang tersisa hanyalah bayangan seorang gadis muda yang jiwanya baru saja dihancurkan oleh orang-orang yang paling ia cintai.

Klek.

Pintu kamar tertutup pelan. Jelita melangkah menuju cermin besar di sudut ruangan. Ia menatap pantulan dirinya. Bibirnya pucat, matanya kosong dan mati, pipinya tirus. Gadis yang selalu tersenyum, telah lenyap. Yang berdiri di depan cermin hanyalah sesosok cangkang hampa.

Jelita berjalan mendekati meja belajarnya. Ia mengambil foto keluarga berbingkai emas yang selama ini menjadi benda kesayangannya. Dengan tangan yang tak lagi bergetar, Jelita membalikkan bingkai foto itu, menaruhnya tengkurap di atas meja, menutup wajah-wajah orang yang dulu ia sebut sebagai pelindung.

"Kalian bukan keluargaku lagi..." bisik Jelita pada keheningan kamar.

Di luar, gerimis berubah menjadi hujan deras yang membilas kegelapan malam. Kebohongan Maya tak sekadar merenggut kepercayaan keluarga Prasetyo, melainkan telah membuka jalan bagi rangkaian fitnah yang merusak reputasi Jelita.

Bab selanjutnya

07 - Kebohongan yang Menyakinkan

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 06 / 7
Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang
05

Semua Menuding Jelita

1.274 kata / Tersedia

06

Airmata yang Tak Dipercaya

1.534 kata / Sedang dibaca

07

Kebohongan yang Menyakinkan

1.651 kata / Tersedia