Ale Hiri
Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang
Mulai membaca
Mentari pagi membiaskan sinar keemasan menerobos tirai jendela kamar yang setengah terbuka, memantulkan pijar hangat di atas meja belajar bergaya minimalis. Di sana, dikelilingi tumpukan buku pelajaran bersampul rapi dan deretan piala yang berjejer gagah, seorang gadis berusia empat belas tahun sedang merapikan seragam sekolahnya.
Jelita Prasetyo.
Nama itu sungguh mencerminkan sosoknya. Parasnya yang ayu dengan sepasang mata berbinar jernih, pipi yang selalu merona saat tertawa, dan senyuman manis yang tak pernah absen dari bibirnya, membuat siapa saja yang memandangnya merasa hangat. Pagi itu, tawa renyahnya memecah keheningan lantai dua rumah megah keluarga Prasetyo.
"Kak Raka! Jangan sembunyikan sepatu Jelita lagi! Nanti Jelita terlambat!" jerit Jelita dengan suara melengking namun penuh nada gurauan.
Di luar kamar, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun bersandar di daun pintu. Raka Prasetyo, sang kakak, terkekeh sembari mengayun-ayunkan sepasang sepatu kets putih milik adiknya di ujung jari telunjuk.
"Siapa suruh tidurnya seperti kerbau? Kakak sudah mengetuk pintumu tiga kali, tahu!" goda Raka seraya memamerkan deretan giginya yang putih.
Jelita keluar dari kamar dengan cemberut yang dibuat-buat, kedua tangannya bersedekap di dada. Namun, kilatan jahil di matanya sama sekali tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Semalam Jelita belajar sampai jam dua pagi untuk ujian Matematika hari ini, Kak! Kembalikan tidak sepatunya?"
"Coba ambil kalau bisa," tantang Raka, lalu berbalik dan berlari menuruni anak tangga dengan lincah.
"Kak Raka!" Jelita menyambar tas punggungnya dan ikut berlari mengejar sang kakak. Suara derap langkah kaki mereka yang ramai menggetarkan tangga kayu jati, disambut gelengan kepala dari sang ibu yang sudah menunggu di meja makan.
Di ruang makan yang luas dan elegan, Ratih Prasetyo sedang menata cangkir teh hangat di dekat piring porselen berisi nasi goreng aromatik. Suaminya, Arman Prasetyo, duduk anggun di ujung meja sambil membaca warta bisnis di tablet pintarnya. Pria paruh baya yang disegani di dunia usaha itu melepas kacamata bacanya begitu melihat kedua buah hatinya riuh berhamburan ke ruang makan.
"Raka, Jelita... Jangan berlarian di tangga. Kalian ini sudah besar, masih saja seperti anak kecil," tegur Ratih lembut, meski sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh kasih sayang.
"Kak Raka yang mulai duluan, Bu!" aduh Jelita cepat-cepat seraya menarik kursi di samping ayahnya. Ia memasang wajah memohon yang menggemaskan pada Arman.
"Ayah, lihat Kak Raka. Sepatu Jelita disembunyikan di atas lemari pajangan!"
Arman tertawa terkekeh, suara bass-nya memenuhi ruangan. Pria itu mengusap lembut puncak kepala putri bungsunya.
"Raka, jangan menggoda adikmu terus. Nanti kalau nilai Matematika Jelita turun karena panik, kamu yang Ayah potong uang sakunya."
"Yah... kok Raka yang kena, Ayah?" protes Raka sambil pura-pura cemberut. Ia mengambil sepatu kets Jelita dari atas lemari dan meletakkannya di dekat kaki adiknya.
"Lagipula, mana mungkin putri kesayangan Ayah ini nilainya turun? Jelita kan si jenius Prasetyo. Iya kan, Dek?"
Jelita menjulurkan lidahnya pada Raka, lalu tertawa lepas. Senyumannya begitu cerah, seolah sanggup menerangi sudut tergelap di dunia mana pun. Bagi keluarga Prasetyo, Jelita adalah pusat kebahagiaan. Di sekolah, ia tak hanya dikenal sebagai murid yang selalu meraih juara umum, tetapi juga sosok sahabat yang rendah hati, sopan, dan tak segan mengulurkan tangan bagi siapa saja yang membutuhkan. Di rumah, ia adalah penyejuk suasana. Kehadirannya selalu melengkapi kesempurnaan keluarga yang dipenuhi limpahan materi dan cinta kasih tersebut.
"Makan sarapanmu dulu, Jelita. Jangan terlalu banyak bercanda," bisik Ratih seraya menggeser piring nasi goreng ke hadapan putrinya.
"Nanti makin siang jalanan macet."
"Siap, Ibunda Ratih yang paling cantik!" jawab Jelita riang, lalu mulai menyuap sarapannya dengan cermat.
Di sela-sela mengunyah, Jelita menatap ketiga anggota keluarganya secara bergantian. Ada Ayah yang selalu menjadi pelindung terdepan, Ibu yang lembut dan tak pernah lelah merawat mereka, serta Kak Raka, kakak laki-laki terbaik yang selalu siap pasang badan untuknya. Dada Jelita berdesir penuh rasa syukur. Sungguh, tak ada hal lain di dunia ini yang ia inginkan selain kehangatan ini bertahan selamanya.
Pukul 06.45 WIB, sepeda motor sport hitam milik Raka membelah jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan. Jelita duduk di jok belakang, memeluk pinggang kakaknya erat-erat saat angin pagi menyapu wajah mereka.
Setiap pagi, Raka yang baru menyelesaikan kuliah semester akhirnya selalu menyempatkan diri untuk mengantar Jelita sampai ke depan gerbang sekolah, sebelum ia sendiri berangkat menuju kampusnya.
"Kak!" teriak Jelita menembus deru angin dan suara knalpot.
"Kenapa, Dek?" balas Raka setengah berteriak.
"Nanti sore Kak Raka janji kan mau mengantarkanku membeli buku novel yang baru terbit itu?"
Raka melirik dari kaca spion, melihat raut wajah adiknya yang penuh harap melalui pantulan helmet.
"Tergantung. Kalau ujian Matematika hari ini kamu dapat nilai seratus, Kakak traktir novelnya sekalian es krim rasa vanilla kesukaanmu!"
"Deal! Awas ya kalau Kak Raka ingkar janji!" seru Jelita girang, mempererat pelukannya di pinggang Raka.
Motor berhenti tepat di depan gerbang Sekolah Menengah Pertama Nusantara. Suasana di depan sekolah sangat ramai dengan lalu lalang siswa dan orang tua yang mengantar. Jelita turun dari motor, merapikan rok seragamnya, lalu melepas helm dan menyerahkannya kembali kepada Raka. Raka mengambil helm itu, lalu menyentil dahi Jelita pelan.
"Aduh! Sakit, Kak!" ringis Jelita sambil mengusap dahinya, meski matanya menyipit tertawa.
"Fokus ujiannya, Jelita. Jangan melamun," ujar Raka dengan nada bicara yang mendadak serius namun hangat. Tangannya terulur merapikan kerah seragam adiknya.
"Ingat, kamu itu kebanggaan Kakak. Jangan biarkan siapapun merusak senyummu hari ini. Kalau ada anak laki-laki yang mengganggumu di kelas, bilang pada Kakak. Biar Kakak datangi dia."
Jelita tertawa renyah mendengar nada protektif kakaknya.
"Kak Raka ini berlebihan sekali! Siapa juga yang berani mengganggu adiknya Kak Raka yang galak ini?"
"Baguslah kalau mereka paham," sahut Raka terkekeh. Pria itu mengacak rambut Jelita dengan penuh kasih sayang.
"Sana masuk. Semoga berhasil ujiannya, Dek."
"Terima kasih, Kak Raka! Hati-hati di jalan ya!"
Jelita mencium punggung tangan kakaknya dengan takzim, sebuah kebiasaan yang tak pernah ia lewatkan. Setelah itu, ia berbalik dan melangkah memasuki area sekolah. Sepanjang koridor menuju kelasnya, sapaan hangat mengalir dari teman-teman maupun para guru.
"Selamat pagi, Jelita!"
"Pagi, Jelita! Wah, senyummu cerah sekali pagi ini!"
"Pagi, Jelita! Nanti mengajariku belajar kelompok lagi, ya?"
Jelita membalas setiap sapaan itu dengan anggukan dan senyuman terbaiknya. Tidak ada kesombongan pada dirinya, meskipun ia adalah putri dari pengusaha terpandang dan murid paling berprestasi di sekolah itu. Kebaikan hatinya begitu murni, memancar murni dari mengalirnya rasa dicintai yang melimpah di dalam rumahnya.
Sore harinya, sesuai janjinya, Raka benar-benar menjemput Jelita dan mengantarnya ke toko buku terbesar di pusat kota. Setelah membelikan novel pilihan Jelita dan mengajaknya menikmati es krim vanilla di sebuah kafe terbuka, mereka pulang saat matahari mulai tenggelam di batas cakrawala.
Suasana rumah keluarga Prasetyo sore itu tampak agak berbeda dari biasanya. Sebuah mobil sedan perak terparkir di halaman depan.
"Ada tamu ya, Kak?" tanya Jelita seraya melepaskan helmnya.
Raka mematikan mesin motor, pandangannya tertuju pada mobil tersebut. Senyum tipis terukir di wajahnya, sebuah senyuman yang jarang Jelita lihat, memancarkan sedikit rona malu dan kebahagiaan yang berbeda.
"Bukan tamu biasa, Dek," jawab Raka pelan seraya turun dari motor. Ia menatap adiknya dengan binar mata yang hangat.
"Kakak ingin mengenalkan seseorang padamu. Seseorang yang sangat spesial untuk Kakak."
Dahi Jelita berkerut halus, namun rasa ingin tahunya membumbung tinggi.
"Seseorang yang spesial? Siapa, Kak?"
"Ayo masuk, nanti kamu juga tahu," ujar Raka seraya merangkul bahu adiknya, menuntun Jelita melangkah menuju pintu utama rumah mereka.
Begitu memasuki rumah, suara tawa ramah Ratih dan Arman terdengar dari ruang tamu utama. Dari balik pilar megah, Jelita melihat seorang wanita muda bergaun merah muda lembut sedang duduk anggun di sofa kulit. Wanita itu memiliki paras yang cantik menawan, kulit putih bersih, dengan tata krama yang terlihat sangat sopan saat berbicara dengan kedua orang tuanya. Ratih mendongak dan tersenyum lebar saat melihat Raka dan Jelita melangkah masuk.
"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu," kata Ratih lembut seraya mengisyaratkan mereka untuk mendekat.
"Jelita, Raka, mari sini."
Wanita muda itu berdiri dari duduknya, memutar tubuhnya dengan anggun. Senyuman manis terukir di bibirnya yang dipoles lipstik tipis. Matanya yang indah menatap Jelita dari atas sampai ke bawah dengan tatapan yang sangat lembut, atau setidaknya, begitu kelihatannya.
"Jelita, kenalkan... ini Maya," ujar Raka, suaranya terdengar begitu bangga dan penuh kehangatan saat menyebut nama itu. Pria itu menatap Maya dengan pandangan penuh cinta.
"Maya ini... calon istri Kakak. Minggu depan Kakak dan Maya akan melangsungkan pertunangan."
Jelita terpaku sejenak. Namun rasa terkejut itu dengan cepat tergantikan oleh rasa gembira yang murni. Kakak kesayangannya akan menikah! Itu artinya, ia akan memiliki seorang kakak ipar yang bisa menemaninya di rumah ini. Jelita melangkah maju dengan antusias, mengulurkan tangannya seraya memamerkan senyuman paling cerah yang ia miliki.
"Halo, Mbak Maya! Aku Jelita," sapa Jelita dengan nada suara yang jujur dan hangat.
"Selamat datang di rumah kami! Aku senang sekali akhirnya Kak Raka punya calon istri secantik Mbak Maya!"
Maya menerima uluran tangan Jelita. Genggamannya halus dan hangat. Wanita itu membungkuk sedikit, menyejajarkan tingginya dengan Jelita, lalu mengusap pipi Jelita dengan penuh kelembutan.
"Halo, Jelita sayang..." bisik Maya dengan suara yang begitu merdu dan menenangkan, bagaikan alunan musik yang indah.
"Raka sering sekali menceritakan betapa cantiknya adiknya ini. Ternyata aslinya jauh lebih cantik dan manis. Mbak bahagia sekali akhirnya bisa bertemu denganmu."
Arman dan Ratih tersenyum bahagia menyaksikan interaksi tersebut. Raka menatap pemandangan itu dengan dada yang berdesir lega, merasa bahwa kehidupannya kini telah berada di puncak kesempurnaan.
Di tengah kehangatan ruang tamu itu, Jelita membalas tatapan Maya dengan senyuman yang murni, sama sekali tak menyadari bahwa di balik pupil mata Maya yang indah dan suara merdunya yang menenangkan, ada sebuah kegelapan yang mulai mengkristal.
Jelita tidak pernah tahu bahwa uluran tangannya sore itu adalah awal dari benang-benang takdir yang akan menjerat jiwanya. Ia tidak tahu bahwa senyuman cerah yang menghiasi wajahnya hari ini akan menjadi hal pertama yang ingin dihancurkan oleh wanita di depannya.
Gadis yang selalu tersenyum itu tak pernah menduga, bahwa kehangatan rumah yang paling ia cintai ini, perlahan-lahan akan berubah menjadi neraka yang paling dingin dalam hidupnya.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang.