CeritaGW
Buku / Bab
Bab 071.651 kata

Kebohongan yang Menyakinkan

AH

Ale Hiri

Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang

Mulai membaca

Keheningan di kediaman Prasetyo kini berubah menjadi atmosfer pemicu yang berbahaya. Bagi Maya Anggraini, keberhasilannya membungkam pembelaan Jelita tidak membuatnya puas. Justru sebaliknya, itu adalah lampu hijau untuk melancarkan serangan yang lebih masif. Maya paham betul, selama nama baik Jelita di luar rumah masih bersih dan para pembantu rumah tangga masih menaruh simpati padanya, posisi gadis itu belum sepenuhnya runtuh.

Pagi itu, hawa dingin sisa hujan semalam masih mengepung kawasan perumahan elit tersebut. Di area dapur belakang, Bi Sumi dan Pak Mamat, supir keluarga, sedang merapikan bahan makanan. Bi Sumi menatap iba ke arah pintu kamar Jelita yang tertutup rapat.

"Kasihan Non Jelita... biasanya pagi-pagi begini sudah di dapur minta dibuatkan susu panas sambil tersenyum manis," bisik Bi Sumi pelan pada Pak Mamat. 

"Saya masih tak percaya Non Jelita begitu..."

"Ssst! Jangan keras-keras, Bi," pangkas Pak Mamat seraya melirik tangga.

 "Nanti terdengar Mas Raka atau Pak Arman, kita yang kena masalah."

Tanpa mereka sadari, Maya berdiri di sudut lorong dekat ruang makan, menyerap setiap kata dari percakapan itu. Jarinya mengepal halus di balik gaun mewahnya. 

"Pembantu-pembantu ini masih membelanya?"* batin Maya dingin. 

"Akan kubuat kalian sendiri yang membuangnya."

Pukul sebelas siang, ketika Arman sedang bekerja di kantor dan Raka ada di ruang kerjanya di lantai atas, rencana Maya dimulai. Maya berjalan ke dapur dengan langkah lemas, memegangi dadanya seraya meringis sakit. Wajah cantiknya dipasang raut penuh tekanan.

"Bi... Bi Sumi..." panggil Maya dengan suara parau dan bergetar.

Bi Sumi yang sedang memotong sayuran terkejut dan segera menghampiri. 

"Eh, Mbak Maya! Ada apa, Mbak? Kok wajahnya pucat sekali?"

Maya memegang tangan Bi Sumi, matanya berkaca-kaca. 

"Bi... tolong saya. Tadi... tadi saya coba bicara baik-baik dengan Jelita di kamarnya. Saya cuma mau antar buah segar..."

Dahi Bi Sumi berkerut bingung. 

"Lalu ada apa, Mbak?"

"Jelita marah besar, Bi!" seru Maya seraya menahan isak tangis yang begitu meyakinkan. 

"Dia... dia membanting piring buahnya ke lantai. Dia bilang, dia benci semua orang di rumah ini, termasuk Bibi dan Pak Mamat! Dia bilang Bibi sama Pak Mamat itu pembantu muka dua yang suka menceritakan keburukan keluarga ini ke tetangga!"

Bi Sumi membelalakkan mata, kaget bukan main. 

"N-Non Jelita bilang begitu tentang saya dan Pak Mamat, Mbak? Tapi... tapi saya tidak pernah—"

"Saya tahu Bibi tidak begitu!" potong Maya cepat, memegang jemari Bi Sumi dengan hangat. 

"Makanya saya bela Bibi! Tapi Jelita malah menghasut saya. Dia bilang kalau Bibi tidak mau turuti kemauannya untuk menyembunyikan barang-barang saya lagi, dia bakal minta Ayah memecat Bibi dan Pak Mamat! Saya takut sekali, Bi... Saya tidak tahu kenapa Jelita berubah jadi sekejam ini..."

Bi Sumi membeku. Rasa kasihan dan simpati yang selama ini ia simpan untuk Jelita mendadak runtuh, berganti menjadi rasa takut dan kekecewaan yang mendalam. Kebohongan Maya yang dibungkus rapi oleh posisi status sosialnya sebagai menantu utama membuat pekerja rumah tangga itu menelan mentah-mentah cerita palsu tersebut.

Tak berhenti di dalam rumah, racun fitnah Maya mulai menyebar ke luar benteng kediaman Prasetyo.

Sore harinya, beberapa wanita kompleks perumahan, para tetangga terpandang, datang berkunjung untuk acara minum teh sore bersama Ratih. Maya menyambut mereka dengan sangat ramah, menyajikan kue-kue buatan sendiri dengan kelembutan yang memikat hati semua orang.

Saat Ratih sedang ke kamar mandi, salah satu tetangga, Bu Siska, berbisik pada Maya.

"Jelita mana, Maya? Kok belakangan ini jarang kelihatan ikut kumpul atau menyapa di luar?" tanya Bu Siska penasaran.

Maya mendesah pelan, menundukkan kepala dengan raut wajah terpukul. Tangannya meremas taplak meja meja dengan canggung.

"Aduh, Bu Siska. Maya sebenarnya bingung mau cerita bagaimana," bisik Maya, suaranya sengaja direndahkan agar terkesan seperti rahasia keluarga yang menyakitkan. 

"Jelita... belakangan ini agak berubah. Kami di rumah sedang prihatin sekali."

"Berubah bagaimana, Maya?" Bu Siska dan dua tetangga lainnya mendongak, mendekatkan posisi duduk mereka.

"Dia... sering bicara kasar sama Ibu dan Ayah," bohong Maya dengan mata yang memerah sempurna. "Bahkan kemarin di sekolah, gurunya menelpon, Jelita ketahuan membuat keributan dan membully temannya karena iri masalah nilai. Tadi siang waktu saya tegur baik-baik, dia malah menyebarkan gosip ke tetangga sebelah kalau kami pilih kasih."

Para tetangga itu menutup mulut mereka rapat-rapat, terperanjat.

"Ya ampun! Padahal kelihatannya anak manis dan cerdas ya!" bisik Bu Siska tak percaya. 

"Ternyata di balik wajah polosnya begitu? Kasihan sekali Ratih sama Pak Arman punya anak gadis sekeras kepala itu!"

"Tolong ya, Bu... jangan cerita ke siapa-siapa," pinta Maya dengan wajah memohon yang begitu manipulatif. 

"Maya cuma minta doa dari Ibu-ibu sekalian supaya Jelita bisa sadar dan tidak membuat malu keluarga Prasetyo lagi..."

Tanpa ada yang menyadari, narasi bahwa Jelita adalah gadis bermuka dua yang pembuat onar kini telah terkunci rapat di pikiran para tetangga. Dalam hitungan jam, citra manis Jelita yang dibangun selama empat belas tahun hancur berantakan di lingkungan tempat tinggalnya sendiri.

Puncak dari rencana Maya terjadi pada malam harinya. Arman, Ratih, dan Raka sedang berkumpul di ruang tamu ketika telepon rumah berdering nyaring. Raka mengangkatnya. Wajah pria itu perlahan berubah menjadi tegang dan mengeras.

"Ya, Bu Wali Kelas? Apa? Jelita melakukan itu?" suara Raka terdengar kaget dan penuh amarah. Setelah beberapa menit mendengarkan, Raka menutup telepon dengan kasar. Arman mendongak dari koran sorenya. 

"Ada apa, Raka? Siapa yang menelepon?"

Raka mengepalkan tangannya, menatap ayahnya dengan matanya yang memerah oleh amarah. 

"Wali kelas Jelita, Yah. Beliau bilang, hari ini Jelita membuat keributan di sekolah! Dia dituduh menuduh temannya mencuri uang kas kelas dan mengamuk sampai membanting meja!"

"Apa?!" Arman berdiri seketika, dadanya naik turun memburu. 

"Gadis itu... makin hari makin menjadi-jadi! Di rumah mencuri dan memfitnah, di sekolah membuat keributan!"

Sebenarnya, apa yang terjadi di sekolah hanyalah kesalahpahaman kecil di mana Jelita, yang mentalnya sudah sangat tertekan akibat tuduhan di rumah, menangis karena tas sekolahnya disembunyikan oleh teman sekelasnya. Namun Maya, yang sebelumnya sempat menelpon pihak sekolah berpura-pura menjadi wali Jelita yang khawatir akan "gangguan emosi" Jelita, telah memutarkan balik fakta pada wali kelas tersebut.

Maya yang duduk di sebelah Ratih menghela napas panjang, memasang wajah prihatin yang luar biasa tajam.

"Ayah... Raka... tolong tenang dulu," potong Maya dengan nada penuh kelembutan yang beracun. 

"Maya sudah menduga hal ini akan terjadi. Jelita itu, kalau di rumah sudah tidak bisa membela diri, dia pasti melampiaskan amarahnya di luar. Dia sengaja membuat keributan di sekolah dan menghasut orang-orang supaya semua orang melihat keluarga kita yang gagal mendidiknya."

"Anak itu benar-benar keterlaluan!" bentak Arman, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. 

"Dia sengaja mau merusak nama baik keluarga ini!"

Ratih menutup mukanya dengan kedua tangan, menangis terisak. 

"Kenapa Jelita jadi seperti ini, Yah...? Kenapa dia tega berbohong dan bikin masalah di mana-mana?"

Maya merangkul bahu Ratih, mengusap punggung ibu iparnya dengan lembut. 

"Ibu yang sabar ya... Maya juga sedih melihat Jelita semakin keras kepala. Makin kita berusaha menasehati, Jelita makin pandai bersandiwara dan memutarbalikkan fakta di depan orang lain."

Di saat amarah keluarga Prasetyo berada di puncak tertinggi, Jelita melangkah masuk melewati pintu depan. Ia baru saja pulang dari perpustakaan kota, tempat ia melarikan diri seharian ini untuk menghindari tatapan dingin di rumah.

Baru dua langkah Jelita memasuki rumah, sebuah bentakan nyaring menghentikan pijakan kakinya.

"Jelita! Sini kamu!" raung Arman dari ruang tamu.

Jelita gemetar. Kelelahan fisik dan mental membuat tubuhnya terasa amat rapuh. Dengan langkah gontai, ia berjalan mendekati ruang tamu.

"A-ada apa, Ayah...?" bisik Jelita pelan, takut-takut.

Raka maju beberapa langkah, menatap adiknya dengan pandangan penuh jijik dan benci. 

"Masih berani kamu bertanya ada apa?! Kamu pikir kami tidak tahu apa yang kamu lakukan di sekolah hari ini?! Kamu mengamuk, membanting meja, dan menuduh temanmu sendiri pencuri?!"

Jelita membelalakkan matanya. "Ap-tidak, Kak! Itu tidak benar! Tadi di sekolah tas Jelita disembunyikan, Jelita cuma minta dikembalikan—"

"Cukup bohongmu, Jelita!" sela Arman dengan suara dingin yang mematikan. 

"Wali kelasmu sendiri yang menelpon Raka! Kamu juga menghasut pembantu di rumah ini, dan menyebarkan fitnah ke tetangga-tetangga kalau kamu tidak pernah diperlakukan dengan baik di rumah ini!"

Jelita terpaku. Matanya beralih menatap Bi Sumi yang berdiri menunduk di dekat lorong dapur dengan wajah dingin tanpa rasa iba sedikit pun. Ia lalu melirik Maya, yang berdiri di belakang Ratih dengan wajah berpura-pura sedih, namun matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa.

Dunia Jelita serasa runtuh untuk kesekian kalinya. Kebohongan demi kebohongan telah dirajut begitu rapi hingga kebenaran apa pun yang keluar dari mulutnya hanya akan dianggap sebagai bukti bahwa ia adalah anak yang keras kepala dan pembohong ulung.

"Jelita... kenapa kamu tega?" bisik Ratih di antara isakannya, menatap Jelita dengan kekecewaan murni. 

"Ibu kurang apa mendidik kamu? Kenapa kamu harus berbohong pada semua orang dan bikin keributan di mana-mana?"

"Ibu..." Jelita mencoba mengulurkan tangannya, namun suara tenggorokannya terkunci oleh gumpalan rasa sakit yang teramat sangat. 

"Jelita tidak pernah berbohong... Jelita tidak pernah..."

"Diam!" bentak Raka keras. 

"Setiap kali kamu buka mulut, yang keluar hanya kebohongan yang meyakinkan! Kami sudah muak dengar sandiwaramu, Jelita!"

Jelita menatap Raka, kakak yang dulu selalu mendekapnya saat ia takut, kakak yang dulu berjanji akan selalu memercayainya. Kini, mata itu hanya melihatnya sebagai sesosok monster yang menjijikkan. Tak ada guna bersuara. Tak ada guna membela diri.

Maya telah berhasil. Kebohongan yang ditenunnya dengan begitu halus, terencana, dan meyakinkan telah mengubah seluruh dunia Jelita menjadi musuh. Dari orang tuanya, kakaknya, pembantu rumah tangga, hingga tetangga dan gurunya di sekolah, semua orang kini memandangnya dengan sudut pandang yang sama: 'Jelita adalah anak bermuka dua yang berbahaya.'

Jelita menarik kembali tangannya yang gemetar. Wajahnya yang pucat tak lagi meneteskan air mata. Rasa sakit di dadanya telah mati rasa, berganti menjadi kehampaan yang mengerikan.

"Terserah..." bisik Jelita sangat pelan, hampir tak terdengar. 

"Terserah kalian mau percaya apa..."

Jelita berbalik melangkah pergi, meninggalkan ruang tamu yang dipenuhi amarah dan kekecewaan. Maya memperhatikan punggung Jelita yang semakin menjauh menaiki tangga. Senyuman kemenangan terukir sempurna di bibir cantiknya. 

'Satu per satu pelindungmu sudah hilang, Jelita,' bisik Maya dalam hati penuh kemenangan. 

'Sekarang, kamu benar-benar sendirian di dunia ini.'

Kebohongan yang meyakinkan telah berhasil mengunci takdir Jelita, mendorong hubungan keluarga Prasetyo memasuki sebuah fase di mana jarak dan dinginnya dinding isolasi tak lagi hanya terjadi di dalam kamar, melainkan telah membekukan seluruh helai napas dalam rumah tangga mereka.

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 07 / 7
Saat Hati yang Hilang Kembali Pulang
06

Airmata yang Tak Dipercaya

1.534 kata / Tersedia

07

Kebohongan yang Menyakinkan

1.651 kata / Sedang dibaca