CeritaGW
Buku / Bab
Bab 02590 kata

Pelarian Pertama

S

Summer

My Forbidden Royal Guard

Mulai membaca

Caelan menatap sang putri seolah gadis di hadapannya baru saja melontarkan gagasan paling gila.

"Anda ingin melarikan diri?" tanya Caelan, memastikan telinganya tidak salah mendengar.

"Ya."

"Dari istana?"

"Ya."

"Dari pernikahan Anda?"

"Terutama itu."

Caelan menghela napas panjang. "Kalau begitu, saya tidak bisa membantu Anda."

Senyum tipis Elara langsung menghilang. "Kau pengawalku, harusnya kau menurutiku"

"Jika Anda keluar tanpa izin, seluruh pengawal istana akan mencari Anda. Jika mereka menemukan saya bersama Anda, saya akan ditangkap. Anda mungkin hanya mendapat hukuman dari Raja. Saya bisa kehilangan kepala."

Elara tertegun. Untuk pertama kalinya, ia tersadar bahwa nekat melangkah keluar bukan cuma mempertaruhkan nasibnya, tapi juga nyawa orang lain.

Namun bukannya mundur, Elara melangkah mendekat, mengikis jarak hingga aroma minyak kayu manis dan embun malam dari jubah Caelan tercium olehnya.

"Kalau begitu... jangan sampai mereka menemukan kita."

Caelan menatapnya, antara tak percaya dan terheran-heran. "Yang Mulia..."

"Aku tidak memintamu membawaku pergi selamanya," sela Elara cepat.

"Anda baru saja bilang ingin melarikan diri."

"Hanya untuk beberapa jam!" Elara menunjuk pintu besi tersembunyi di balik semak liar. "Aku cuma ingin keluar. Aku ingin melihat kota, menghirup udara di sana, merasakan jadi orang biasa. Setelah itu, aku janji akan kembali."

"Ini ide yang sangat buruk," gumam Caelan.

"Aku tahu."

"Sangat berbahaya."

"Aku tahu."

"Dan luar biasa bodoh."

Elara bersedekap. "Aku mulai berpikir pengawal baruku ini terlalu banyak bicara."

Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.

Sebelum Elara sempat panik, Caelan bergerak secepat kilat. Tangannya mencengkeram lengan Elara dan menarik tubuh sang putri ke dalam bayangan.

Elara menahan napas ketika menyadari tubuh mereka begitu dekat hingga dia bisa merasakan hangat tubuh Caelan di sampingnya

Dua pengawal berzirah perak melintas tepat di depan pilar, membawa obor yang apinya. Rupanya mereka berdua diperintahkan untuk mencari keberadaan Elara.

Saat langkah kedua pengawal itu menjauh, barulah Caelan mundur dan melepaskan lengan Elara.

"Kita harus pergi sekarang," kata Caelan singkat.

Elara menatapnya dengan binar terkejut. "Kau... berubah pikiran?"

Caelan menggeleng. "Saya hanya menyadari satu hal, Kalau saya membiarkan Anda pergi sendirian, saya mungkin akan kehilangan kepala dengan lebih cepat. "

Pria itu meraih jubah tebal berwarna hitam lalu mengulurkannya pada Elara.

Elara tersenyum lalu membungkus dirinya dengan jubah tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Elara meninggalkan istana tanpa rombongan pelayan, tanpa kereta kerajaan, dan tanpa mahkota hanya sebuah jubah sederhana yang menutupi rambutnya.

Kota Valen ternyata jauh berbeda dari apa yang selama ini dilihatnya dari balik jendela istana.

Riuh suara pedagang yang berteriak menjajakan dagangan, gelak tawa anak-anak yang berlarian melompati genangan air, serta aroma harum roti panggang di udara.

Elara berhenti di depan sebuah kedai kecil. Matanya tertuju pada roti-roti yang baru diangkat dari pemanggangan.

Caelan menyadari langkah sang putri terhenti. "Anda mau?"

Elara mengangguk pelan.

Caelan membelikan dua potong roti hangat. Ia menyerahkan satu pada Elara.

Elara menggigitnya tanpa ragu. "Enak sekali!"

"Ini hanya roti gandum biasa," tanggap Caelan datar, menggigit rotinya sendiri.

"Di istana, roti tidak pernah terasa seperti ini," tutur Elara pelan.

Caelan menatap wajah sang putri yang samar-samar tersinari lentera jalan. "Mungkin karena di sini Anda tidak sedang memikirkan pernikahan."

Elara tak mengatakan apapun.

Mereka kembali berjalan menyusuri jalanan berkerikil. Rasanya begitu damai dan menenangkan bagi Elara sampai suara terompet terdengar dari arah gerbang kota.

Dari balik gerbang kota, rombongan penunggang kuda berzirah hitam melangkah masuk. Pasukan calon suaminya telah tiba lebih cepat dari perkiraan.

Di barisan paling depan, sesosok pria tinggi berambut pirang pucat melompat turun dari kudanya. Matanya yang berwarna hijau dingin bertabrakan langsung dengan sosok Elara di balik kupluk jubahnya.

Pria itu tersenyum.

"Sungguh penyambutan yang tak terduga..." Suara pria itu terdengar mengalun. "Putri Elara."

Bab selanjutnya

03 - Pengawal Yang Sulit Dipahami

Lanjutkan ke bab berikutnya dari My Forbidden Royal Guard.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 02 / 5
My Forbidden Royal Guard
01

Putri Yang Membenci Masa Depannya

546 kata / Tersedia

02

Pelarian Pertama

590 kata / Sedang dibaca

03

Pengawal Yang Sulit Dipahami

492 kata / Tersedia