Summer
My Forbidden Royal Guard
Mulai membaca
Putri Elara tahu bahwa hidupnya akan berakhir pada hari pernikahannya.
"Ini bukan hukuman, Yang Mulia," bisik seorang pelayan sembari merapikan lipatan kain di pinggang Elara.
Elara menatap pantulan dirinya.
Gaun sutra berwarna biru pucat membungkus tubuhnya bagaikan sangkar yang indah. Rambut panjangnya ditata rumit, dihiasi untaian mutiara murni milik keluarga kerajaan.
Semuanya tampak sempurna. Terlalu sempurna.
"Ini adalah kehormatan tertinggi," lanjut pelayan itu.
Seluruh penghuni Istana Lyria tahu kabar buruk yang dibawa Raja Aldrich tadi pagi. Elara akan dinikahkan. Bukan dengan pria yang dicintainya atau dikenalnya.
Dia ditumbalkan kepada Pangeran Lucien dari Kerajaan Arven
"Pertunanganmu akan diumumkan malam ini pada jamuan makan malam," kata ayahnya tadi pagi.
"Dan kalau aku menolak?" Elara mengepalkan tangan di samping gaunnya.
Raja Aldrich hanya menatapnya dingin. "Kau tidak akan menolak."
Pada detik itulah Elara menyadari kebenaran yang pahit: sebagai seorang putri, bahkan hidupnya sendiri bukan miliknya.
Ketukan terdengar dari pintu kayu jati membuyarkan lamunannya. Seorang pengawal berzirah perak melangkah masuk lalu berlutut di satu kaki.
"Yang Mulia."
Elara menghela napas berat, memejamkan mata sejenak. "Apa lagi?"
"Yang Mulia Raja meminta Anda segera menghadiri jamuan di aula utama."
"Katakan aku sedang tidak enak badan."
"Beliau menegaskan bahwa kehadiran Anda tidak dapat ditawar, Yang Mulia."
"Tentu saja," gumam Elara sinis. Ia memaksa dirinya bangkit dan berjalan menuju pintu kamar.
" Pengawal, mulai detik ini, jika ayahku mengirim siapa pun untuk mencariku, katakan kau melihatku sedang tidur nyenyak di kamar."
Marcus menelan ludah dengan susah payah. "Tapi... Yang Mulia, Beliau akan—"
Elara membalikkan badan, menyunggingkan senyum manis. "Itu perintah."
Tanpa menunggu balasan Marcus, Elara bergegas pergi.
Hanya saja, bukannya menuju ruang makan, Elara berbelok ke koridor belakang istana. Ia tahu betul jalan ini. Tidak ada pelayan, tidak ada pengawal patroli, dan yang terpenting: tidak ada ayahnya.
Langkah Elara terhenti, ada orang lain di sana.
Seorang pria berdiri di tengah taman dengan seragam berwarna hitam pekat. Sebuah pedang panjang tergantung mantap di pinggangnya. Pria itu berdiri membelakanginya.
Elara memicingkan mata, kewaspadaannya terpantik. "Kau?"
Pria itu berbalik perlahan.
Wajahnya tegas dengan garis rahang yang keras. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin malam, dan matanya—setajam mata elang berwarna kelabu jernih—menatap Elara tanpa kejutan sedikit pun.
Tatapan tenang yang anehnya membuat Elara merasa sedang diamati, bukan dilindungi.
Pria itu tiba-tiba berlutut. "Yang Mulia."
Elara memiringkan kepala. "Aku belum pernah melihatmu di sekitar istana."
"Saya baru ditugaskan sore ini, Yang Mulia."
"Siapa namamu?"
"Caelan."
Elara melangkah mendekat. "Dan apa tugasmu di tempat sepi seperti ini?"
Caelan mendongak sedikit, menatap lurus ke dalam mata Elara. "Menjaga Anda."
Elara mendengus geli, melemparkan pandangan meremehkan. "Aku tidak membutuhkan penjaga."
"Saya ditugaskan untuk menjalankan perintah, Yang Mulia," balas Caelan tenang.
Untuk sesaat, Elara bungkam dengan keberanian pengawal baru ini.
"Kau cukup berani untuk seorang pengawal baru."
Caelan berdiri tegak. "Dan Anda cukup ceroboh untuk seorang putri yang sedang dicari seluruh istana."
Mata Elara membelalak. "Beraninya kau—"
"Yang Mulia," potong Caelan halus namun tegas, suara beratnya memecah angin malam. "Kalau Anda ingin melarikan diri dari istana, setidaknya jangan memilih taman yang hanya memiliki satu pintu keluar."
"Baiklah, Pengawal Caelan," ujar Elara seraya melangkah mendekati Caelan, hingga jarak mereka hanya tersisa sejangkal.
"Kalau begitu... bantu aku melarikan diri dari tempat ini."
"Yang Mulia?" bisik Caelan, suaranya sedikit tertahan.
"Aku tidak ingin menikah dengan Kerajaan Arven. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menjual hidupku."
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari My Forbidden Royal Guard.