Suhendar
MENANAM DAMAI
Mulai membaca
"Jangan cuma dibaca, Lang. Dibuka pulpennya, terus tulis!" teriak Malik dari balik kaca jendela gerbong kereta yang perlahan merapat dan mulai bergerak maju.
Galang mengerjap cepat, tangannya refleks mengangkat tangan untuk membalas lambaian tangan Malik, tetapi pintu gerbong terburu menutup rapat, memisahkan mereka. Kereta komuter itu bergeser meninggalkan peron stasiun dengan deru besi yang memekakkan telinga, menyisakan keheningan malam yang pekat dan hembusan angin dingin stasiun yang langsung menghantam wajahnya. Buku catatan bersampul hitam legam pemberian Malik itu kini terasa begitu berat di atas pangkuannya, seolah memuat beban seluruh dunia.
Ia menunduk, menatap halaman pertama buku tersebut yang masih putih bersih tanpa noda. Di bawah temaram lampu neon peron yang berdengung halus dan berkedip-kedip, Galang membuka tutup pulpen hitamnya dengan tangan yang sedikit berkeringat. Aturan pertama dari Malik terngiang jelas di kepalanya: Audit hidup. Tulis jujur: apa yang udah jalan, dan apa yang bikin kamu stuck di situ-situ aja.
Galang mulai menuliskan kalimat pertamanya dengan goresan tangan yang agak gemetar, mencurahkan segala keresahan yang selama ini ia pendam dalam diam:
1. Pekerjaan: Gaji pas-pasan, stuck di posisi staf magang rendahan selama tiga tahun tanpa kejelasan karier atau promosi, sementara ide-ide kreatifnya selalu diambil atasan.
2. Keuangan: Hidup gali lubang tutup lubang yang semakin parah. Terjebak lingkaran setan utang pinjaman online untuk menutup cicilan motor yang hampir ditarik leasing.
3. Waktu: Habis terbuang sia-sia untuk scrolling media sosial tanpa arah sampai jam 3 pagi, bangun kesiangan dengan kepala pusing, lalu berangkat kerja dengan terburu-buru dan penuh kecemasan.
Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam hingga dadanya terasa sesak. Ada rasa perih yang teramat sangat ketika kenyataan pahit itu terpampang nyata di atas kertas, bukan lagi sekadar bayangan samar atau ketakutan abstrak di dalam kepalanya. Mengakui kegagalan diri sendiri ternyata jauh lebih menyakitkan daripada terus-menerus berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Namun, ketika ia hendak menorehkan poin keempat tentang kehidupan percintaan dan relasi sosialnya yang ikut hancur berantakan, ujung pulpennya tiba-tiba berhenti bergerak di atas kertas. Tangannya kaku.
Sebuah kilatan cahaya terang benderang dari dalam saku celananya mendadak membuyarkan konsentrasi. Layar ponselnya menyala pekat menampilkan sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal dengan awalan kode area luar kota. Panggilan itu disertai getaran panjang yang berulang-ulang, terasa begitu mengintimidasi di tengah kesunyian stasiun yang mulai ditinggal pergi petugas malam.
Galang menatap layar ponsel yang menyala di samping buku catatannya, terjebak dalam dilema: mengangkat panggilan misterius itu yang mungkin membawa petaka baru, atau melanjutkan lembaran kejujuran yang baru saja ia mulai demi masa depannya.