Suhendar
MENANAM DAMAI
Mulai membaca
"Kalau lu cuma duduk diam di sini sampai maghrib, hidup lu gak bakal berubah sejengkal pun, Galang."
Suara parau itu datang dari Malik, rekan kerja yang sudah tiga tahun terjebak di posisi magang yang sama dengannya di sebuah agensi kreatif yang jenuh. Galang tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku hampa pada rel kereta api ganda di stasiun kota yang mulai berkarat diterpa cahaya oranye senja. Udara terasa berat, berbau debu perkotaan, asap knalpot, dan aroma khas besi tua. Headset di lehernya terasa begitu berat, membebani lehernya sama persis seperti tumpukan tagihan pinjaman online dan toxic-nya budaya kantor yang menghisap kewarasannya perlahan-lahan setiap hari.
Galang merogoh saku jaket hoodie hitamnya yang sudah mulai pudar. Ia mengeluarkan ponsel dengan layar retak seribu yang sejak tadi bergetar hebat. Layar itu penuh dengan notifikasi pesan ancaman dari penagih utang yang menagih cicilan bulan lalu, disusul oleh grup WhatsApp kantor yang menuntut revisi mendadak di luar jam kerja tanpa tambahan sepeser pun upah lembur. Ia menarik napas panjang dalam-dalam, merasakan udara malam stasiun yang dingin menusuk hingga ke dada, membawa serta rasa sesak yang kian menghimpit.
"Gue capek, Lik. Rasanya gue kayak lari di atas treadmill. Kencang, tenaga terkuras habis, tapi gak pernah kemana-mana. Tetap di tempat yang sama, dikelilingi orang-orang yang sama, dan menghadapi masalah yang itu-itu lagi," ucap Galang lirih, suaranya hampir tenggelam di antara deru suara bising kereta komuter yang melintas pelan di jalur seberang, membawa ratusan buruh kota yang pulang dengan wajah lelah serupa.
Malik tidak memberikan kata-kata manis atau pelukan simpati seperti yang biasa diberikan orang. Sebagai gantinya, ia menepuk bahu Galang cukup keras hingga membuat pemuda itu terkesiap, lalu menyodorkan sebuah buku catatan kecil bergaris dengan sampul kusut dan sebatang pulpen hitam standar.
"Makanya, jangan cuma ngeluh di pinggir rel kayak orang putus asa. Mulai malam ini, tulis jujur di buku ini. Apa aja yang bikin hidup lu stuck di situ-situ aja selama lima tahun terakhir. Bongkar semuanya, akar masalahnya, ketakutan lu, kebiasaan buruk lu, jangan ada yang ditutupi sedikit pun," tegas Malik.
Galang menatap buku kecil itu dengan keraguan yang amat besar di dalam dadanya. Ia tahu betul konsekuensinya. Jika ia membuka lembaran pertama buku itu malam ini dan mulai menuliskan kenyataan pahit tentang kehidupannya, tidak akan ada lagi alasan bagi dirinya untuk bersembunyi di balik kata "nanti" atau pura-pura baik-baik saja esok hari. Buku itu akan menjadi cermin paling jujur yang selama ini ia hindari.
Suara gemuruh mendadak memecah keheningan malam. Kereta terakhir jurusan kota malam itu berdengung kencang memasuki peron, menyemburkan angin malam yang dingin dan kencang. Angin itu meniup-niup lembaran-lembaran kosong di tangan Galang, seolah mendesaknya untuk segera menulis.
Tanpa aba-aba tambahan, Malik beranjak berdiri dan melangkah masuk ke dalam gerbong kereta yang pintu otomatisnya sudah terbuka lebar. Ia meninggalkan Galang seorang diri di bangku peron yang mulai sepi, hanya ditemani sebatang pulpen di tangan, buku catatan kusut, dan satu keputusan mutlak yang harus ia ambil detik itu juga sebelum pintu kereta tertutup rapat dan membawanya pergi meninggalkan kesempatan untuk berubah.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari MENANAM DAMAI.