Fyda Fauziyyah
Martabak, Kosan Sempit, dan Pelajaran Jadi Orang Dewasa
Mulai membaca
Belakangan ini, aku berada di lingkungan baru. Sebagai seorang anak rantau, aku selalu percaya bahwa adaptasi bukanlah sekadar sebuah keterampilan sosial. Di kota besar seperti Jakarta, adaptasi adalah cara bertahan hidup. Kita dituntut untuk bergerak cepat, membaur, dan menyatu dengan ritme yang melelahkan agar tidak tertinggal.
Namun, setelah bertahun-tahun berhasil melewati berbagai fase adaptasi, kali ini ada yang berbeda. Aku masuk ke sebuah lingkungan yang alih-alih membuatku merasa berkembang, justru perlahan-lahan mengikis siapa diriku yang sebenarnya. Aku mengorbankan identitas asliku hanya demi sebuah kata: diterima.
Aku mendadak berubah menjadi orang lain yang kaku dan penuh ragu. Yang paling membuat frustrasi adalah aku merasa kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi. Setiap kali mencoba angkat bicara di depan mereka, kalimatku mendadak terdengar belepotan, tidak jelas, dan ujung-ujungnya menguap begitu saja karena ditanggapi dengan dingin.
Kenyataannya, ruangan ini secara perlahan mematikan suaraku lewat penolakan-penolakan kecil yang konstan.
Ada momen ketika aku mencoba menceritakan hal yang sangat kusukai: sebuah show, buku, atau hobi kecil yang membuat mataku berbinar. Namun, tanggapan yang kudapatkan hanyalah kerutan dahi dan atmosfer yang mendadak berubah hening. Mereka menganggap apa yang membuatku bersemangat adalah sesuatu yang tidak seru. Atau bahkan menghakiminya.
Pada akhirnya, ada begitu banyak nilai hidup dan suara di dalam diriku yang sengaja dihilangkan sedikit demi sedikit, dikikis sampai habis, hanya agar aku bisa terlihat "pas" di mata mereka.
Aku merasa lelah. Lelah karena setiap hari harus mengecilkan volume diriku sendiri agar orang-orang di sekitar tidak merasa terganggu. Aku menahan tawa yang mungkin terdengar terlalu keras untuk ruangan yang terlalu kaku. Aku meredam ide-ide yang menurutku seru tapi dianggap terlalu liar oleh mereka. Aku menyunting setiap kalimat sampai tiga kali di dalam kepala sebelum berani mengucapkannya. Semua kulakukan cuma demi satu hal: biar aku tidak kelihatan aneh di mata mereka.
Hingga akhirnya, hari ini aku bertemu dengan seorang teman lama.
Kami duduk di sebuah kedai kopi dan ngobrol berjam-jam tanpa jeda. Anehnya, di depannya, kepalaku yang selama berbulan-bulan ini macet total, tiba-tiba langsung lancar begitu saja. Kalimatku mengalir tanpa beban, tawaku lepas tanpa ditahan, dan aku bisa menceritakan hal-hal konyol yang kusukai tanpa perlu ada yang disensor. Tidak ada ketakutan dicap aneh, tidak ada kecemasan salah bicara.
Satu kalimat pendek itu tiba-tiba menyentakku. Dia baru saja mengingatkan aku tentang siapa diriku yang sebenarnya, versi terbaikku yang selama ini kukubur hidup-hidup demi menyenangkan tempat yang salah.
Bersamanya, aku diingatkan lagi rasanya menjadi manusia yang merasa aman untuk bercerita karena tahu lawan bicaranya menghargai. Dia mendukung mimpiku, bukan malah membuatku merasa kecil. Dia mengembalikan seluruh rasa percaya diriku yang sempat dicuri oleh orang lain selama berbulan-bulan ini.
Detik itu juga, aku bisa melihat dengan sangat jernih: jenis manusia yang jahat di dunia ini adalah mereka yang membuatmu merasa bersalah, bodoh, atau konyol hanya karena kamu sedang antusias menceritakan sesuatu yang kamu sukai. Mereka yang tega memadamkan binar di matamu dengan tatapan malas atau respons yang meremehkan.
Seketika, memori lamaku berputar ke belakang. Di akhir dua kelulusan masa laluku, saat harus berganti seragam sekolah dan berpindah lingkungan, aku ingat betul pernah merasakan kecemasan yang persis seperti ini. Rasa asing, tersesat, dan ketakutan bahwa aku tidak akan pernah bisa membaur dengan sekelilingku.
Dan sialnya, sekarang aku harus merasakan pola ini lagi. Aku merasakannya sekarang, di detik ini: aku kembali merasa salah tempat. Ironisnya, setelah melewati begitu banyak babak pendewasaan dan berpikir bahwa aku sudah cukup kuat, aku masih bisa terjebak di dalam ruangan yang membuatku mempertanyakan harga diriku sendiri.
Namun sekarang aku tahu jawabannya: aku tidak pernah aneh. Lidahku tidak rusak, dan kemampuan komunikasiku tidak pernah hilang. Aku cuma sedang bicara dengan orang-orang yang tidak memiliki kamus untuk mengerti bahasaku. Aku sedang memaksa sebuah radio menyala di frekuensi yang sudah mati.
Jika kamu menaruh bunga matahari di dalam lemari yang gelap, ia akan layu dan kelihatan salah tempat. Jangan pernah menyalahkan bunganya yang mati, salahkan lemarinya yang gelap.
Buat kamu yang sedang membaca halaman ini sambil menahan sesak di dada karena merasa tidak cocok di suatu tempat: tolong berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Jangan langsung memvonis ada yang rusak di dalam kepalamu. Kamu tidak perlu diperbaiki. Kamu cuma perlu pindah tempat. Pindah lingkungan. Pindah meja makan.
Jangan pernah mengecilkan dirimu sendiri hanya agar orang-orang kaku itu merasa nyaman. Miliki keberanian untuk berjalan keluar dari ruangan yang mencekik itu. Angkat kakimu dan melangkahlah sampai kamu bertemu dengan orang-orang yang memiliki kapasitas ruang yang luas untuk merayakan seluruh dirimu. Orang-orang yang membuatmu akhirnya bisa pulang ke kosan, menatap cermin sambil menangis lega, dan berkata pada dirimu sendiri:
“Ternyata, dari dulu aku nggak pernah aneh.”
Catatan untuk kamu yang merasa dirimu aneh:
1. Kamu tidak rusak, mungkin kamu hanya sedang di tanam di pot yang keliru. Kaktus yang ditaruh di dalam air akan membusuk. Teratai yang ditaruh di padang pasir akan mati. Keduanya tanaman yang indah.
2. Hemat kuota energimu. Memaksa diri agar di mengerti oleh orang yang nggak sefrekuensi itu seperti menyalakan tathering hotspot untuk 10 HP sekaligus. Kuotamu habis, bateraimu bocor, HP-mu panas, dan mereka tetap ngga paham.
3. Saat lingkungan baru membuatmu ragu pada value dirimu. Hubungi orang - orang dari masa lalumu yang benar - benar mengenang "versi terbaikmu". Dengarkan suaramu sendiri saat bersama mereka untuk mengingatkan siapa dirimu sebenarnya.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Martabak, Kosan Sempit, dan Pelajaran Jadi Orang Dewasa.