CeritaGW
Buku / Bab
Bab 13519 kata

"Pulang Jam Berapa?" Pertanyaan Favoritku

FF

Fyda Fauziyyah

Martabak, Kosan Sempit, dan Pelajaran Jadi Orang Dewasa

Mulai membaca

Mei 2026. Sebuah berita duka memenuhi layar ponselku: kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi. Aku membaca deretan berita itu dengan hati yang mencelos. Banyak korbannya adalah perempuan, para pejuang harian yang sedang dalam perjalanan pulang. Namun, yang paling membuat dadaku sesak adalah narasi tentang para ayah yang panik, mencari anak perempuan mereka di antara puing dan kepastian yang belum kunjung datang.

Melihat mereka, aku langsung teringat Bapa.

Dulu, aku sempat berpikir bahwa dia tidak peduli seperti orang tua lainnya. Bapa bukan pria yang akan duduk lama untuk menanyakan rincian isi hariku. Tapi seiring aku tumbuh dewasa, aku mulai menyadari bahwa ia telah berupaya sekuat tenaga untuk menunjukkan kasih sayang dengan satu-satunya cara yang ia tahu. Bahasa kami sederhana:

“Pulang jam berapa?”

Jika diingat kembali, itulah kalimat yang paling sering kudengar dari Bapa. Singkat. Datar. Tanpa hiasan. Sejak aku duduk di bangku SD hingga lulus SMA di Bandung, kalimat itulah yang menjadi jembatan antara duniaku dan dunianya.

Hujan yang turun tiba-tiba atau udara pagi Bandung yang menusuk tulang tidak pernah menjadi alasan baginya untuk absen. Jika aku berdiri di depan gerbang sekolah, motor Honda kesayangannya pasti akan muncul di sana. Aku akan naik ke boncengan, menghirup aroma jaket kulitnya yang khas, lalu memeluk punggungnya erat-erat untuk menghalau angin dingin. Di atas motor itu, tanpa sepatah kata pun, aku merasa aman. Bapa membuktikan bahwa cinta tidak butuh janji manis; ia hanya butuh langkah nyata.

Pertanyaan “Pulang jam berapa?” sebenarnya adalah kode bahwa ia sedang menungguku. Bahwa sejauh apa pun aku pergi, ada seseorang yang siap datang hanya untuk memastikan aku sampai dengan selamat.

Bahkan setelah aku merantau ke Jakarta, bahasa kami tidak menghilang. Namun, kabar yang kami tukarkan jadi lebih beragam. Kini, bahasa cinta itu juga menjelma dalam bentuk foto makanan yang dikirim di grup keluarga. Sepiring sate, semangkuk bakso, atau gorengan sore yang renyah. Pesan WhatsApp-nya tetap berupa kode-kode kecil: “Mau dijemput di mana?” atau “Udah makan?” Seakan berkata: “Kamu diingat. Kamu bagian dari rumah ini, meski jauh.”

Namun, waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Bapaku kini semakin tua. Lewat telepon, terkadang kudengar suaranya yang serak karena flu, atau ia bercerita sedang memijit lututnya yang mulai sering sakit. Di situ aku belajar menerima kenyataan baru: pahlawan masa kecilku adalah manusia biasa. Ia bisa lelah. Ia bisa sakit. Ia perlahan-lahan ditelan waktu.

Mungkin aku dan Bapa tidak akan pernah pandai bicara soal perasaan. Kalimat “Aku sayang Bapa” mungkin akan tetap menjadi hal yang paling sulit diucapkan. Tapi aku tahu, cinta tidak harus selalu ribut untuk bisa terdengar.

Dulu, Bapa yang selalu mengusahakan segalanya untukku. Sekarang, giliranku. Jika dulu aku menunggu dijemput, kini aku yang akan selalu mencari jalan untuk pulang lebih dulu. Memeluknya, memijit pundaknya yang mulai ringkih, dan bertanya pelan: “Capek ya, Pa? Vitaminnya masih ada, kan?”

Aku tumbuh untuk memahami bahwa kasih sayang tak selalu hadir dalam pidato panjang. Ia hadir dalam usaha sederhana, perhatian yang sunyi, dan tanda-tanda kecil yang hanya bisa dibaca oleh hati. Itulah bahasa cinta kami: singkat tapi setia, diam tapi tak pernah setengah-setengah.

“Pulang jam berapa?”

Kini, itu bukan lagi sekadar pertanyaan tentang waktu. Ia adalah pengingat bahwa di luar sana ada rumah yang menunggu, dan ada cinta yang tidak akan pernah hilang bahkan saat raga mulai melemah.

Bab selanjutnya

14 - Kamu Tidak Aneh, Kamu Hanya Berada di Ruang yang Salah

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Martabak, Kosan Sempit, dan Pelajaran Jadi Orang Dewasa.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 12 / 14
Martabak, Kosan Sempit, dan Pelajaran Jadi Orang Dewasa
11

Lebih dari Sekedar Cantik

760 kata / Tersedia

13

"Pulang Jam Berapa?" Pertanyaan Favoritku

519 kata / Sedang dibaca

14

Kamu Tidak Aneh, Kamu Hanya Berada di Ruang yang Salah

834 kata / Tersedia