Fyda Fauziyyah
Martabak, Kosan Sempit, dan Pelajaran Jadi Orang Dewasa
Mulai membaca
Berbulan-bulan ini, aku terus-menerus mengecilkan volume diriku supaya tidak dianggap "berlebihan". Aku menahan tawa yang mungkin terlalu keras bagi ruangan yang terlalu kaku. Aku meredam ide yang terlalu berani bagi orang-orang yang hanya ingin aman di zona mereka. Aku menyunting setiap kalimat tiga kali di dalam kepala sebelum mengucapkannya, hanya demi satu hal: agar dianggap normal oleh mereka.
Dari momen itu aku belajar sebuah rahasia besar tentang pertumbuhan: di lingkungan yang tepat, kamu tidak hanya akan diterima, tapi kamu akan otomatis tumbuh menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri.
Tempat yang sehat tidak akan memaksamu berubah menjadi orang lain agar bisa "pas". Mereka tidak akan memotong sayapmu hanya karena langit mereka terlalu sempit. Sebaliknya, mereka akan menjadi tanah yang gembur, yang menyediakan nutrisi agar benih-benih percaya diri di dalam dirimu bisa tumbuh tegak, subur, dan mekar dengan warna yang paling berani.
Disaat yang sama aku juga tersadar, aku tidak pernah aneh. Lidahku tidak rusak, dan kemampuan komunikasiku tidak pernah hilang. Aku hanya sedang berada di ruangan yang tidak pernah dirancang untuk orang sepertiku.
Kamu tidak akan pernah terlihat aneh di tengah orang-orang yang frekuensinya searah denganmu. Yang salah selama ini bukan intensitasmu, bukan caramu bicara, bukan pula besarnya mimpimu. Yang salah hanyalah ruangan tempat kamu menaruh semua hal itu. Kamu selama ini cuma sedang berbicara dengan orang-orang yang tidak memiliki "kamus" untuk menerjemahkan bahasaku. Kamu sedang memaksa sebuah radio menyala di frekuensi yang mati.
Jika kamu menaruh bunga matahari di dalam lemari yang gelap, ia akan layu, membusuk, dan terlihat salah tempat. Tapi jika kamu membawanya ke padang terbuka, ia akan mekar dan menjadi hal paling indah yang pernah ada. Jangan salahkan bunganya karena layu, salahkan lemarinya yang gelap.
Jadi, jika hari ini kamu yang sedang membaca halaman ini dan juga mengalami rasa tidak pas, merasa tidak dimengerti, atau merasa harus meminta maaf atas keberadaanmu di sebuah ruangan, tolong jangan langsung menghakimi dirimu sendiri. Jangan langsung memvonis ada yang rusak di dalam kepalamu.
Kadang, kamu tidak perlu memperbaiki apa pun di dalam dirimu. Kamu hanya perlu pindah tempat. Pindah lingkungan. Pindah meja makan. Kamu tidak perlu mengecilkan diri agar orang lain nyaman. Kamu hanya perlu berjalan keluar, membiarkan dirimu melangkah, sampai kamu ditemukan oleh orang-orang yang memiliki kapasitas luas untuk merayakan seluruh dirimu. Orang-orang yang membuatmu akhirnya menatap cermin dan berkata dengan air mata lega di sudut mata: “Ternyata, aku nggak pernah aneh.”
Radio yang bagus nggak akan keluar suara kalau dipasang di frekuensi yang salah. Cari frekuensimu sendiri, jangan malah radiomu yang kamu banting.
Kalau mereka bikin kamu merasa bodoh saat lagi semangat cerita, stop. Itu artinya kepala mereka tidak sanggup menampung energi mu, ceritamu tidak membosankan.
Berhenti mengutuk diri sendiri karena layu kalau kamu sendiri memilih bertahan di dalam lemari yang gelap. Angkat kaki, cari mataharimu.