CeritaGW
Buku / Bab
Bab 081.160 kata

Wajah Di Dalam Cermin

L

Lindayanti

Kutukan Tanah Jawa

Mulai membaca

Gelang merah di pergelangan Asha mendadak mengencang hingga kulitnya terasa seperti disayat benang kawat. Ia berusaha melepaskannya, tetapi simpul gelang itu justru meresap ke dalam kulit, meninggalkan garis hitam yang menjalar menuju siku.

Dari balik pintu batu terdengar suara tawa yang menyerupai suaranya sendiri, semakin lama semakin dekat, seolah seseorang sedang berjalan mengitari ruangan di sisi lain. Asha mundur sambil menggenggam kunci besi, tetapi lorong yang tadi membentang panjang kini berakhir pada dinding batu. Jalan keluar telah menghilang.

“Ada siapa di sana?” teriaknya.

Jawaban datang dari belakang.

“Asha.”

Ia berbalik begitu cepat hingga hampir terjatuh. Darma berdiri beberapa meter darinya, masih mengenakan jaket gelap yang berlumuran darah. Lehernya tampak membiru, dengan bekas jari menghitam di kulit, tetapi ia berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa.

Asha menatapnya dengan marah. “Kau bilang perempuan itu bukan ibuku. Lalu siapa dia?”

Darma mengusap darah di sudut bibirnya. “Aku sudah memperingatkanmu agar tidak percaya kepada siapa pun di tempat ini.”

“Kau juga bilang keluargaku menjaga sesuatu. Kau tahu tentang dua bayi itu, tentang Ratri, tentang semuanya!” Asha mendekat dan mencengkeram jaketnya. “Berhenti menyembunyikan kebenaran!”

Darma membiarkannya. Matanya justru tertuju pada gelang merah di pergelangan Asha. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wajahnya menunjukkan ketakutan yang tidak dapat disembunyikan. “Kau sudah ditandai,” bisiknya. “Kalau gelang itu sampai menutup seluruh lenganmu, mereka tidak akan bisa membedakanmu lagi.”

“Siapa mereka?”

“Orang-orang yang mati agar kau bisa hidup.”

Sebelum Asha sempat bertanya lebih jauh, dinding di belakang Darma mengeluarkan bunyi retakan. Sebuah pintu kayu muncul dari permukaan batu, lengkap dengan gagang kuningan yang telah berkarat.

Darma langsung menarik Asha menjauh, tetapi pintu itu terbuka sendiri, memperlihatkan sebuah kamar yang sangat dikenalnya, kamar tidur neneknya di rumah tua, dengan ranjang kayu, lemari pakaian, dan cermin tinggi yang selalu ditutupi kain putih.

Asha menatap ruangan itu tanpa berkedip. “Bagaimana kamar nenek bisa ada di sini?”

“Tempat ini tidak mengikuti bentuk dunia yang kau kenal,” jawab Darma. “Ia menunjukkan apa yang ingin kau lihat.”

Namun Asha sudah melangkah masuk. Di atas ranjang tergeletak sebuah buku harian dengan sampul cokelat. Ia mengenali tulisan neneknya pada halaman pertama, lalu mulai membaca dengan tangan gemetar.

Catatan itu menceritakan malam kelahirannya, ketika hujan turun tanpa henti dan tanah di sekitar rumah mengeluarkan suara seperti ribuan orang menangis. Ibunya melahirkan dua bayi perempuan, tetapi salah satunya tidak bernapas. Neneknya, yang ketakutan oleh ramalan leluhur, membawa bayi yang hidup ke hadapan sebuah pintu batu di bawah rumah.

Di halaman berikutnya, tulisan neneknya berubah kacau.

Aku mendengar tangis dari balik pintu. Bayi yang mati itu menangis, padahal tubuhnya masih berada dalam pelukanku. Ketika aku menoleh, bayi yang kubawa sudah membuka mata. Keduanya memiliki wajah yang sama. Aku tidak tahu mana yang harus kuselamatkan.

Asha menjatuhkan buku itu.

Ia membaca ulang kalimat tersebut dalam pikirannya, mencoba memahami bagaimana dua bayi bisa berada dalam pelukan yang sama. Kemudian ia melihat halaman terakhir yang ditulis dengan tinta merah.

Aku memilih yang bernapas. Aku pikir aku telah menyelamatkan cucuku, tetapi sejak malam itu, setiap kali Asha bercermin, aku melihat anak yang lain berdiri di belakangnya.

Cermin tinggi di sudut kamar tiba-tiba bergetar. Kain putih yang menutupinya jatuh ke lantai, memperlihatkan permukaan kaca yang gelap seperti air sumur. Asha melihat pantulan dirinya berdiri di depan ranjang, tetapi pantulan itu tidak mengikuti gerakannya. Sosok di dalam cermin justru mengangkat tangan, menyentuh permukaan kaca, lalu tersenyum.

Gelang merah di pergelangan Asha semakin mengencang.

“Asha,” panggil Darma dari ambang pintu. “Jangan mendekat.”

Namun pantulan itu mulai mengetuk kaca dari dalam. Setiap ketukan membuat ruangan bergetar, sementara suara retakan terdengar dari balik dinding. Asha melihat sosok di dalam cermin perlahan berubah menjadi seorang anak perempuan berusia tujuh tahun, dengan rambut dikuncir dua dan wajah yang pernah ditemuinya di kebun. Ratri.

Anak itu menempelkan telapak tangan ke kaca, lalu menggerakkan bibirnya tanpa suara.

Asha tidak dapat mendengar apa yang dikatakannya, tetapi ia mampu membaca gerakan bibir tersebut.

Bukan aku yang mati.

Cermin mendadak pecah.

Dari baliknya menyembur air hitam yang membawa potongan rambut, tanah merah, dan benda-benda kecil menyerupai gigi manusia. Asha terlempar ke belakang ketika sesosok anak perempuan merangkak keluar dari bingkai cermin. Tubuhnya basah oleh cairan hitam, kulitnya dipenuhi retakan, dan pada lehernya terdapat luka melingkar yang menganga. Darma mengangkat pisau, tetapi anak itu hanya menoleh kepadanya.

“Kau masih hidup?” tanyanya polos.

Darma tidak menjawab.

Anak itu tersenyum, memperlihatkan deretan gigi yang dipenuhi tanah. “Seharusnya kau sudah ikut kami sejak letusan pertama.”

Wajah Darma mendadak berubah. Ia mundur sampai punggungnya membentur dinding, sementara Asha memandangnya dengan kebingungan. “Letusan pertama apa?”

Anak itu menoleh kepada Asha. “Dia tidak pernah memberitahumu, ya? Darma adalah orang yang menutup pintu itu seratus empat puluh tiga tahun lalu. Dia juga orang yang membukanya kembali malam ini.”

Asha menatap lelaki tersebut. “Itu tidak mungkin. Kau bahkan tidak setua itu.”

Darma menunduk. Ketika kembali mengangkat wajah, kulit di sekitar matanya tampak mengelupas, memperlihatkan lapisan kulit lain yang jauh lebih tua. “Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku manusia,” katanya lirih.

Anak perempuan itu tertawa. Tubuhnya perlahan larut menjadi cairan hitam yang mengalir menuju kaki Asha, lalu menghilang di sela-sela lantai. Sebelum lenyap sepenuhnya, suaranya terdengar untuk terakhir kali.

“Tanyakan kepadanya siapa yang dikorbankan di Krakatau. Tanyakan mengapa tidak ada jasad yang ditemukan setelah letusan itu. Dan tanyakan mengapa namamu sudah tercatat dalam daftar korban sebelum kau dilahirkan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Asha menoleh kepada Darma, tetapi lelaki itu sudah tidak berada di ambang pintu. Pintu kayu tertutup sendiri, menyisakan Asha sendirian bersama buku harian neneknya dan cermin yang telah pecah. Di antara serpihan kaca, ia melihat sesuatu berkilau. Sebuah foto kecil yang terlipat, memperlihatkan sekelompok orang berdiri di tepi laut dengan latar gunung yang sedang mengeluarkan asap.

Di bagian belakang foto tertulis tanggal: 27 Agustus 1883.

Asha membalik foto itu sekali lagi. Di antara orang-orang yang berdiri di sana, terdapat seorang perempuan dengan wajah yang sama persis dengannya. Perempuan itu mengenakan gelang kain merah dan memegang tangan seorang laki-laki yang wajahnya dicoret dengan tinta hitam.

Di bawah foto terdapat tulisan singkat.

Saksi terakhir: Darma.

Asha merasakan darahnya membeku ketika suara langkah terdengar dari balik pintu. Seseorang mengetuk tiga kali, lalu memanggil namanya dengan suara neneknya.

“Asha, buka pintunya. Nenek harus menunjukkan sesuatu.”

Ia tidak bergerak.

Suara itu terdengar lagi, kali ini disertai tangisan yang begitu menyayat hingga Asha hampir membuka pintu. Namun dari balik cermin yang pecah, terdengar bisikan lain, lebih pelan dan lebih dekat.

“Jangan buka. Yang di luar bukan nenekmu.”

Asha menoleh ke arah cermin.

Di antara serpihan kaca, pantulannya kembali muncul. Namun kali ini, sosok yang berdiri di sana bukan Asha.

Melainkan neneknya, dengan wajah penuh darah dan kedua tangan memegang leher seorang bayi.

Perempuan tua itu menatap Asha melalui kaca, lalu berbisik dengan bibir gemetar.

“Maafkan Nenek. Yang Nenek bawa pulang malam itu bukan kamu.”

Tepat setelah kalimat itu terucap, gelang merah di pergelangan Asha terlepas dengan sendirinya.

Di bawah kulit yang terluka, muncul sebuah tanda lahir baru.

Bentuknya menyerupai gunung yang terbelah.

Dan dari kejauhan, suara gemuruh Krakatau kembali terdengar, seolah seluruh laut sedang bersiap menelan sesuatu yang telah lama dikuburnya.

Bab selanjutnya

09 - Nama Terakhir Di Bawah Jawa

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kutukan Tanah Jawa.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 08 / 11
Kutukan Tanah Jawa
07

Anak Yang Salah

844 kata / Tersedia

08

Wajah Di Dalam Cermin

1.160 kata / Sedang dibaca

09

Nama Terakhir Di Bawah Jawa

1.481 kata / Tersedia