Lindayanti
Kutukan Tanah Jawa
Mulai membaca
Asha menatap perempuan di balik pintu batu dengan seluruh tubuh membeku. Wajah itu miliknya, tetapi sorot matanya menyimpan kesedihan yang terasa jauh lebih tua daripada usia manusia mana pun. Perempuan tersebut masih menggendong bayi berbalut kain putih, sementara di belakangnya rumah tua keluarga Mandala berdiri utuh, diterangi cahaya lampu minyak yang bergetar meskipun tidak ada angin.
Asha ingin mendekat, tetapi kakinya terasa tertanam di lantai.
“Apa maksudmu aku sudah mati sejak lahir?” tanyanya. Perempuan itu menunduk memandangi bayi dalam pelukannya, lalu menjawab, “Malam itu, ibumu melahirkan dua anak. Satu bernapas, satu lagi tidak. Nenekmu membawa pulang anak yang masih hidup, tetapi dia tidak pernah membawa pulang anak yang satunya.”
Asha menggeleng. Ia anak tunggal. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil, dan tidak pernah ada seorang pun yang bercerita tentang saudara kembar. Bahkan foto-foto keluarga yang tersimpan di rumah neneknya tidak pernah memperlihatkan bayi lain. “Kau bohong,” katanya, meski suaranya sendiri terdengar rapuh.
Perempuan itu mengangkat wajah. “Kalau aku berbohong, kenapa namamu tertulis di dinding orang-orang yang telah mati sebelum kau dilahirkan?” Asha teringat ribuan nama di lorong tadi.
Ia ingin menyangkal, tetapi pandangannya jatuh pada bayi dalam pelukan perempuan itu. Pada pergelangan tangan mungilnya terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit, tanda yang sama persis dengan yang dimiliki Asha sejak kecil.
Di belakangnya, Darma kembali berteriak menyuruhnya menjauh dari pintu. Sosok berkebaya putih kini merangkak turun dari langit-langit, persendiannya tertekuk ke arah yang salah. Darah menetes dari mulutnya, tetapi setiap tetes yang jatuh ke lantai berubah menjadi serangga hitam dan merayap menuju kaki Asha.
Darma mengayunkan pisau, berusaha menghalangi makhluk itu, tetapi bilahnya menembus tubuh sosok tersebut seperti menembus asap. Makhluk itu tertawa, lalu mencengkeram leher Darma dengan satu tangan. Asha hendak menolong, tetapi perempuan di balik pintu batu mendadak berdiri.
“Jangan menyelamatkannya,” katanya. “Dia yang membawa mereka ke rumahmu.”
Asha tertegun. “Darma?”
Perempuan itu mengangguk. “Dia bukan penjaga. Dia adalah orang yang memastikan pintu itu tetap terbuka.”
Kalimat tersebut membuat Asha teringat semua peringatan Darma, peta tua, dan rahasia yang perlahan dibukanya. Lelaki itu selalu muncul tepat ketika sesuatu terjadi, seolah mengetahui setiap langkah yang akan diambil Asha. Bahkan ia telah menunggu di halaman sebelum Asha menemukan buku neneknya. Asha menoleh ke arah Darma, yang kini terangkat dari lantai dengan leher tercekik. Untuk pertama kalinya, lelaki itu menatapnya tanpa rasa takut. Ia justru tersenyum.
“Maafkan aku, Asha,” katanya dengan suara serak. “Aku sudah berusaha menunggu sampai kau cukup dewasa.”
Sebelum Asha sempat bertanya, Darma meraih tangan makhluk berkebaya putih dan menempelkan telapak tangannya yang berdarah ke dada sosok itu. Tubuh keduanya langsung diselimuti asap hitam. Makhluk tersebut menjerit, tetapi Darma tidak melepaskannya. Mereka terhuyung menuju pintu batu, lalu jatuh ke dalam ruangan di baliknya. Pintu mulai menutup, menyisakan celah sempit tempat Asha melihat Darma menatapnya untuk terakhir kali.
“Jangan percaya pada perempuan itu!” teriaknya. “Dia bukan ibumu!”
Pintu batu menutup dengan dentuman yang mengguncang seluruh lorong.
Asha terlempar ke lantai. Kunci besi hitam yang tadi dilemparkan Darma masih berada di dekat tangannya, tetapi kini permukaannya dipenuhi tulisan yang bergerak seperti semut. Ia meraih benda itu dan membaca kalimat yang muncul di atasnya.
SATU PINTU, DUA KELAHIRAN, TIGA KEMATIAN.
Belum sempat ia memahami maknanya, suara tangisan bayi terdengar dari balik pintu batu. Tangisan itu semakin keras, disusul suara perempuan yang memanggil namanya berulang kali. Asha berdiri dan menempelkan telinga ke permukaan batu.
“Asha, buka pintunya,” bisik suara tersebut. “Ibu sudah menunggumu.”
Air mata menggenang di mata Asha. Ia hampir memasukkan kunci ke lubang yang muncul di tengah pintu ketika teringat ucapan Darma. Dia bukan ibumu. Tangannya berhenti beberapa sentimeter dari lubang kunci. Dari balik pintu terdengar suara lain, lebih pelan dan lebih lemah, seperti seseorang berbicara dari tempat yang sangat jauh.
“Asha... jangan buka.”
Suara itu berbeda.
Suara yang sama dengan pesan terakhir neneknya.
Kemudian suara pertama kembali terdengar, kali ini penuh amarah. “Dia akan membunuhmu seperti dia membunuhku!”
Dinding lorong bergetar. Dari celah-celah batu merembes cairan merah, sementara ribuan nama yang terukir di dinding mulai menghilang satu demi satu. Asha menatap kunci di tangannya, lalu menyadari bahwa nama terakhir yang masih tersisa adalah namanya sendiri. Huruf-huruf itu perlahan terkelupas, menyisakan ukiran baru di bawahnya.
RATRI MAHESWARI MANDALA.
Asha mundur dengan napas tercekat. Nama Ratri bukan hanya nama anak kecil yang ditemuinya di kebun. Nama itu juga terukir pada sebuah gelang kain merah yang pernah dilihatnya dalam foto lama keluarga Mandala. Sebelum ia sempat menghubungkan semuanya, pintu batu kembali bergetar dan sebuah tangan mungil menyelinap keluar dari celahnya. Kulitnya pucat, kuku-kukunya hitam, dan pada pergelangan tangannya terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit.
Tangan itu meraih pergelangan Asha.
Dingin yang menusuk langsung menjalar hingga ke tulang.
Kemudian terdengar bisikan tepat di telinganya.
“Namaku bukan Ratri.”
Asha menatap celah pintu dengan mata membelalak.
“Aku adalah anak yang kau gantikan.”
Seluruh lorong mendadak gelap. Dari kejauhan terdengar gemuruh panjang, seperti gunung yang runtuh jauh di bawah tanah. Ketika cahaya kembali menyala, tangan itu telah menghilang, tetapi pada pergelangan Asha kini terdapat gelang kain merah yang sama.
Di permukaannya terjahit sebuah nama.
RATRI.
Dan dari balik pintu batu, suara yang menyerupai suara Asha tertawa pelan.
“Sekarang giliranku memakai hidupmu.”
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kutukan Tanah Jawa.