CeritaGW
Buku / Bab
Bab 091.481 kata

Nama Terakhir Di Bawah Jawa

L

Lindayanti

Kutukan Tanah Jawa

Mulai membaca

Guncangan itu datang tanpa peringatan. Dinding kamar nenek bergetar, lemari tua terjungkal, dan pecahan cermin berserakan di lantai seperti serpihan es. Asha terhuyung ketika suara gemuruh dari bawah rumah semakin keras, seolah ada sesuatu yang sangat besar sedang bergerak di perut bumi. Ia menatap pergelangan tangannya.

Tanda berbentuk gunung terbelah itu kini memancarkan warna merah samar, sementara gelang merah yang terlepas tadi tergeletak di dekat kakinya, bergerak sendiri seperti seekor ular yang mencari mangsa.

“Jangan sentuh gelang itu,” kata Darma.

Asha menoleh tajam. “Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadaku, bukan? Kau sudah hidup sejak letusan Krakatau. Namamu ada di foto tahun 1883, dan kau bilang kau bukan manusia. Berapa banyak lagi kebohongan yang harus kudengar sebelum kau mau mengatakan siapa aku sebenarnya?”

Darma tidak langsung menjawab. Wajahnya tampak semakin tua di bawah cahaya merah yang merembes dari celah-celah lantai. Kulit di sekitar matanya mengelupas tipis, memperlihatkan lapisan lain yang pucat dan dipenuhi garis-garis hitam menyerupai akar.

“Aku adalah saksi terakhir dari perjanjian itu,” katanya akhirnya. “Namun menjadi saksi bukan berarti aku mengetahui semuanya. Pada malam Krakatau meledak, aku melihat orang-orang berlari menuju laut, mendengar nama-nama dipanggil dari dalam tanah, lalu menyaksikan sebuah desa lenyap tanpa meninggalkan satu mayat pun. Setelah itu, aku tidak pernah menua seperti manusia lain. Aku hanya diperintahkan untuk menunggu.”

“Menunggu siapa?”

Darma menatap tanda di pergelangan tangan Asha. “Anak yang membawa pintu di dalam tubuhnya.”

Asha mundur selangkah. Ia ingin menolak penjelasan itu, tetapi sebelum sempat berbicara, suara neneknya kembali terdengar dari balik cermin yang pecah. Suara itu tidak lagi memohon. Kali ini terdengar tegas, bahkan penuh ketakutan. “Asha, dengarkan Nenek. Jangan biarkan dia membawamu ke Watu Pungkasan. Apa pun yang dikatakannya, jangan percaya bahwa pintu itu bisa ditutup dengan mengorbankan satu nyawa.”

Darma segera mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya, Asha melihat ketakutan yang nyata di wajahnya. “Dia tidak boleh mendengar suara itu.”

“Kenapa?” Asha menuntut jawaban. “Apa yang ada di Watu Pungkasan?”

“Tempat semua kebohongan keluarga Mandala dimulai.”

Belum sempat Asha bertanya lagi, lantai kamar terbelah memanjang. Dari celah itu muncul cahaya merah yang menyilaukan, diikuti bau belerang dan tanah basah. Di balik retakan, Asha melihat sesuatu yang mustahil, hamparan laut gelap, langit merah, dan siluet gunung yang menjulang dari kejauhan. Namun pemandangan itu bukan berada di luar rumah. Semuanya tampak terhampar jauh di bawah tanah, seolah seluruh kamar neneknya berdiri di atas dunia lain yang selama ini tersembunyi.

Di tengah pemandangan itu, berdiri seorang perempuan berambut panjang dengan gaun putih yang telah menghitam oleh abu. Wajahnya sama persis dengan wajah Asha, tetapi matanya tertutup rapat dan kedua tangannya terikat rantai.

Di belakang perempuan itu, puluhan orang berdiri tanpa bergerak. Mereka mengenakan pakaian dari zaman yang berbeda, mulai dari kebaya kuno hingga pakaian modern, tetapi semuanya memiliki satu kesamaan: dada mereka berlubang, seakan jantung mereka telah dicabut dari tubuhnya.

Asha menutup mulutnya. “Siapa mereka?”

“Orang-orang yang dibayar dengan nyawanya agar sesuatu tetap terkubur,” jawab Darma. “Dan perempuan itu adalah alasan perjanjian tersebut tidak pernah berakhir.”

Perempuan di bawah tanah perlahan membuka matanya. Meski jarak mereka mustahil ditempuh dengan langkah biasa, Asha merasa tatapan itu menembus kulit, tulang, hingga bagian terdalam dirinya. Bibir perempuan itu bergerak, tetapi suara yang terdengar justru berasal dari dalam kepala Asha.

Kau mengambil namaku. Sekarang kembalikan.

Seketika, Asha terjatuh. Potongan-potongan ingatan menyerbu pikirannya, seorang perempuan muda menangis di sebuah ruangan berselimut kain putih, dua bayi diletakkan berdampingan, tangan neneknya gemetar ketika mengangkat salah satunya, dan seorang lelaki berwajah hangus berdiri di ambang pintu sambil berkata bahwa salah satu bayi harus dibawa pergi sebelum fajar.

Namun ada satu hal yang paling mengerikan. Dalam ingatan itu, Asha melihat dirinya sendiri bukan sebagai bayi, melainkan sebagai anak kecil yang berdiri di sudut ruangan, menyaksikan seluruh kejadian dengan mata terbuka.

Ia tersentak bangun sambil terengah-engah. “Aku ingat tempat itu.”

Darma berjongkok di hadapannya. “Apa yang kau lihat?”

“Ibu. Nenek. Dua bayi.” Asha menelan ludah, berusaha menyusun ingatan yang terasa seperti miliknya sekaligus bukan miliknya. “Tapi ada seseorang lagi di sana. Seorang anak perempuan. Dia bukan bayi. Dia sudah bisa berjalan.”

Wajah Darma berubah pucat. “Itu tidak mungkin.”

“Kenapa? Karena kau belum menuliskannya dalam kebohonganmu berikutnya?”

“Asha, dengarkan aku. Ingatan itu bukan berasal dari kehidupanmu.”

“Lalu dari siapa?”

Darma terdiam. Jawaban itu justru membuat Asha semakin yakin bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar pertukaran bayi. Ia berdiri, lalu meraih buku harian nenek yang tergeletak di lantai. Halaman-halamannya bergetar sendiri, berhenti pada sebuah lembar yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Di sana terdapat gambar peta Pulau Jawa, tetapi bentuk pulau itu telah digambar menyerupai tubuh manusia yang sedang meringkuk. Garis merah menghubungkan gunung-gunung, pantai, dan beberapa kota, sementara satu lingkaran hitam menandai lokasi rumah neneknya.

Di bawah peta, terdapat tujuh nama yang ditulis dengan tinta merah. Enam nama telah dicoret, sedangkan nama terakhir masih utuh.

ASHA MAHESWARI MANDALA.

Namun tulisan kecil di bawahnya membuat darah Asha seolah berhenti mengalir.

Nama yang diberikan kepada pintu. Bukan nama anak yang dilahirkan.

Asha menatap halaman itu berulang kali, berharap kata-kata tersebut berubah. “Jadi, aku bahkan bukan orang yang seharusnya memiliki nama ini?”

“Kau tetap manusia,” jawab Darma, tetapi suaranya terdengar ragu.

“Jangan berani-berani mengatakan itu kalau kau sendiri tidak yakin!”

Darma meraih buku harian tersebut, tetapi Asha segera menariknya menjauh. Pada halaman berikutnya terdapat catatan bertanggal 27 Agustus 1883. Tulisan itu berbeda dari tulisan neneknya, lebih tua dan tajam, dengan beberapa bagian yang tampak tercoret oleh kuku.

Ketika gunung meledak, kami mengira laut akan menelan semuanya. Kami salah. Laut hanya membawa tubuh-tubuh yang diizinkan pergi. Yang lain tetap berada di tanah, menjaga sesuatu yang tidak boleh disebutkan. Kami mengikat pintu dengan tujuh nama, tetapi satu nama telah hilang sebelum upacara selesai. Sejak malam itu, tanah Jawa tidak lagi tidur dengan tenang.

Di bagian paling bawah terdapat satu kalimat tambahan, ditulis dengan tinta yang masih tampak basah.

Jika anak itu kembali, jangan bunuh dia. Sebab yang akan bangun bukanlah dirinya, melainkan sesuatu yang selama ini memakai wajahnya.

Asha merasakan hawa dingin menjalar dari tengkuk hingga punggungnya. Ia menoleh kepada Darma, tetapi lelaki itu justru memandang retakan di lantai. Perempuan di bawah tanah kini telah memutus rantainya. Di belakangnya, gunung yang menjulang di tengah laut mulai mengeluarkan cahaya dari puncaknya. Bukan asap yang keluar, melainkan bayangan-bayangan manusia yang melesat ke langit seperti ribuan burung hitam.

“Waktunya hampir habis,” bisik Darma.

“Waktu untuk apa?”

“Untuk memutuskan siapa yang akan keluar dari pintu itu.”

Sebelum Asha sempat menjawab, semua suara di dalam rumah mendadak lenyap. Gemuruh berhenti. Cahaya merah padam. Bahkan angin yang sejak tadi merayap melalui celah dinding seakan ditarik keluar dari dunia. Dalam keheningan itu, terdengar tiga ketukan dari pintu kamar.

Tok. Tok. Tok.

Darma langsung berdiri dan menarik Asha menjauh. “Jangan dibuka.”

Dari balik pintu terdengar suara seorang perempuan. Suaranya lembut, sedikit serak, dan terasa begitu akrab hingga dada Asha mendadak sesak.

“Asha, Sayang. Buka pintunya. Ibu sudah pulang.”

Asha membeku. Ia hampir tidak memiliki ingatan tentang ibunya, sebab perempuan itu meninggal ketika dirinya masih kecil. Namun suara tersebut persis seperti suara yang baru saja ia dengar dalam ingatan yang muncul dari bawah tanah. Bahkan cara perempuan itu memanggil namanya sama, dengan jeda kecil sebelum kata terakhir.

“Ibu?” bisik Asha.

Darma mencengkeram lengannya. “Itu bukan ibumu.”

Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih keras. “Asha, Ibu tahu kau ada di dalam. Nenekmu sudah terlalu lama berbohong kepadamu. Dia membawa pulang anak yang salah, tetapi bukan itu kebohongan terbesarnya.”

Asha menahan napas. “Apa maksud Ibu?”

Di balik pintu, perempuan itu tertawa kecil, lalu berkata, “Lihatlah tangan Darma. Tanyakan kepadanya siapa yang menggendongmu saat kau dilahirkan.”

Asha perlahan menoleh.

Darma masih mencengkeram lengannya, tetapi sesuatu telah berubah pada tangannya. Kulitnya kini tampak transparan, memperlihatkan tulang-tulang hitam di bawahnya. Di pergelangan tangannya terdapat bekas luka melingkar, sama persis dengan tanda yang muncul pada tubuh perempuan di bawah tanah. Dan di sela-sela jarinya, mengalir cairan merah pekat yang tidak menetes ke lantai, melainkan meresap kembali ke dalam kulitnya.

“Darma,” bisik Asha. “Siapa kau sebenarnya?”

Lelaki itu menunduk. Untuk sesaat, wajahnya kembali menyerupai manusia biasa, wajah seorang pria yang telah menanggung kesedihan selama lebih dari satu abad. “Aku yang membawa salah satu dari kalian keluar dari ruang kelahiran,” katanya. “Aku yang memilih bayi mana yang harus hidup.”

Dari balik pintu, suara perempuan itu mendadak berubah dingin.

“Bukan. Kau memilih bayi yang harus dikubur.”

Pintu kamar terbuka sendiri.

Di ambangnya berdiri seorang perempuan berwajah Asha, mengenakan gaun putih dan gelang merah yang sama. Namun kali ini ia tidak tampak seperti hantu. Ia bernapas, kulitnya hangat, dan matanya memantulkan cahaya lampu dengan cara yang sangat manusiawi. Di belakangnya, lorong rumah nenek terbentang panjang tanpa ujung, dipenuhi orang-orang yang wajahnya telah hilang.

Perempuan itu menatap Asha, lalu tersenyum sedih.

“Akhirnya kita bertemu,” katanya. “Namaku bukan Ratri. Bukan pula nama yang tertulis di buku harian itu.”

Ia melangkah masuk, sementara Darma mundur dengan wajah penuh ketakutan.

“Aku adalah anak yang dilahirkan lebih dahulu.”

Perempuan itu mengulurkan tangan kepada Asha.

“Dan selama ini, kau hidup dengan jantungku.”

Bab selanjutnya

10 - Ketika Tanah Menagih Nama

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kutukan Tanah Jawa.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 09 / 11
Kutukan Tanah Jawa
08

Wajah Di Dalam Cermin

1.160 kata / Tersedia

09

Nama Terakhir Di Bawah Jawa

1.481 kata / Sedang dibaca

10

Ketika Tanah Menagih Nama

1.646 kata / Tersedia