Lindayanti
Kutukan Tanah Jawa
Mulai membaca
Asha terjatuh ketika rumah berguncang. Lemari berderit, kaca jendela bergetar, dan foto-foto di dinding berjatuhan satu demi satu. Namun gempa itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum semuanya kembali diam, menyisakan suara tetesan air dari atap dan napas Asha yang memburu.
Ia tidak segera berdiri.
Tatapannya terpaku pada lantai.
Retakan tipis membelah ubin tepat di depan kakinya.
Dari celah itu keluar udara dingin yang membawa bau tanah basah. Bukan udara dari ruangan bawah tanah, melainkan aroma tanah yang baru saja digali setelah hujan.
Asha meraih ponselnya dan menyalakan senter. Cahaya putih menelusuri retakan tersebut, tetapi tidak menemukan apa pun selain kegelapan.
Kemudian terdengar suara.
“Pulang...”
Asha membeku.
Suara itu sangat pelan, seperti seseorang berbicara dari tempat yang jauh di bawah tanah.
“Pulang ke mana?” bisiknya tanpa sadar.
Seketika suara di bawah lantai berhenti. Asha menutup mulutnya sendiri. Ia baru saja menjawab.
Tiga detik berlalu.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan terdengar dari bawah lantai. Asha mundur sampai punggungnya membentur dinding. Kemudian suara neneknya muncul lagi.
“Kamu tidak seharusnya menjawab.”
Lampu kamar tiba-tiba menyala.
Asha menjerit kecil.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia menatap pintu kamar yang masih terkunci. Tidak mungkin seseorang masuk tanpa membuat suara. Namun ketika pandangannya turun ke lantai, foto hitam-putih yang tadi terjatuh sudah tidak berada di tempatnya.
Foto itu kini tergeletak tepat di depan pintu. Asha mendekatinya dengan kaki gemetar. Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan yang nyaris pudar.
Jangan gali apa yang dikubur tanah.
Di bawah kalimat itu terdapat satu nama.
Mandala.
Asha menggenggam foto tersebut, lalu teringat sesuatu.
Kakeknya pernah melarang seluruh keluarga menyentuh ruang bawah rumah. Ketika kecil, Asha mengira larangan itu hanya karena bangunan tersebut berbahaya. Tetapi setiap kali ia bertanya mengenai ruangan itu, wajah neneknya selalu berubah.
Sekarang ia tahu.
Ada sesuatu yang disembunyikan keluarganya. Dan sesuatu itu mungkin sudah tidak mau disembunyikan lagi.
Asha keluar kamar dengan membawa senter. Lorong rumah gelap dan sunyi. Pintu kecil di bawah tangga masih tertutup, tetapi tanah basah yang sebelumnya hanya menempel di celah kini memenuhi lantai di depannya.
Ia jongkok.
Tanah itu bergerak.
Sangat pelan.
Seperti ada sesuatu yang bernapas di bawahnya. Asha menahan napas ketika melihat sebuah benda kecil muncul dari tanah.
Sebuah gelang.
Gelang kain merah dengan manik kayu tua.
Ia mengenalinya.
Itu milik neneknya.
Asha mengambil gelang tersebut. Begitu menyentuh kulitnya, kepalanya mendadak berdenyut. Suara-suara asing memenuhi pikirannya.
Jeritan.
Tangisan.
Suara orang berlari.
Kemudian suara gemuruh yang sangat besar. Asha melihat bayangan sebuah gunung.
Laut yang terbelah.
Langit berwarna merah.
Dan ribuan manusia berlarian menjauhi sesuatu yang tidak terlihat. Di antara suara itu terdengar seseorang berteriak.
“Jangan biarkan tanah membuka mulutnya!”
Asha tersentak kembali. Gelang terlepas dari tangannya. Ia terengah-engah sambil memegang kepala.
“Apa yang terjadi padaku?”
Tidak ada jawaban.
Namun dari balik pintu bawah tangga terdengar bunyi benda berat diseret.
Krrrkkk...
Asha berdiri.
Suara itu berhenti.
Ia mundur satu langkah.
Lalu dua langkah.
Tiba-tiba pintu tersebut terbuka sendiri.
Tidak lebar.
Hanya selebar telapak tangan.
Kegelapan di baliknya terasa berbeda dari gelap biasa. Pekat, dalam, seolah ruangan itu tidak memiliki ujung.
Asha menyorotkan senter.
Tangga batu menurun ke bawah.
Padahal seingatnya, rumah neneknya tidak pernah memiliki ruang bawah tanah. Ia menatap tangga tersebut cukup lama sebelum akhirnya menyadari sesuatu. Dinding di kanan-kiri tangga penuh ukiran.
Gunung.
Ombak.
Orang-orang yang sedang bersujud.
Dan di bagian paling bawah, terdapat gambar sesuatu yang bentuknya menyerupai manusia, tetapi kepalanya tidak memiliki wajah.
Di bawah gambar itu terdapat tulisan Jawa kuno.
Asha tidak mampu membacanya.
Namun anehnya, ketika jarinya menyentuh ukiran tersebut, sebuah arti muncul begitu saja dalam pikirannya.
Yang dibangunkan oleh manusia akan meminta manusia kembali.
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari bawah.
Satu.
Dua.
Tiga.
Seseorang sedang menaiki tangga.
Asha mundur.
Cahaya senter bergetar di tangannya. Bayangan hitam muncul di dinding.
Tinggi.
Terlalu tinggi untuk manusia biasa.
Asha hendak berlari ketika suara neneknya terdengar dari dalam ruangan.
“Asha, jangan lihat wajahnya.”
Langkah itu berhenti.
Asha memejamkan mata.
Bayangan di dinding semakin dekat. Kemudian sesuatu berdiri tepat di hadapannya. Ia dapat merasakan udara dingin menyentuh wajah. Bau tanah memenuhi hidungnya. Lalu suara yang bukan suara manusia berbisik sangat dekat dengan telinganya.
“Kenapa kau baru pulang sekarang?”
Asha membuka mata.
Tidak ada siapa-siapa.
Tangga itu kosong.
Namun di lantai tepat di depannya terdapat jejak kaki basah.
Jejak itu tidak menuju keluar.
Jejak tersebut berasal dari bawah tanah dan berhenti tepat di depan kamar Asha. Di samping jejak terakhir terdapat sebuah benda. Batu hitam yang tadi ia simpan di kamar.
Kini permukaannya retak.
Dari dalam retakan itu merembes cairan merah seperti darah. Asha menatapnya tanpa berkedip. Pada permukaan batu muncul tulisan baru.
Bukan lagi JAWA.
Melainkan namanya sendiri.
ASHA.
Dan dari kejauhan, jauh di balik rumah, terdengar suara gemuruh yang membuat kaca jendela bergetar.
Suara itu datang dari arah laut.
Asha belum tahu bahwa malam itu bukan hanya rumah neneknya yang terbangun.
Jauh di seberang pulau, sesuatu di bawah laut juga baru saja membuka mata.