Lindayanti
Kutukan Tanah Jawa
Mulai membaca
Asha tidak tidur malam itu. Ia duduk di ujung ranjang dengan punggung menempel pada dinding, sementara batu hitam yang bertuliskan namanya terbungkus kain dan diletakkan sejauh mungkin darinya.
Di luar, hujan telah berhenti, tetapi rumah justru terasa semakin hidup. Papan lantai sesekali berderit, bambu di halaman bergesekan, dan dari bawah rumah terdengar bunyi seperti sesuatu sedang menggaruk tanah.
Menjelang pukul empat pagi, suara itu berhenti.
Asha mengira semuanya selesai sampai terdengar azan dari masjid desa.
Suara azan baru beberapa baris ketika tiba-tiba terputus. Bukan karena pengeras suara mati. Suaranya seperti ditelan sesuatu.
Kemudian terdengar suara lain dari kejauhan.
Gamelan.
Asha berdiri dan membuka tirai sedikit. Langit masih gelap. Kabut menggantung rendah di antara pepohonan, tetapi di tengah halaman tampak bekas jejak kaki basah yang semalam tidak ada.
Jejak itu mengarah ke pohon sawo.
Asha mengambil senter.
Ia tahu seharusnya tidak keluar.
Namun rasa takut perlahan kalah oleh satu pertanyaan: siapa yang datang ke rumah ini sebelum dirinya?
Di bawah pohon sawo terdapat tanah yang baru digali. Tidak dalam, hanya sekitar beberapa sentimeter, seolah seseorang sengaja membongkar permukaannya. Asha berjongkok dan menyibakkan tanah dengan tangannya.
Jarinya menyentuh sesuatu yang keras.
Sebuah kaleng tua.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas yang telah menguning, foto-foto lama, dan sebuah buku kecil berlapis kulit.
Halaman pertama hanya berisi satu kalimat.
Jika Asha membaca ini, berarti kami gagal.
Napas Asha tercekat.
Ia membalik halaman berikutnya.
Tulisan tangan itu milik neneknya.
Keluarga Mandala tidak menjaga tanah ini. Kami menjaga sesuatu yang ada di bawahnya.
Asha terus membaca.
Menurut catatan tersebut, pada tahun 1883, jauh sebelum keluarga Mandala memiliki rumah itu, leluhur mereka tinggal di sebuah wilayah yang kini sebagian telah berubah karena bencana dan perpindahan penduduk. Mereka bukan bangsawan, bukan pemimpin, bahkan bukan orang penting.
Mereka hanya orang-orang yang mengetahui sebuah rahasia.
Di bawah tanah terdapat tempat yang oleh penduduk lama disebut Watu Pungkasan.
Batu terakhir.
Tempat yang tidak boleh dibuka.
Konon, sebelum letusan besar Krakatau, beberapa orang datang dari Jawa membawa benda-benda tertentu untuk ditanam di sekitar wilayah itu. Mereka percaya bencana yang akan datang bukan sekadar amukan alam.
Ada sesuatu yang sedang mencoba keluar.
Asha berhenti membaca.
Tangannya gemetar.
“Ini tidak masuk akal.”
Ia membalik halaman.
Tulisan berikutnya membuat darahnya terasa dingin.
Krakatau bukan awalnya.
Krakatau adalah akibatnya.
Asha menelan ludah.
Di halaman berikutnya terdapat gambar sederhana berupa pulau Jawa. Beberapa titik merah ditandai di sepanjang pulau.
Gunung.
Laut.
Hutan.
Sungai.
Dan di tengah semuanya, sebuah lingkaran hitam.
Di bawah gambar tertulis:
Selama tanah menerima darah, ia akan tetap tidur.
Asha menutup buku itu.
“Darah siapa?”
Suara seorang lelaki menjawab dari belakang.
“Darah keluargamu.”
Asha tersentak dan berbalik.
Seorang lelaki berdiri di balik pohon.
Usianya sekitar lima puluhan. Mengenakan jaket gelap, celana panjang, dan membawa payung yang masih tertutup. Wajahnya tidak asing, tetapi Asha tidak dapat mengingat pernah bertemu dengannya.
“Siapa Anda?”
Lelaki itu tidak menjawab.
Tatapannya justru jatuh pada buku di tangan Asha.
“Kau tidak seharusnya menemukan itu.”
Asha berdiri. “Anda kenal nenek saya?”
“Semua orang di desa ini mengenal nenekmu.”
“Siapa Anda?”
Lelaki itu akhirnya mendekat.
“Namaku Darma.”
Ia berhenti beberapa langkah di depan Asha.
“Dan aku orang terakhir yang masih mencoba menghentikan keluargamu.”
Asha mengerutkan kening.
“Menghentikan apa?”
Darma menatap rumah tua di belakangnya.
“Kesalahan yang mereka ulangi selama lebih dari seratus tahun.”
Angin mendadak berembus.
Daun-daun sawo berguguran.
Darma menatap tanah.
“Asha, kalau kau ingin hidup sampai pagi berikutnya, jangan pernah masuk ke ruangan bawah rumah.”
Asha menggenggam buku lebih erat.
“Kenapa?”
“Karena yang ada di sana bukan sesuatu yang dikunci.”
Darma menatapnya dengan wajah pucat.
“Melainkan sesuatu yang sedang menunggu pintunya dibuka.”
Tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar.
Tidak keras.
Hanya satu getaran pendek.
Namun dari kejauhan terdengar suara gemuruh panjang.
Darma langsung menoleh ke arah laut.
Wajahnya berubah.
“Apa?”
Asha ikut menatap.
Langit di ufuk mulai memerah.
Bukan warna matahari terbit.
Merah pekat seperti cahaya api yang memantul dari balik awan.
Darma mundur selangkah.
“Tidak mungkin.”
“Apa yang terjadi?”
Lelaki itu tidak menjawab.
Ia hanya menunjuk ke arah laut.
Di kejauhan, di balik kabut, sesuatu yang hitam terlihat menjulang dari permukaan air.
Asha menyipitkan mata.
Bentuknya seperti gunung.
Tetapi gunung itu tidak ada di sana kemarin.
Kemudian suara Darma terdengar lirih.
“Dia mulai mengingat jalan pulang.”
Asha belum sempat bertanya siapa yang dimaksud ketika seluruh desa mendadak mati listrik.
Dan dari bawah rumah neneknya terdengar suara ribuan orang berbisik bersamaan.
“Asha...”
“Asha...”
“Asha...”
Buku di tangannya terbuka sendiri pada halaman terakhir.
Di sana hanya terdapat satu kalimat yang ditulis dengan tinta merah.
Keturunan terakhir sudah pulang. Sekarang hutangnya harus dibayar.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kutukan Tanah Jawa.