Lindayanti
Kutukan Tanah Jawa
Mulai membaca
Hujan turun sejak sore ketika Asha Maheswari Mandala tiba di desa tempat rumah neneknya berdiri. Jalanan sempit di antara perkebunan basah nyaris tidak terlihat, hanya sesekali diterangi lampu mobil yang memantul pada genangan. Semakin jauh dari jalan raya, sinyal telepon menghilang, rumah-rumah penduduk berkurang, dan suara kendaraan perlahan digantikan desir bambu yang digoyang angin.
Sopir yang mengantarnya sejak tadi lebih banyak diam. Namun ketika mobil melewati sebuah tikungan tajam, lelaki itu tiba-tiba menurunkan suara.
“Non Asha.”
Asha mengangkat wajah dari ponselnya. “Iya?”
“Kalau nanti sudah sampai rumah, jangan buka jendela.”
Asha mengernyit. “Kenapa?”
Lelaki itu tidak langsung menjawab. Matanya tetap terpaku pada jalan, sementara tangannya mencengkeram kemudi lebih kuat.
“Kalau dengar ada yang memanggil dari luar, jangan dijawab.”
Asha hampir tertawa karena mengira lelaki itu sedang bercanda. Namun ekspresinya terlalu serius untuk sebuah gurauan.
“Memangnya siapa yang bakal manggil saya?”
Sopir itu menatap kaca spion.
“Jangan pedulikan siapa.”
Mobil kembali sunyi.
Rumah nenek Asha berada di ujung desa, berdiri sendirian di balik rumpun bambu dan pohon sawo tua. Bangunannya masih kokoh, tetapi cat dinding telah mengelupas dan halaman dipenuhi daun basah. Tidak ada lampu teras yang menyala. Rumah itu tampak seperti sudah lama ditinggalkan, padahal neneknya baru meninggal tiga hari lalu.
Sebelum mengembuskan napas terakhir di rumah sakit, neneknya hanya mengucapkan kalimat yang sama berulang kali.
Cucu saya belum pulang.
Asha sempat mengira neneknya sedang mengigau.
Sampai sehari sebelum kematiannya, sebuah pesan masuk ke ponsel Asha dari nomor neneknya.
Pulanglah ke rumah. Jangan percaya siapa pun yang mengatakan tanah ini sudah aman.
Pesan itu tidak pernah sempat dijelaskan.
Asha turun dari mobil, mengambil koper, lalu memandang rumah tua tersebut. Sopirnya membantu membawa barang sampai teras, tetapi menolak masuk.
“Non, saya tunggu sampai pintunya terbuka saja.”
“Kenapa?”
Lelaki itu memandang ke arah halaman belakang.
“Rumah ini tidak pernah benar-benar kosong.”
Sebelum Asha sempat bertanya, lelaki itu sudah kembali ke mobil.
Pintu utama terbuka dengan bunyi panjang ketika Asha mendorongnya. Udara lembap langsung menyambut, membawa aroma kayu tua, tanah basah, dan sesuatu yang samar seperti bunga kenanga yang sudah membusuk.
Ia menyalakan lampu.
Satu per satu ruangan terlihat kembali seperti yang ia ingat dari masa kecil. Ruang tamu dengan kursi kayu, lemari kaca berisi piring lama, foto keluarga yang menggantung miring di dinding.
Tidak ada yang berubah.
Kecuali sebuah pintu kecil di bawah tangga.
Pintu itu terkunci.
Asha mendekat. Ada tanah basah menempel di celah bawahnya, seolah sesuatu baru saja merangkak keluar dari dalam.
Ia berjongkok.
Dari balik pintu terdengar suara lirih.
“Asha...”
Tubuhnya menegang.
Suara itu terlalu dikenalnya.
“Nenek?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
“Asha... buka.”
Itu suara neneknya.
Persis.
Bahkan intonasi terakhirnya sama seperti ketika perempuan tua itu memanggil Asha saat masih kecil.
Tangan Asha hampir menyentuh gagang pintu, tetapi ia teringat ucapan sopir tadi.
Kalau dengar ada yang memanggil dari luar, jangan dijawab.
Ia mundur.
Ketukan berubah menjadi pukulan.
BRAK!
Pintu bergetar.
“Asha!”
Suara neneknya berubah menjadi suara perempuan lain. Lalu laki-laki. Kemudian anak kecil.
Semuanya memanggil namanya bersamaan.
Asha berlari ke kamar dan mengunci pintu.
Ia baru berani bernapas setelah beberapa menit.
Di atas meja kamar, terdapat sebuah kotak kayu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Kotak itu terkunci, tetapi kuncinya tergantung pada gagang pintu.
Di dalamnya hanya ada selembar kain merah tua, sebuah foto hitam-putih, dan batu hitam sebesar telapak tangan.
Asha mengangkat batu tersebut.
Permukaannya dingin.
Pada salah satu sisinya terukir satu kata.
JAWA.
Di bawahnya terdapat angka.
27 AGUSTUS 1883.
Asha membeku.
Tanggal itu hanya berselang beberapa hari sebelum letusan besar Krakatau yang mengguncang wilayah sekitar Selat Sunda dan meninggalkan salah satu bencana paling dahsyat dalam sejarah.
Mengapa neneknya menyimpan batu itu?
Mengapa tanggal tersebut ditulis di atasnya?
Dan apa hubungannya dengan keluarganya?
Asha membalik foto hitam-putih tadi.
Foto itu memperlihatkan beberapa orang berdiri di depan rumah yang sama. Wajah-wajahnya asing, kecuali satu perempuan yang berdiri paling belakang.
Asha mendekatkan foto ke lampu.
Wajah perempuan itu membuat darahnya terasa berhenti mengalir.
Perempuan itu memiliki wajah yang sama dengannya.
Bukan sekadar mirip.
Benar-benar sama.
Di luar kamar, terdengar suara gemuruh.
Asha menoleh ke jendela.
Tanah di halaman belakang bergerak.
Bukan bergeser.
Bergerak.
Naik perlahan, kemudian turun lagi seperti dada seseorang yang sedang bernapas. Retakan memanjang muncul di permukaannya. Dari celah itu keluar asap tipis. Lalu terdengar suara gamelan dari kejauhan.
Pelan.
Sumbang.
Semakin lama semakin dekat.
Asha mundur dari jendela ketika sebuah sosok tinggi muncul di antara pohon-pohon. Tubuhnya dibalut kain hitam, rambutnya menjuntai sampai pinggang, tetapi wajahnya membelakangi rumah.
Tangannya memegang sesuatu.
Sebuah foto.
Foto keluarga Mandala.
Sosok itu mengangkat kepalanya.
“Asha.”
Suara itu terdengar dari halaman, dari bawah lantai, dan dari dalam kepalanya sekaligus.
“Seratus empat puluh tiga tahun...”
Sosok tersebut perlahan berbalik.
Lampu rumah mendadak padam. Gelap menelan seluruh ruangan..Asha menjatuhkan foto yang digenggamnya. Dari bawah lantai terdengar tiga ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Kemudian suara neneknya berbisik tepat di bawah kakinya.
“Jangan biarkan mereka tahu kau sudah pulang.”
Asha menahan napas.
Karena sesaat kemudian, suara lain menjawab dari bawah rumah.
“Dia sudah pulang.”
Dan seluruh tanah di bawah rumah itu berguncang.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kutukan Tanah Jawa.