CeritaGW
Buku / Bab
Bab 101.646 kata

Ketika Tanah Menagih Nama

L

Lindayanti

Kutukan Tanah Jawa

Mulai membaca

Asha tidak sanggup bergerak. Perempuan di hadapannya memiliki wajah yang sama, bentuk mata yang sama, bahkan garis tipis di sudut bibir yang selama ini ia kira sebagai ciri khas dirinya sendiri. Namun, ada sesuatu yang berbeda pada tatapannya.

Mata perempuan itu menyimpan kesedihan yang terlalu tua untuk seseorang yang tampak seusianya, seolah ia telah menyaksikan ratusan tahun berlalu tanpa pernah benar-benar hidup di dalamnya.

Di balik punggungnya, lorong rumah nenek dipenuhi orang-orang tanpa wajah. Mereka berdiri berdesakan, diam, dan menunggu. Tidak satu pun dari mereka menginjak lantai; kaki mereka menggantung beberapa sentimeter di atas permukaan tanah.

“Jangan percaya kepadanya,” Darma memperingatkan, meskipun suaranya bergetar. “Dia ingin mengambil tubuhmu.”

Perempuan itu menoleh kepadanya. “Kau masih menggunakan kalimat yang sama setelah seratus empat puluh tiga tahun? Dahulu kau mengatakan bahwa kau menyelamatkan kami. Sekarang kau mengatakan bahwa kau sedang melindungi Asha. Berapa banyak anak yang harus kehilangan hidupnya sebelum kau berhenti menyebut pengkhianatan sebagai penyelamatan?”

Darma mengepalkan tangan. Tulang-tulang hitam di balik kulitnya bergerak seperti makhluk hidup, sementara luka melingkar di pergelangan tangannya mengeluarkan cahaya merah. Asha menatap mereka bergantian, berusaha memahami mengapa dua sosok yang sama-sama mengaku mengetahui masa lalunya justru tampak lebih takut satu sama lain daripada kepadanya.

“Aku tidak peduli siapa yang benar di antara kalian,” ujar Asha akhirnya. “Aku ingin tahu siapa diriku. Aku ingin tahu siapa perempuan ini, mengapa namaku ditulis dalam daftar korban sebelum aku lahir, dan mengapa kalian semua memperlakukanku seolah hidupku bukan milikku sendiri.”

Perempuan itu menatapnya lama sebelum menjawab. “Karena namamu bukan nama yang diberikan ketika kau dilahirkan. Nama itu diberikan ketika kau dipilih.”

“Dipilih untuk apa?”

“Menjadi penutup bagi sesuatu yang tidak bisa dibunuh.”

Tiba-tiba lantai bergetar. Orang-orang tanpa wajah di lorong serentak menundukkan kepala, lalu mengeluarkan suara yang sama, seperti ribuan orang berbisik dari dalam kuburan. Kata-kata mereka tidak terdengar jelas pada awalnya, tetapi perlahan membentuk satu kalimat yang membuat dinding rumah mengeluarkan cairan hitam dari setiap retakannya.

Keturunan terakhir telah kembali. Perjanjian harus diselesaikan.

Darma meraih bahu Asha. “Kita harus pergi sekarang!”

Namun perempuan itu menggeleng. “Tidak ada tempat untuk berlari. Kau tahu itu, Darma. Selama pintu masih terbuka, seluruh tanah Jawa akan menjadi jalan bagi mereka.”

Asha merasakan tanah di bawah kakinya berdenyut. Bukan seperti gempa, melainkan seperti jantung raksasa yang berdetak jauh di bawah permukaan bumi. Setiap denyut membuat tanda berbentuk gunung di pergelangan tangannya semakin merah. Ia mencoba menutupinya dengan telapak tangan, tetapi panasnya justru menjalar hingga ke siku.

Dalam sekejap, ia melihat bayangan-bayangan asing melintas di benaknya, sawah yang mengering dalam semalam, sungai yang mengalir berwarna merah, rumah-rumah yang tenggelam ke dalam tanah, serta ribuan orang berdiri di pantai sambil menatap laut yang surut terlalu jauh.

Di antara semua bayangan itu, muncul pemandangan sebuah gunung yang tidak pernah ia lihat dalam buku sejarah mana pun. Puncaknya menjulang dari bawah tanah, diselimuti lapisan batu hitam dan akar-akar raksasa yang membelit tubuhnya.

Pada lerengnya terdapat pintu-pintu batu, masing-masing dihiasi nama manusia. Beberapa pintu telah terbuka, sementara sisanya masih terkunci oleh rantai yang mulai berkarat.

“Watu Pungkasan,” bisik Asha.

Perempuan di hadapannya tampak terkejut. “Kau bisa melihatnya?”

“Aku tidak tahu apa yang kulihat. Aku hanya tahu tempat itu.”

“Karena tempat itu mengenalmu,” jawabnya. “Dan sebentar lagi, kau akan mengenali alasan mengapa ia memanggil.”

Perempuan itu mengulurkan tangannya lagi. Kali ini, Asha melihat sebuah tanda berbentuk gunung terbelah pada telapak tangannya. Tanda tersebut sama persis dengan yang muncul di pergelangan tangan Asha, tetapi garisnya terbalik, seolah keduanya merupakan dua bagian dari satu lambang yang terpisah.

“Namaku tidak pernah ditulis karena mereka menghapusnya,” kata perempuan itu. “Ketika kita dilahirkan, Nenekmu membawa satu bayi keluar dari ruang kelahiran. Darma membawa bayi yang lain ke tempat persembahan. Namun, tidak seorang pun dari mereka mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi sebelum kedua bayi itu menangis.”

“Apa yang terjadi?”

“Pintu itu sudah terbuka.”

Udara mendadak terasa begitu dingin. Asha teringat catatan dalam buku harian neneknya, tentang sesuatu yang menggunakan wajah manusia dan tidak boleh disebutkan. Ia menatap perempuan itu dengan perasaan ngeri yang semakin sulit ditahan.

“Jadi, kita bukan bayi yang dipertukarkan?”

Perempuan itu menggeleng perlahan. “Bukan sesederhana itu. Salah satu dari kita dilahirkan dengan tubuh yang dapat menampung kehidupan. Yang lain dilahirkan dengan sesuatu yang tidak seharusnya berada di dalam tubuh manusia. Tetapi pada malam itu, keduanya menangis. Dan ketika tangisan pertama terdengar, sesuatu dari bawah Jawa masuk ke ruang kelahiran.”

Asha mundur selangkah. “Sesuatu masuk ke tubuh siapa?”

Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya memandang dada Asha, tepat di tempat jantungnya berdetak.

Darma mendadak menerjang perempuan itu. Gerakannya begitu cepat hingga Asha hanya melihat bayangan hitam melintas di antara mereka. Keduanya menghantam dinding, membuat kayu tua pecah dan debu berhamburan.

Untuk sesaat, wajah Darma berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi menyerupai manusia, rahangnya memanjang, matanya menghitam seluruhnya, dan dari punggungnya muncul guratan-guratan seperti akar yang terbakar.

Perempuan itu tidak melawan. Ia justru menatap Darma dengan kesedihan yang hampir membuat Asha lupa bahwa mereka sedang menyaksikan sesuatu yang mengerikan.

“Kau tidak bisa membunuhku,” katanya. “Kau sudah pernah mencoba.”

Darma menekan lehernya ke dinding. “Aku akan memastikan kau tidak menyentuhnya.”

“Kau tidak melindunginya. Kau hanya takut ia mengingat apa yang telah kau lakukan.”

Kalimat itu membuat Darma membeku. Perempuan tersebut memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri, lalu menoleh kepada Asha. Di matanya, Asha melihat sesuatu yang tidak pernah ia temukan pada makhluk-makhluk yang mengejarnya selama ini, rasa kasihan.

“Dia yang menggendongmu ketika kau dibawa ke ruang persembahan,” katanya. “Dia yang mendengar tangisanmu. Dan dia pula yang menutup pintu setelah menyadari bahwa bayi yang dibawanya tidak lagi bernapas.”

Asha menatap Darma. “Kau bilang kau memilih bayi mana yang harus hidup.”

“Aku berusaha menyelamatkanmu,” jawab Darma serak.

“Dari siapa?”

Darma menunduk. “Dari sesuatu yang telah menggunakan tubuhmu sejak malam itu.”

Keheningan jatuh di antara mereka. Lalu Asha menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada semua pengakuan sebelumnya. Jika Darma telah membawa dirinya ke ruang persembahan, jika neneknya telah memilih bayi yang bernapas, dan jika perempuan di hadapannya merupakan anak yang lebih dahulu dilahirkan, lalu siapa yang sebenarnya sedang berdiri di dalam rumah itu?

Asha memandang kedua tangannya. Kulitnya tampak normal, tetapi denyut di pergelangan tangannya tidak lagi mengikuti irama jantungnya. Setiap kali tanah berdenyut, tubuhnya ikut bergetar. Seolah ada dua kehidupan yang saling berebut ruang di dalam dirinya.

“Kalau aku bukan anak yang seharusnya selamat,” bisiknya, “lalu apa yang sebenarnya kalian selamatkan?”

Tidak ada yang menjawab.

Dari kejauhan terdengar suara ledakan. Bukan dari gunung, melainkan dari bawah rumah. Lantai kamar terangkat, jendela pecah, dan udara dipenuhi debu yang berbau belerang. Di luar, langit telah berubah merah gelap. Asha melihat kilatan cahaya melintas di cakrawala, disusul gelombang hitam yang bergerak dari arah laut menuju daratan. Namun, yang paling membuatnya ketakutan bukanlah gelombang itu.

Di balik awan, sebuah bayangan raksasa sedang bangkit.

Bentuknya menyerupai gunung, tetapi puncaknya berlekuk seperti tengkorak. Di sekelilingnya, awan berputar membentuk pusaran yang luas, sementara tanah di bawah rumah retak hingga ke halaman. Dari setiap celah, muncul tangan-tangan pucat yang berusaha meraih permukaan. Suara-suara yang selama ini hanya terdengar dalam mimpi kini menggema dari seluruh penjuru, menyebut nama-nama yang tidak pernah dikenal Asha.

Perempuan itu menatap langit dengan wajah pucat. “Mereka telah menemukan jalannya.”

“Siapa mereka?” tanya Asha.

“Orang-orang yang dikubur oleh perjanjian pertama. Mereka tidak pernah mati sepenuhnya, karena nama mereka digunakan untuk mengunci pintu. Sekarang, ketika namamu kembali ke tanah ini, ikatan itu mulai terlepas.”

Darma menggeleng keras. “Tidak. Selama pintu utama tetap tertutup, mereka tidak akan bisa keluar.”

Perempuan itu menatapnya dengan getir. “Pintu utama tidak pernah berada di Watu Pungkasan, Darma. Tempat itu hanya ruang penjara. Pintu yang sebenarnya berada di dalam tubuh anak yang kau bawa keluar.”

Asha merasa seluruh darahnya membeku.

Tiba-tiba, buku harian nenek yang tergeletak di lantai terbuka dengan sendirinya. Halaman-halamannya berbalik cepat hingga berhenti pada lembar terakhir. Tulisan yang sebelumnya tidak ada kini muncul perlahan, seolah seseorang sedang menuliskannya dari sisi lain kertas.

Jika tanah mulai memanggil dengan suara orang yang kau cintai, jangan menjawab. Jika gunung muncul dari bawah bumi, jangan mencari jalan keluar. Dan jika anak yang hilang akhirnya berdiri di hadapanmu, jangan biarkan keduanya saling menyentuh.

Asha mengangkat kepala. Perempuan itu kini berdiri hanya beberapa langkah darinya. Darma berusaha menghalangi, tetapi tubuhnya mulai retak seperti patung tanah liat yang mengering. Dari setiap retakan, keluar cahaya merah yang sama dengan cahaya di pergelangan tangan Asha.

“Apa yang akan terjadi jika kami bersentuhan?” tanya Asha.

Perempuan itu menurunkan tangannya. “Kau akan mengetahui siapa di antara kita yang benar-benar dilahirkan sebagai manusia.”

“Dan yang lainnya?”

Senyum perempuan itu lenyap. “Yang lainnya akan membuka pintu.”

Tanah kembali berdenyut. Kali ini lebih keras. Rumah nenek terangkat beberapa sentimeter sebelum jatuh kembali, dan dari bawah lantai terdengar suara rantai raksasa yang putus satu demi satu. Darma menjerit, bukan karena kesakitan, melainkan seperti seseorang yang baru saja mendengar hukuman yang telah lama ditakutinya.

Asha menatap perempuan di hadapannya. Ia bisa saja melarikan diri, tetapi ke mana pun ia pergi, seluruh tanah seolah telah mengenali namanya. Di luar, orang-orang tanpa wajah mulai merangkak keluar dari retakan, sementara bayangan gunung semakin dekat. Ia menyadari bahwa selama ini kepulangannya bukanlah awal dari kutukan.

Kepulangannya adalah bagian terakhir dari sesuatu yang telah direncanakan jauh sebelum ia dilahirkan.

Perempuan itu mengulurkan tangan untuk terakhir kalinya.

“Pilihlah, Asha. Percayai aku dan biarkan aku mengambil kembali apa yang menjadi milikku, atau percayai Darma dan biarkan seluruh Jawa menanggung akibat dari kebohongan kalian.”

Asha menatap tangan itu, lalu menatap Darma yang berlutut di lantai. Di antara mereka, ia melihat sesuatu bergerak di dalam retakan tanah, sebuah mata besar yang terbuka perlahan, menatapnya dari kedalaman yang tidak memiliki dasar.

Suara neneknya terdengar sekali lagi, kali ini dari dalam dada Asha sendiri.

“Maafkan Nenek, Sayang. Nenek tidak pernah menyelamatkanmu.”

Asha tersentak ketika tanda di pergelangan tangannya pecah menjadi dua garis merah. Salah satunya menjalar menuju telapak tangan, sementara yang lain menghilang ke bawah kulitnya, seolah ada sesuatu yang sedang menariknya dari dalam.

Lalu mata di bawah lantai berkedip.

Dan seluruh rumah, bersama tanah yang menopangnya, mulai tenggelam.

Bab selanjutnya

11 - Tanah Yang Akhirnya Diam

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kutukan Tanah Jawa.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 10 / 11
Kutukan Tanah Jawa
09

Nama Terakhir Di Bawah Jawa

1.481 kata / Tersedia

10

Ketika Tanah Menagih Nama

1.646 kata / Sedang dibaca

11

Tanah Yang Akhirnya Diam

1.933 kata / Tersedia