CeritaGW
Buku / Bab
Bab 111.933 kata

Tanah Yang Akhirnya Diam

L

Lindayanti

Kutukan Tanah Jawa

Mulai membaca

Tanah itu menelan rumah nenek sedikit demi sedikit. Dinding-dinding kayu patah, atap runtuh, dan lemari tua yang menyimpan rahasia keluarga Mandala terseret ke dalam kegelapan. Asha terjatuh ketika lantai di bawah kakinya menghilang. Ia sempat meraih tepian retakan, tetapi tanah yang digenggamnya berubah menjadi lumpur hitam.

Di bawah sana, mata raksasa itu menatapnya tanpa berkedip, sementara suara ribuan orang berbisik dari kedalaman, menyebut namanya berulang-ulang hingga seluruh suara melebur menjadi satu panggilan panjang.

Darma menerjang ke arahnya dan mencengkeram tangannya. Namun, tubuh lelaki itu kini hampir seluruhnya berubah menjadi tanah yang retak. “Dengarkan aku, Asha! Apa pun yang kau lihat nanti, jangan biarkan dirimu menyentuh mata itu!”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” teriak Asha.

Darma menatap perempuan yang berdiri di seberang retakan. “Kalian harus mengakhiri perjanjian itu!”

Perempuan tersebut mengangguk. Wajahnya yang serupa dengan Asha kini tampak lebih pucat daripada sebelumnya. “Tidak ada yang bisa keluar dari tempat ini sebelum nama-nama yang dikorbankan dikembalikan kepada pemiliknya. Selama mereka dilupakan, tanah akan terus menahan mereka.”

Asha memandang buku harian nenek yang tersangkut di antara puing-puing. Sampulnya terbuka, memperlihatkan halaman berisi tujuh nama yang pernah ia lihat sebelumnya. Enam nama telah dicoret, sedangkan namanya sendiri masih tertulis dengan tinta merah. Ia teringat kalimat dalam catatan lama, pintu dikunci dengan tujuh nama. Bukan dengan darah, bukan dengan nyawa, melainkan dengan nama, identitas yang membuat seseorang tetap diingat oleh dunia.

Tiba-tiba, Asha memahami sesuatu yang selama ini luput dari pikirannya. Keluarga Mandala tidak hanya menyembunyikan makhluk di bawah tanah. Mereka menghapus keberadaan orang-orang yang dijadikan korban, seolah manusia-manusia itu tidak pernah dilahirkan. Tanah menahan mereka karena dunia telah berhenti mengakui bahwa mereka pernah hidup.

“Darma,” katanya dengan suara bergetar. “Siapa nama keenam orang yang dikorbankan itu?”

Lelaki itu memejamkan mata. “Aku tidak bisa mengingatnya.”

“Bukan tidak bisa. Kau telah melupakannya karena kau ikut menghapus mereka.”

Darma menunduk. Di wajahnya muncul kepedihan yang tidak pernah diperlihatkannya sebelumnya. “Aku membantu keluarga Mandala mengikat pintu itu. Aku percaya pengorbanan beberapa orang akan menyelamatkan jutaan lainnya. Aku tidak tahu bahwa perjanjian tersebut akan membuat mereka terperangkap selamanya. Ketika aku menyadarinya, namaku sendiri telah menjadi bagian dari ikatan itu. Aku tidak bisa mati, tetapi aku juga tidak pernah benar-benar hidup.”

“Kalau begitu, berhentilah menjadi penjaga,” ujar Asha. “Jadilah saksi yang mengatakan kebenaran.”

Untuk pertama kalinya, Darma menangis. Air matanya jatuh ke tanah dan berubah menjadi butiran abu. Ia melepaskan tangan Asha, lalu berlutut di tepi retakan. Dengan suara yang menggema ke seluruh kedalaman, ia menyebut nama yang selama lebih dari satu abad berusaha dilupakannya.

“Ratih Maheswari.”

Perempuan di seberang retakan tersentak. Garis-garis merah pada tubuhnya meredup, lalu menyala kembali.

“Ratih,” ulang Darma. “Anak pertama yang dilahirkan dari rahim keluarga Mandala. Anak yang dinyatakan mati agar perjanjian tetap tersembunyi.”

Perempuan itu menutup wajahnya. Tubuhnya bergetar, dan dari lorong di belakangnya terdengar tangisan puluhan orang. Darma melanjutkan, menyebut nama-nama lain yang perlahan kembali muncul dalam ingatannya. Satu demi satu, nama yang telah dikubur bersama rahasia Krakatau terdengar di bawah rumah tua itu. Setiap nama membuat satu rantai terputus, setiap pengakuan membuat cahaya merah di langit memudar.

Asha membuka buku harian nenek. Pada halaman terakhir, ia menemukan tulisan yang belum pernah dibacanya, seolah tinta itu baru muncul setelah nama-nama tersebut dipanggil.

Anak yang kami selamatkan bukanlah anak yang kami bawa pulang. Kami menyangka tubuh dapat menentukan siapa yang hidup, padahal kehidupan bukan sekadar napas. Kami menjadikan nama sebagai segel dan darah sebagai harga, lalu menyebut ketakutan kami sebagai kewajiban. Jika suatu hari kebenaran terungkap, biarkan mereka memilih sendiri. Jangan lagi ada anak yang menanggung dosa orang tuanya.

Di bawah tulisan itu terdapat tanda tangan neneknya.

Asha memejamkan mata. Ia teringat perempuan yang membesarkannya, tangan keriput yang selalu menyisir rambutnya, suara lembut yang membacakan cerita sebelum tidur, serta pelukan terakhir sebelum ia meninggalkan rumah untuk pertama kalinya. Neneknya telah mencintainya, tetapi cinta itu tumbuh berdampingan dengan kebohongan. Perempuan tua itu berusaha melindunginya sekaligus mempertahankan rahasia yang menghancurkan begitu banyak kehidupan.

Asha tidak dapat mengubah masa lalu. Namun, ia masih bisa memilih apa yang akan dilakukan terhadap kebenaran yang akhirnya ditemukannya.

Ia menutup buku harian, lalu berdiri di tepi jurang. Mata raksasa di bawah tanah kembali bergerak. Dari permukaannya muncul bayangan-bayangan wajah manusia, termasuk wajah neneknya, ibunya, dan orang-orang yang telah ditemuinya sejak kepulangan itu. Semuanya memandang Asha dengan kesedihan yang sama.

Perempuan bernama Ratih mengulurkan tangan. “Jika kau mengembalikan namaku, aku akan kembali ke tempatku berasal. Namun, kau harus tahu satu hal. Kita tidak bisa sama-sama keluar dari pintu ini. Selama salah satu dari kita masih terikat dengannya, pintu itu akan terus mencari jalan untuk terbuka.”

Asha memandangnya. “Apa yang terjadi jika aku memutus ikatan itu?”

“Semua yang tertahan akan dibebaskan. Termasuk sesuatu yang berada di bawah sana.”

Darma menggeleng. “Itulah yang selama ini berusaha dicegah oleh keluarga Mandala. Jika ikatan terakhir terputus, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kepada tanah ini.”

“Dan jika ikatan itu tetap ada?” tanya Asha.

“Tanah akan terus menagih korban.”

Asha menatap mata raksasa itu. Ia kini mengerti mengapa gempa, suara misterius, dan bayangan orang mati selalu mengikutinya. Bukan karena tanah ingin menghancurkan manusia, melainkan karena perjanjian yang dibuat manusia telah mengubah seluruh pulau menjadi penjara. Krakatau pada tahun 1883 bukanlah awal kutukan itu. Letusannya menjadi tanda bahwa sesuatu yang terkubur sedang berusaha keluar, sementara orang-orang yang mengetahui kebenarannya memilih mengorbankan sesama daripada mengakui kesalahan mereka.

Asha mengulurkan tangan kepada Ratih.

“Aku tidak akan mengambil hidupmu,” katanya. “Aku juga tidak akan menyerahkan hidupku untuk menggantikanmu. Kita tidak dilahirkan untuk membayar kesalahan mereka.”

Ia mengambil pecahan batu hitam yang tergeletak di dekat kakinya. Pada permukaannya, tulisan JAWA dan tanggal 27 AGUSTUS 1883 masih terlihat jelas. Dengan tangan gemetar, Asha membalik batu itu dan membenturkannya ke lantai.

Batu tersebut retak.

Darma berteriak, “Asha, jangan!”

Namun Asha kembali menghantamkannya. Retakan menjalar ke seluruh permukaan batu, dan untuk sesaat terdengar suara seperti ribuan rantai yang putus bersamaan. Ia menghantamkannya untuk ketiga kalinya hingga batu itu pecah menjadi debu hitam.

Langit di atas mereka terbelah oleh cahaya putih.

Mata raksasa di bawah tanah menutup. Bayangan-bayangan manusia berhamburan, tetapi kali ini mereka tidak berteriak atau berusaha meraih siapa pun. Mereka berjalan perlahan menuju cahaya, membawa kembali wajah dan nama mereka sendiri. Orang-orang tanpa wajah di lorong mulai memperoleh mata, hidung, dan mulut. Beberapa menangis, beberapa tersenyum, dan sebagian hanya menundukkan kepala sebelum menghilang ke dalam terang.

Ratih memandang kedua tangannya. Tanda di telapak tangannya lenyap, digantikan kulit manusia yang hangat. Ia menatap Asha dengan air mata mengalir di pipinya.

“Aku akhirnya ingat namaku.”

Asha tersenyum getir. “Ratih Maheswari.”

Perempuan itu mengangguk. Untuk pertama kalinya, wajah mereka tidak lagi tampak seperti dua bayangan yang saling meniru. Asha merasakan sesuatu terlepas dari dadanya, sebuah beban yang tidak pernah disadarinya selama ini. Ia terjatuh berlutut, terengah-engah, sementara tanda gunung di pergelangan tangannya perlahan memudar.

Namun, sebelum cahaya menelan Ratih, perempuan itu menatap Darma.

“Kau masih harus memilih,” katanya. “Apakah kau akan terus hidup sebagai penjaga kebohongan, atau akhirnya membiarkan dirimu pergi?”

Darma berdiri dengan susah payah. Tubuhnya kini kembali menyerupai manusia, tetapi rambutnya memutih dan wajahnya dipenuhi keriput. Ia menatap kedua perempuan itu, lalu memandang tanah yang selama berabad-abad menjadi penjaranya.

“Aku sudah mengambil terlalu banyak dari kalian,” katanya. “Kali ini, biarkan aku mengembalikan sesuatu.”

Ia melangkah ke arah cahaya dan menyebut namanya sendiri.

“Darma Wiranata. Saksi terakhir dari perjanjian Mandala.”

Begitu nama itu terucap, tubuhnya berhenti retak. Ia menarik napas panjang, seolah baru pertama kali merasakan udara setelah hidup dalam kurungan selama lebih dari satu abad. Kemudian ia tersenyum kecil kepada Asha, senyum seorang manusia yang akhirnya tidak perlu bersembunyi.

“Jangan biarkan mereka mengubah kebenaran menjadi legenda,” pesannya. “Ceritakan apa yang terjadi. Biarkan orang-orang tahu bahwa kutukan terbesar bukanlah sesuatu yang hidup di bawah tanah, melainkan kebohongan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.”

Darma melangkah masuk ke dalam cahaya dan menghilang.

Ratih menjadi yang terakhir. Sebelum pergi, ia menggenggam tangan Asha. Sentuhan mereka terasa hangat, nyata, dan tidak lagi menyakitkan. Asha melihat sekilas sebuah ruangan sederhana, seorang ibu yang memeluk dua bayi, dan neneknya yang masih muda menangis di sudut ruangan. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat pengkhianatan dalam ingatan itu, melainkan ketakutan manusia yang membuat keputusan mengerikan tanpa memahami akibatnya.

“Aku tidak membencimu,” bisik Ratih. “Kau juga korban dari cerita yang mereka ciptakan.”

Lalu ia melepaskan tangan Asha dan berjalan menuju cahaya.

Ketika perempuan itu menghilang, seluruh dunia mendadak sunyi.

Rumah nenek runtuh sepenuhnya. Tanah yang terbelah perlahan menyatu, menutup lorong-lorong bawah tanah yang selama ini menyimpan rahasia keluarga Mandala. Langit merah berubah menjadi kelabu, kemudian kembali membiru. Di kejauhan, bayangan gunung yang bangkit dari kedalaman perlahan menghilang, meninggalkan permukaan bumi yang kembali tenang.

Asha terbangun di halaman rumah ketika matahari pagi menyentuh wajahnya. Ia terbaring di antara rerumputan basah, dengan pakaian kotor dan telapak tangan yang terluka. Rumah nenek telah lenyap, begitu pula batu hitam, buku harian, dan seluruh tanda yang menghubungkan dirinya dengan perjanjian lama.

Untuk beberapa saat, ia hanya duduk memandangi tanah.

Tidak ada suara dari bawah kakinya. Tidak ada bisikan yang memanggil namanya. Tidak ada bayangan berdiri di balik jendela. Bahkan udara yang masuk ke paru-parunya terasa berbeda, lebih ringan, seolah dunia akhirnya terbebas dari beban yang telah dipikulnya selama berabad-abad.

Asha menatap pergelangan tangannya. Tanda gunung terbelah telah menghilang, menyisakan bekas luka tipis yang perlahan memudar. Ia tidak tahu apakah dirinya adalah bayi yang diselamatkan neneknya, anak yang dibawa Darma, atau seseorang yang terbentuk dari rahasia yang terlalu lama disembunyikan. Namun, untuk pertama kalinya, pertanyaan itu tidak lagi menentukan apakah ia berhak hidup.

Ia adalah Asha Maheswari Mandala. Bukan karena sebuah keluarga memberinya nama, bukan karena sebuah perjanjian memilihnya, melainkan karena ia sendiri memutuskan untuk tetap memilikinya.

Beberapa minggu kemudian, Asha meninggalkan desa itu. Ia membawa satu benda yang berhasil diselamatkan sebelum rumah runtuh: sebuah foto keluarga Mandala yang telah menguning. Di dalam foto tersebut, neneknya berdiri bersama orang-orang yang namanya pernah dihapus dari sejarah. Pada bagian belakang foto, ia menuliskan nama mereka satu per satu, memastikan tidak ada lagi yang dilupakan.

Ia juga menulis kisah tentang Krakatau, perjanjian keluarga Mandala, dan orang-orang yang dikorbankan demi mempertahankan sebuah kebohongan. Tidak semua orang mempercayainya. Sebagian menganggapnya cerita tentang kegilaan, sebagian menyebutnya legenda baru, dan yang lain memilih mengabaikannya. Asha tidak lagi berusaha meyakinkan mereka semua. Tugasnya bukan membuat setiap orang percaya, melainkan memastikan bahwa kebenaran tidak kembali dikubur.

Pada suatu pagi, ketika ia membaca berita tentang aktivitas gunung berapi di Indonesia, Asha berhenti pada sebuah foto Krakatau yang diambil dari kejauhan. Gunung itu berdiri di tengah laut, diselimuti awan tipis dan cahaya matahari. Tidak ada asap merah, tidak ada bayangan raksasa, tidak ada tanda bahwa sesuatu sedang menunggu di bawah permukaan.

Ia menatap foto itu cukup lama, lalu menutup halaman berita.

Krakatau tetap menjadi gunung yang menyimpan sejarah letusan dahsyat. Tanah Jawa tetap menjadi tempat jutaan manusia menjalani kehidupan mereka, membangun rumah, menanam padi, mencintai, kehilangan, dan melanjutkan hari esok. Bencana alam tidak selalu menyimpan kutukan, dan tidak setiap suara dari bumi adalah panggilan makhluk gaib. Ada hal-hal yang harus dipahami melalui ilmu pengetahuan, ada luka yang perlu disembuhkan melalui keberanian, dan ada kebenaran yang hanya bisa ditemukan ketika manusia berhenti berbohong kepada dirinya sendiri.

Sore itu, Asha berdiri di tepi pantai. Ombak datang dan pergi tanpa membawa suara asing. Angin menyentuh wajahnya, sementara matahari perlahan tenggelam di balik garis cakrawala. Ia teringat Ratih, Darma, neneknya, dan semua nama yang akhirnya memperoleh kembali tempat mereka dalam ingatan.

“Aku tidak akan melupakan kalian,” bisiknya.

Ombak menyapu pasir di dekat kakinya, lalu kembali ke laut. Tidak ada jawaban, tetapi Asha tidak lagi membutuhkannya.

Untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, tanah di bawah kakinya benar-benar diam.

Dan ketika malam turun, tidak ada seorang pun yang memanggil namanya dari dalam bumi.

Kutukan itu telah berakhir.

TAMAT

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 11 / 11
Kutukan Tanah Jawa
10

Ketika Tanah Menagih Nama

1.646 kata / Tersedia

11

Tanah Yang Akhirnya Diam

1.933 kata / Sedang dibaca