Lindayanti
Kutukan Tanah Jawa
Mulai membaca
Suara nenek Asha menggema dari bawah lantai, menembus dinding rumah dan berbaur dengan gemuruh yang datang dari perut bumi. Darma segera menggulung peta tua itu, lalu memasukkannya ke dalam peti sebelum menarik Asha menuju pintu belakang. Namun, sebelum mereka sempat keluar, seluruh lantai terangkat seperti didorong sesuatu dari bawah. Lemari roboh, altar pecah, dan kain hitam yang menutupi benda-benda kuno tersingkap, memperlihatkan deretan mangkuk berisi tanah merah yang masih basah meskipun benda-benda itu tampak telah berusia puluhan tahun.
Asha melihat sesuatu di antara mangkuk-mangkuk tersebut. Sebuah foto dirinya ketika masih bayi, terbaring di atas kain putih, dikelilingi tujuh orang yang wajahnya dicoret dengan tinta hitam. Di belakang mereka berdiri neneknya, jauh lebih muda, dengan kedua tangan berlumuran darah. Asha mengambil foto itu tepat ketika Darma berteriak menyuruhnya menjauh dari altar, tetapi pandangannya telanjur tertuju pada tulisan di balik foto.
Upacara pertama gagal. Anak itu seharusnya mati sebelum fajar.
Jari Asha melemas. “Anak yang dimaksud itu aku?”
Darma tidak menjawab. Diamnya justru terasa lebih mengerikan daripada pengakuan apa pun. Asha mencengkeram kerah lelaki itu dan memaksanya menatap mata. “Apa yang dilakukan nenekku kepadaku?” Darma menunduk, lalu berkata dengan suara berat bahwa tujuh orang dalam foto itu merupakan anggota keluarga Mandala yang mengadakan upacara pada malam kelahiran Asha. Mereka percaya kematian seorang anak dapat menutup kembali sesuatu yang mulai bergerak di bawah tanah. Namun ketika fajar tiba, semua peserta upacara ditemukan tewas, kecuali nenek Asha dan bayi yang seharusnya menjadi tumbal.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
“Karena nenekmu menghapus semua catatan tentang malam itu. Dia membawa kamu pergi dan berharap sesuatu yang ada di bawah tanah akan melupakanmu.”
“Lalu kenapa dia menyuruhku pulang?”
Darma memandang lantai yang semakin retak. “Mungkin karena dia tahu, kali ini bukan dia yang menentukan siapa yang akan dibawa.”
Suara benturan keras terdengar dari bawah altar. Batu-batu lantai terbelah, memperlihatkan tangga sempit yang menurun ke kegelapan. Udara panas menyembur dari dalamnya, membawa bau belerang dan anyir darah. Pada dinding tangga terdapat ukiran yang sama seperti di ruang bawah rumah nenek Asha, tetapi kali ini gambar-gambarnya lebih jelas: manusia berbaris membawa obor, gunung yang memuntahkan api, dan sosok raksasa tanpa wajah berdiri di tengah lautan manusia yang bersujud.
Di bawah gambar terakhir terdapat kalimat dalam aksara Jawa kuno. Asha tidak pernah mempelajarinya, tetapi maknanya muncul begitu saja di kepalanya.
Yang dikubur bukanlah monster. Yang dikubur adalah saksi.
Sebelum Asha sempat memahami artinya, terdengar suara langkah dari tangga. Seseorang sedang naik menuju mereka, menyeret benda berat di atas batu. Darma segera memadamkan lampu dan menarik Asha bersembunyi di balik lemari yang roboh. Dari celah sempit, Asha melihat sepasang kaki telanjang muncul di anak tangga terakhir. Kulitnya dipenuhi tanah hitam, kuku-kukunya panjang, dan pada pergelangan kakinya melingkar gelang kain merah yang sama dengan milik neneknya.
Sosok itu berhenti di depan altar.
Kemudian terdengar suara nenek Asha.
“Darma, aku tahu kau di sini.”
Darma memejamkan mata, menahan napas.
“Aku tidak datang untuk mengambil Asha,” lanjut suara itu. “Aku datang untuk memperingatkan kalian.”
Sosok tersebut bergerak mendekati lemari. Dari celah, Asha melihat ujung kebaya putih yang telah menghitam oleh tanah. Ia ingin percaya bahwa itu benar-benar neneknya, tetapi ingatannya tentang senyum mengerikan di halaman membuat tubuhnya gemetar.
“Nenek?” bisiknya tanpa sadar.
Sosok di luar berhenti.
Perlahan, kepalanya menoleh ke arah tempat Asha bersembunyi.
Darma langsung membekap mulut Asha, tetapi sudah terlambat. Suara neneknya berubah menjadi bisikan yang sangat dekat.
“Cucu manis... akhirnya kamu menjawab.”
Lemari di depan mereka terangkat dengan sendirinya, lalu terlempar ke sudut ruangan. Asha terjatuh bersama Darma. Sosok berkebaya putih berdiri di hadapan mereka, tetapi wajahnya kini tertutup lapisan tanah yang bergerak seperti cacing. Dari sela-selanya, sepasang mata merah menatap Asha tanpa berkedip.
Darma meraih pisau kecil dari pinggangnya dan menggores telapak tangan sendiri. Darah menetes ke lantai, membentuk garis melingkar di sekitar Asha. Sosok itu mendesis, tubuhnya mundur beberapa langkah, lalu seluruh ruangan berguncang hebat.
“Lari ke tangga!” teriak Darma.
Asha berlari menuruni anak tangga tanpa sempat berpikir. Di belakangnya, suara Darma bercampur dengan jeritan yang bukan berasal dari satu mulut. Ketika mencapai dasar tangga, ia menemukan lorong panjang yang dindingnya dipenuhi ribuan nama. Sebagian ditulis dengan tinta, sebagian diukir menggunakan benda tajam, dan sebagian lain tampak masih basah oleh darah.
Ia menemukan nama neneknya di antara tulisan-tulisan itu.
Di bawahnya terdapat nama Darma.
Dan tepat di ujung lorong, tertulis namanya sendiri.
ASHA MAHESWARI MANDALA — PENJAGA TERAKHIR.
Namun ada sesuatu yang membuatnya mundur ketakutan.
Nama itu telah dicoret.
Di bawahnya, dengan tulisan yang jauh lebih tua, terdapat kalimat baru.
BUKAN PENJAGA. BUKAN TUMBAL. DIA ADALAH PINTUNYA.
Dari kegelapan di ujung lorong terdengar suara gemuruh yang semakin dekat. Dinding batu bergetar, lalu terbuka perlahan, memperlihatkan ruangan bundar yang begitu luas hingga cahaya senter Asha tidak mampu mencapai langit-langitnya. Di tengah ruangan berdiri sebuah pintu batu raksasa dengan tujuh rantai melilit permukaannya. Enam rantai masih terpasang kuat, tetapi rantai ketujuh telah putus.
Di balik pintu terdengar seseorang menangis.
Suara seorang anak kecil.
“Asha...”
Asha mengenali suara itu dari ingatan yang bahkan tidak ia ketahui masih dimilikinya. Suara yang sama pernah muncul dalam mimpinya sejak kecil, memanggilnya dari tempat gelap sambil meminta tolong.
“Siapa kamu?” tanyanya dengan suara gemetar.
Tangisan itu berhenti.
Kemudian suara anak tersebut menjawab, “Kamu lupa lagi?”
Asha melangkah mundur ketika pintu batu bergetar. Debu berjatuhan dari langit-langit, sementara rantai-rantai yang tersisa mulai menegang seperti ada sesuatu yang menariknya dari sisi lain. Di permukaan pintu muncul ukiran wajah seorang perempuan. Wajah itu perlahan berubah, menyesuaikan bentuk mata, hidung, dan bibirnya hingga Asha menyadari bahwa ukiran tersebut menyerupai dirinya sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara Darma dari belakang.
“Jangan dengarkan! Apa pun yang dikatakannya, jangan percaya!”
Asha menoleh. Darma berdiri di ujung lorong dengan tubuh penuh luka, sementara sosok berkebaya putih merangkak di langit-langit tepat di atasnya. Lelaki itu melemparkan sebuah benda ke arah Asha. Sebuah kunci besi hitam jatuh di dekat kakinya.
“Bawa kunci itu dan keluar dari sini!”
Namun sebelum Asha sempat mengambilnya, suara dari balik pintu batu kembali terdengar.
“Kunci itu bukan untuk membukaku.”
Asha menatap pintu dengan napas tertahan.
“Lalu untuk apa?”
Suara anak kecil itu berubah menjadi suara perempuan dewasa, kemudian suara laki-laki tua, sebelum akhirnya kembali menjadi suara Asha sendiri.
“Untuk mengunci mereka di luar.”
Seketika semua rantai putus bersamaan.
Darma menjerit agar Asha berlari, tetapi pintu batu sudah terbuka selebar tubuh manusia. Dari baliknya tidak terlihat monster, api, atau lautan darah, melainkan sebuah ruangan yang menyerupai rumah nenek Asha—lengkap dengan kursi kayu, lemari kaca, dan foto keluarga yang tergantung di dinding.
Di dalam ruangan itu, seorang perempuan muda duduk membelakangi pintu sambil menggendong bayi.
Asha tidak dapat bernapas ketika perempuan itu menoleh.
Wajahnya sama persis dengan wajah Asha.
Perempuan tersebut tersenyum sedih, lalu menatap bayi dalam pelukannya.
“Jangan biarkan mereka mengambil anakku,” bisiknya.
Asha memandang bayi itu.
Di pergelangan tangannya melingkar gelang kain merah.
Gelang yang selama ini dikenakan neneknya.
Lalu perempuan itu mengucapkan kalimat yang menghancurkan seluruh keyakinan Asha tentang masa lalunya.
“Kalau kau sudah sampai di sini, berarti kau telah mati sejak lahir.”
Dan yang selama ini hidup dengan nama Asha Maheswari Mandala... bukanlah anak yang seharusnya selamat malam itu.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kutukan Tanah Jawa.