CeritaGW
Buku / Bab
Bab 14609 kata

The Unexpected

ZR

Zenith Ramadhan

Garis Selari

Mulai membaca

Rinjani terbangun kaget dari tidurnya. Ia memimpikan Alif yang sudah lama dilupakannya. Ia reflek mengecek hpnya, 2019. Sudah 10 tahun berlalu, Alif menyeretnya masuk ke dalam barisan, menyelamatkannya dari Dasamuka. Setengah sadar ia membuka kembali laman Facebook yang sempat ia non-aktifkan saat putus dari Paul, tapi kemudian ia selamatkan kembali sebelum 30 hari berlalu.

Ia menginput sebuah nama. Ia menemukan akun Alif. Ia tampak hidup dengan baik. Entah kenapa Rinjani sangat ingin membaca semua notifikasi yang jumlahnya ribuan itu, dan menemukan satu tag ke akunnya. Foto angkatan 3. Ternyata masih ada, ia juga sekilas melihat foto-foto Paul. kehampaan sempat menderanya, sampai ia menemukan sebuah pesan usang pada Messanger.

Rinjani menangis mendapati sebuah pesan kadaluwarsa dari Alif : sebuah link Youtube dari The Red Jumpsuit Apparatus, pada 14 Maret 2009 pukul 22:03. Ia memutar video tersebut, dan tiba-tiba menangis teriris lirik:

I will never let you fall,

I'll stand up with you forever...

I'll be there for you through it all,

even if saving you sends me to heaven...

Rinjani ingat, saat itu Alif berdiri di sampingnya dalam jarak 1 meter. Tidak bertanya, tidak komentar. Ia membiarkan Rinjani yang rapuh tetap terjaga dalam jarak aman, sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Ia membiarkan Rinjani menyobek-nyobek kenangan bersama Paul. Dalam keheningan itu, pesan inilah yang dikirimnya. Tepat saat Rinjani memutuskan untuk menonaktifkan akunnya. Pesan ini tidak pernah sampai kepada Rinjani selama 11 tahun. Dan hari ini, bersamaan dengan mimpi, surat itu seolah tiba-tiba sampai.

Dalam pandangan yang berbayang akibat air mata, Rinjani mengetik, "I just read your old message. And you know what? 5minutes before I read the message, I dreamt about you. I dreamt about we are married, while I know I'm already too late." Rinjani hanya mencurahkan apayang ada dalam pikirannya, tidak pernah berharap pesan itu akan sampai pada Alif.

Sesaat setelah pesan itu terkirim, Alif is typing... Buyar semua air mata Rinjani, ia langsung tersada 120%. Mencoba menghapus pesan yang dikirimnya dan berkata "bodoh" pada dirinya sendiri. Ia sempat menghapus air matanya untuk memastikan bahwa Alif is typing ...Tak sempat menghapus pesan itu, Alif sudah terlanjur membalas, "Pesan apa?" Rinjani panik. Kepalanya langsung pusing 7 keliling. Ia mengetik terbata, "hanya..." tapi menghapusnya lagi. Yang paling tampak bodoh menurut Rinjani dari pesan yang diketiknya adalah pengakuan tentang mimpinya. Alif terlanjur membaca dan membalas, "Aku juga pernah memimpikan hal yang sama, lebih dari satu dekade lalu, tapi sepertinya kesempatan itu tampak tidak akan pernah datang, ya?"

Bukan hanya hati Rinjani yang hancur, rasanya muka Rinjani ikut pecah berkeping-keping. Malu sekali rasanya. Ia tidak tahu harus merespon bagaimana. Bagi Rinjani si Tukang Lari (dari masalah) rasanya ingin langsung menonaktifkan kembali akun Facebooknya itu, tapi dia bukan lagi seorang mahasiswa baru. Ia sadar harus bersikap dewasa, yang berarti memunculkan sebuah kebenaran seolah sebuah kebohongan di balik kebohongan. Ia mengemas tragedi ini menjadi komedi, yang seolah hanya jokes padahal nyatanya adalah sebuah kenyataan.

"Kabar baik di sana?" tanya Alif mencoba membawa chat ke arah yang lebih normal. Rinjani membalas, "Gilaa, kemana aja, Pak? Ampe kebawa mimpi saya, mana adegannya naik altar lagi. Kebangun kaget dongg, mana baru banget abis nerima lamaran orang, kemarin."

"Oya? Congrats!" ketik Alif, "Udah saatnya memang, udah umurnya." Semakin pusing Rinjani membaca balasan dari Alif ini. Ngenes sejali hati Rinjani sebenarnya. Kenapa dengan Alif ini. Kenapa pada waktu itu dia hanya mengirim pesan seperti ini, "Kenapa ga langsung ngomong sii?" monolog Rinjani gemas. Ia mengakhiri chatnya, sadar sudah melewati batas. Ia kembali menata hatinya dengan hati-hati, walaupun gondok sekali rasanya, dia berandai-andai, seandainya Alif mengungkapkannya secara langsung, atau seandainya dia membaca pesan itu hari itu juga, . . . Tapi Rinjani langsung mengerem diri, "Ini kali yang dinamakan tak berjodoh."

Bab selanjutnya

15 - Aerial View

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Garis Selari.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 14 / 16
Garis Selari
13

Kartu Kesempatan

401 kata / Tersedia

14

The Unexpected

609 kata / Sedang dibaca

15

Aerial View

533 kata / Tersedia