Zenith Ramadhan
Garis Selari
Mulai membaca
Dari sudut Pandang Alif, Rinjani dari awal selalu memukau. Sejak pertama kali ia melihat Rinjani setengah berlari kebingungan mencari barisan, dengan nametag miring: Rinjani Kel. 3.3, tali sepatu tidak terikat. Ada rasa gemas ingin sekali mengikatkan tali sepatunya, meluruskan nametagnya, tetapi ia tidak punya waktu. Yang terpikir olehnya saat itu adalah menyelamatkan Rinjani dengan cepat, agar tidak kena hukuman push up. Akhirnya tanpa sempat menyapa ia langsung menarik tangan Rinjani menuju barisan seharusnya. Lalu berlari masuk barisan 3.5 menyelamatkan dirinya juga. Karena jika sampai ia tertangkap dasamuka, maka Rinjani akan melihat ia dihukum dan itu bukan imej yang ingin dia bangun.
Saat half-marathon berlangsung, Alif sudah berencana mengungkapan perasaannya saat mereka sampai di finish-line. Akan tetapi, Paul mengambil alih panggung yang sudah ia siapkan, dan sedihnya Rinjani tidak menolaknya. Adegan yang sudah ia prediksi dari 200meter terakhir. Sehingga ia memutuskan untuk keluar dari jalur, dan tidak menyelesaikan half-marathonnya, melainkan menghilang tanpa jejak. Ingin rasanya ia mendahului Paul menyatakan perasaan di 100 meter terakhir tapi, apakah Rinjani akan senang dan menerimanya? Dalam detik-detik penuh keraguan itu, ia menghilang.
Ia memutuskan untuk melupakan Rinjani dengan menerima Anggi dan kabur pada kegiatan parkour. Ia berharap bisa lupa akan Rinjani jika menghadapi tantangan-tantangan ekstrem. Namun, Rinjani tetap melintas di pikirannya. Ia gagal melakukan speed vault, sehingga melukai tangannya. Dia sadar saat itu ia masih memiliki ikatan denga Anggi, tapi itu benar-benar ikatan tanpa hati. Hatinya masih tertuju pada Rinjani, yang terikat pada Paul. Keadaan mendorong hatinya untuk memaksa Rinjani datang menjenguknya, tetapi Rinjani tak kunjung datang. Saat keluar dari RS ia memutuskan untuk kabur, mencari beasiswa ke Tohoku, Jepang. Entah berhasil dapat atau tidak, yang pasti dia sudah berencana akan kabur sejenak ke Narita.
Ia menerima pengumuman lolos beasiswa tepat satu hari sebelum ia menemukan Rinjani merungguh di pinggir jalan. Sesaat setelah ia menenangkan Anggi yang diputuskannya dengan alasan akan ditinggal ke Jepang. Lalu dibalik semua hal besar yang terjadi di hari itu, dia ingin sekali menyatakan perasaannya terhadap Rinjani.
Hatinya menggebu, tapi ia khawatir membebani Rinjani yang baru saja patah hati. Rasanya tidak sopan baginya untuk mendobrak masuk pada pintu hati yang sedang rapuh. Yang paling membuatnya menahan semua kata yang telah antri di tenggorokkannya adalah ketakutan. Pengecut memang pikirnya, ia menduga jika ia ungkapkan saat itu juga, yang akan didapatnya hanya penolakan. Atau, pun jika RInjani menerima, ia khawatir itu hanya pelarian.
Akhirnya ia berangkat ke negeri sakura, mengawali perjalanannya dengan mengunjungi Museum Ilmu Aeronautika, di Narita. Ia tidak hanya menjalani tetapi membangun hidupnya di sana. Kemudian ia kembali ke Indonesia, setelah delapan tahun, dengan circle yang baru. Dia bertemu dengan sosok baru yang membuatnya jatuh hati. Dan saat Rinjani membaca pesannya 11 tahun lalu, dia benar-benar sudah lupa pesan apa yang dikirimnya. Tetapi dia sangat ingat, pernah bermimpi menikahi Rinjani, bukan khayalan, melainkan benar-benar bermimpi tentang itu, jauh sebelum Rinjani bermimpi tentangnya.
Ia tidak menyesali keputusannya untuk tidak pernah menyatakan perasaannya. Bagaimanapun, cinta tak harus memiliki itu kadang benar adanya. Jika memang tidak berjodoh, berarti itu adalah takdir yang terbaik bagi mereka, begitu pikirnya. Ia cukup bahagia mendengar Rinjani yang sudah menerima lamaran orang lain. Baginya, mereka tetap berlari di garis selari. Sebagaimana garis paralel, mereka berjalan pada jalur masing-masing, dan tidak akan pernah melintasi garis hidup satu sama lain.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Garis Selari.