Zenith Ramadhan
Garis Selari
Mulai membaca
Paul menghubungi Rinjani, menawarkan sebuah kartu kesempatan untuk saling bertukar klarifikasi. Bagi Rinjani, Paul tampak licik. Menurutnya penjelasan paul sudah menjadi haknya. Rinjani menyetujui usulan Paul untuk bertemu, tapi tidak ingin obrolan itu dilakukan di tempat selain teras kos-nya. Mereka setuju bertemu setelah magrib.
Paul benar-benar datang setelah magrib. Ia memasang wajah masam dan ekspresi arah. Rinjani tidak mengucap satu katapun. Ia hanya menatap langit biru tua itu, dan menawarkan kursi di sebelahnya pada Paul. Mereka duduk pada sepasang kursi yang tersedia di teras. padahal Paul sudah jauh-jauh datang, dan duduk di sampingnya, tetapi tidak ada yang memulai pembicaraan. Mereka bingung bagaimana memulainya, apakah dengan sebuah pertanyaan atau sebuah pernyataan? Suasana ini terlalu canggung dan penuh emosi terpendam.
Setengah jam berlalu tanpa kata, Paul akhirnya membuka dialog. Kalimat pertama yang dipilihnya adalah, "jadi mau jelasin apa?" Dalam keadaan yang masih memendam rasa penasaran dan sedikit amarah, Rinjani tersinggung dengan pertanyaan Paul. "Aku harus jelasin apa? Bukannya harusnya kamu yang kasih aku penjelasan?" Rinjani akhirnya berani bertanya balik. Paul tidak menjawab, dia memendam marah di rahang bawahnya. "Sepertinya, percuma. Kurasa kita tidak perlu saling menjelaskan. Aku khawatir kenyataan lebih pahit daripada pikiranku saat ini. Jadi silakan kamu simpulkan sesuai apa yang ada di kepalamu saja," Tutup Rinjani. Pada akhirnya ia memilih untuk tidak mengungkitnya.
'Baiklah," jawab Paul singkat. Ia beranjak dari kursi, menggendong tas di bahu kanannya, dan pulang tanpa menengok ke belakang sama sekali. Punggung Paul memudar berganti bayang gelap malam. Kalimat-kalimat terngiang, "Ortunya yang nyuruh putus," "Dia mau balik sm mantannya," "Ortunya ga setuju," dan "Dia bosan" silih berganti bersahutan dalam pikirannya. Kalimat-kalimat yang didengarnya dari orang-orang tentang alasan Paul memutuskannya.
Rinjani yang sebelumnya rajin mencari tahu ada apa di balik keputusan Paul, sebenarnya merasakan kesepian mendalam. Saat Paul benar-benar menghilang dari pandangan, Rinjani bersikeras pada dirinya sendiri tidak akan lagi mempertanyakan alasan putusnya mereka. "Ingat, kita pernah hidup tanpa dia, dan kita baik-baik saja saat itu. Dia yang meminta izin masuk ke dalam hidup kita, tetapi ia juga yang pamit lebih dulu," ceramah di dalam kepalanya sedang berlangsung di balik cermin.
Paul dan Rinjani telah menghebohkan kampus kecil itu dua kali dalam setahun. Saat mereka memulai, dan kini saat kisah itu berakhir. Akhirnya mereka menjadi asing. Lebih dari itu, bahkan, mereka saling membenci. Berharap tidak pernah bertemu lagi, satu sama lain. Sayangnya, mereka tetap harus sesekali berpapasan, dan menyembunyikan rasa sakit di hati mereka masing-masing di balik tatapan benci.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Garis Selari.