CeritaGW
Buku / Bab
Bab 12649 kata

Kembali ke Jalur

ZR

Zenith Ramadhan

Garis Selari

Mulai membaca

Tanpa kata-kata, Alif membonceng Rinjani yang ia pungut di pinggir jalan dalam keadaan basah kuyup. Payung hitam menjadi kamuflase, sebuah tanda ingin melindungi agar tidak sakit, tetapi juga ingin membiarkan air matanya mengalir di tengah hujan. Rinjani tidak berhenti menangis, dan Alif harus mencari track yang panjang sampai tangisan Rinjani mereda.

Larut malam, Rinjani tak juga pulang ke kosannya. Ia masih menenangkan diri di sebuah toko kopi di tanah bernama Parongpong, menatap lampu kota yang kelap-kelip di bawah sana. View yang mengingatkannya kepada Paul. Paul menelepon berkali-kali, Rinjani yang sedang menata hati mengabaikan teleponnya. Tak lama sebuah teks masuk menyusul setelah missed call ke 7, "Gampang ya buat kamu move on tu? Ga sampai 5 menit udah bisa jalan sama cowok lain" Ketus sekali kalimat itu. Apakah penulisnya lupa siapa yang hari ini mudah sekali memutuskan hubungan tanpa aba-aba.

Rinjani tidak merespon. Ia baru saja berhenti, tidak mau menangis lagi. Sembari merilis emosi, ia menghapus foto-fotonya bersama Paul, menghapus semua chat Paul, menggulir galeri, dan sosial medianya. Pegal menghapus manual, ia menghapus sekalian akun Facebooknya.

Ia meminta pulang, karena hari hampir berganti. Sepanjang jalan, tidak ada sepatah katapun dari dua orang yang berboncengan ini. Hanya hati-hati yang mencoba tenang, di balik rusuhnya pikiran-pikiran di dalam kepala.

Malam yang kalut telah berganti pagi. Rinjani terbangun oleh suara snooze alarmnya. Ia hampir terlambat masuk kelas pagi. Saat ia terengah ke kampus dengan mata yang bengkak. Sialnya, ia harus melewati gedung tempat Paul belajar untuk menuju ke gedung kuliah umum. Perasaannya tidak karuan. Benar saja, ia mendapati tatapan sinis dan bisikan-bisikan yang menyinggung.

Cerita berbalik. Belum Rinjani cerita pada satu orang pun di dunia ini tentang apa yang terjadi semalam, ia harus menghadapi narasi negatif yang beredar: Rinjani selingkuh, Rinjani Paul putus. Merasa risih dengan bisik-bisik yang tidak jelas, Rinjani gemas, ingin memastikan dari mana berita ini menyebar. Aneh sekali, padahal Rinjani sedang merasa menjadi korban sakit hati keputusan mendadak Paul yang tanpa disertai alasan yang jelas.

Rinjani mengetik chat, "Bagaimana orang-orang di sekitarmu bisa segera tahu bahwa kamu putusin aku? Aku bahkan belum tau alasan kamu. Sekarang tuduhan selingkuh? yang benar saja! Kamu tahu dari awal aku ga pernah pergi kecuali sama kamu. . . " Rinjani menyadari sesuatu. Apakah karena tadi malam? Saat Alif memungutnya dari pinggir jalan dan membawanya berkeliling untuk menangis di bawah hujan? Tombol kirim tersentuh, pesan itu terkirim dan langsung terbaca oleh Paul.

"Bukannya aku yang butuh penjelasan dari kamu?" respon Paul singkat. Kepala Rinjani pusing mencari point of view yang benar. Bagaimanapun ia belum paham bagaimana bisa ia tiba-tiba diputuskan, dan juga dikabarkan selingkuh. Informan yang pernah membocorkan tentang Alif ditembak Anggi menyampaikan sebuah kabar kepada Rinjani mengenai bagaimana gosip ini bisa menyebar dalam waktu semalam.

Informan itu bercerita penuh ekspresi, seolah sedang menceritakan kisah horror. Matanya kadang terbuka selebar bola pingpong, seringnya menyipit saat kalimat-kalimat tertentu. "Tepat sebelum hujan turun kemarin sore, Alif dan Anggi putus. Dan yang paling mencengangkan adalah . . . beberapa orang melihat Alif membonceng kamu di malam harinya. Lagian elu sih, kedeketan," katanya. Rinjani tidak terima tapi juga tidak bisa menyangkal.

Bagi Rinjani rasanya berita ini seperti petir lain di siang bolong. Bagaimana bisa di hari yang sama? Rinjani menarik nafas. Kalimat "sebelum gw ketemu Alif, Paul mutusin gw duluan tanpa sebab..." sudah sampai di pangkal lidah Rinjani. Hampir terucap, tapi batal karena Rinjani merasa kalimat itu akan sia-sia. Untuk apa membela diri, biarkan saja orang lain dengan pemikirannya masing-masing, pikirnya. Yang ia tahu, sekarang kesalahpahaman sedang terjadi, tetapi bagaimana dia bisa menjelaskan jika orang-orang itu bahkan tidak bertanya.

Rinjani batal memasuki kelas paginya. Pikirannya yang kusut membawanya ke track lari. Ia bersiap sedia dan mulai memacu kakinya melintasi lingkaran berwarna merah bata di bawah teriknya matahari pagi itu. Badannya baik-baik saja, tetapi ia benar-benar perlu menguapkan pikiran-pikiran kacau di kepalanya. Ia terus berlari sampai badannya benar-benar basah kuyup karena keringat yang bercucuran. Wajanya benar-benar memerah seolah terbakar. Ia terus menyusuri jalur itu, mencari ketenangan diantara chaosnya pagi itu.

Bab selanjutnya

13 - Kartu Kesempatan

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Garis Selari.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 12 / 16
Garis Selari
11

Payung Terbalik

647 kata / Tersedia

12

Kembali ke Jalur

649 kata / Sedang dibaca

13

Kartu Kesempatan

401 kata / Tersedia