Zenith Ramadhan
Garis Selari
Mulai membaca
Akhir pekan tanpa kawan, Rinjani duduk termenung kursi belajar di kamar kosnya, menatap kalender di atas mejanya, 14 Maret 2009. "Sepi juga," pikirnya terbiasa menghabiskan waktu dengan Paul. Ia sudah menyelesaikan misinya, tetapi tidak sedang ingin merayakannya. Hari itu rintik di luar. Rinjani terpenjara di dalam kamar kosnya.
Menjelang malam, hujan reda. Rinjani yang tertidur sejak sore mengecek hpnya, dan mendapati sebuah pesan dari Paul. 'Akhirnya,' pikir Jani. "Aku ga bisa jemput hari ini, tapi aku pgn nemuin km. Bisa ga km ke kosan Fey & Jarwo abis magrib?" ketik Paul. Fey dan Jarwo adalah teman sekelas Paul yang paling akrab dengan Paul, sebagaimana Dira dan Rima bagi Rinjani. Rinjani yang bosan sedari pagi spontan membalas, 'tentu'. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya, menyambar handuk yang tergantung dibalik pintu, dan berlari ke kamar mandi.
Rinjani sudah rapi dengan rok, dan kaos oblong hitamnya. Ia menyisir rapi rambutnya, dan bergegas berlari ke arah kosan yang dimaksud. Rinjani dengan semangat 45-nya berlari dengan pakaiannya itu. Saking cepatnya, ia sampai sempat menginjak seekor kodok yang sedang melompat menyebrangi jalan. Kasihan sekali nasib kodok itu. Rinjani terburu-buru khawatir melewatkan moment. Waktu yang dijanjikan magrib, sedangkan ia membaca pesan itu hampir menjelang waktu Isya. Ia berlari diiringi kumandang adzan Isya.
Ia ter-engah sampai di depan gang, lalu mengerem kakinya, merapikan diri dan irama nafasnya. Tetapi keringat di dahinya tidak bisa berbohong, dan Paul melihat itu saat Rinjani tiba di gerbang kos Fey & Jarwo. Rinjani selalu mebiarkan Paul menjadi Event Organizer pada kencan-kencan mereka. Rinjani yang selama ini tidak pernah bertanya, hari itu berinisiatif melontarkan pertanyaan, "Agenda kita apa hari ini?"
"Aku mau ngajak kita putus," Kejutan paling epik dari Paul. Kalimat itu seperti guntur yang menggelegar di telinga Rinjani. Dalam rintik di luar sana, petir seolah menyambar punggungnya. Rinjani terpaku. Lidahnya kelu. Rinjani yang berseri terlambat membaca signal aneh dari wajah Paul yang datar semenjak ia datang. Ia yang terburu-buru, melewatkan berbagai pertanda dari alam.
"Aku belum bisa ceritain alasannya, tapi kita benar-benar harus putus." Statement penutup dari Paul, yang bergegas meninggalkan Rinjani, di teras kosan orang lain. Rinjani mengatupkan mulutnya, menahan satu ton beban di bawah dagunya. Akan tetapi, air mata Rinjani tetap turun. Ia berbalik ke arah Jarwo, menatap tajam, tanpa kata-kata. Jarwo memalingkan mukanya pelan, karena canggung. Ia tidak tahu apapun atau tidak berhak memberikan informasi apapun? Rinjani beralih menatap Fey, "Katakan sesuatu!" Ucap Rinjani penasaran.
Fey dan Jarwo mengucapkan dua kalimat yang tidak kompak. Hal ini mencurigakan bagi Rinjani. Ia tidak bisa menahan perasaannya, dan pergi meninggalkan teras itu. Ia mengingat bahwa pada awalnya dia tidak memiliki perasaan apapun terhada Paul. Namun berakhir, ditinggalkan di tempat orang seperti ini, "Putus," katanya. Seandainya tahu akan seperti akhirnya, sejak awal ia tolak saja Unta Gimbal itu!
Langkah Rinjani terhenti di sebuah gang gelap. Ia merungguh. Rinjani kecewa karena ia membiarkan dirinya selalu menjadi orang yang menerima keadaan. Ia selalu membiarkan Paul mengendalikan perahu. Tak sadar orang-orang lalu lalang menatapnya aneh. Hingga datang sebuah motor hitam menyodorkan payung dan tangan. "Jangan nangis di sini!" Katanya. Rinjani menggapai tangan itu, benar juga pikirnya. "Naik! Nangis di motor aja, biar ga ketahuan orang." Tubuh Rinjani bergerak mengikuti arahannya. Ia membuka payung dan menaiki motor itu. Mereka menembus hujan deras dengan sebuah payung. Kenapa menaiki motor dengan payung terbuka di tengah hujan? Angin benar-benar mengoyak mereka.
Payung itu terbalik di tengah perjalanan, tapi motor itu tetap melaju tanpa kata-kata seiring derasnya air mata yang berjatuhan di tengah derasnya hujan. Alif tak berkutik, entah berfokus menyeimbangkan motor agar mereka tak terjatuh, atau memang ada yang mengganggu pikirannya. Payung itu tak lagi kuat menahan beban air yang ditampungnya. Rinjani memiringkannya dan menciptakan air terjun kecil dari payung terbalik itu. Jika diingat lagi, harusnya ini menjadi komedi, tapi saat itu hati Rinjani terlalu sakit, sehingga semua kejadian tampak menjadi tragedi. Kemiringan payung menjadi santapan empuk bagi angin. Payung itupun terbang, dan mereka benar-benar basah kuyup sekarang.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Garis Selari.