Tika Apriyanti
30 hari mengejar cinta jeanne
Mulai membaca
Suhu di Shibuya pagi ini hanya tujuh derajat Celcius. Namun, udara dingin itu tak sedikit pun menyurutkan semangat Jeanne dan timnya untuk memulai hari pertama mereka di Jepang. Fay dan Katrin masih sibuk memoles wajah dengan riasan, sementara Gisela, dengan rambut bob dan gayanya yang tomboy, tampak lebih santai.
Haruki sudah menunggu di lobi hotel. Ia merupakan salah satu anggota tim dari perusahaan yang bekerja sama dengan Fiora dan akan mengantar mereka ke kantor. Jaraknya tidak jauh. Mereka memang sengaja memilih hotel yang memungkinkan mereka berjalan kaki ke sana.
Beberapa menit kemudian, Haruki menunjuk sebuah gedung berlantai empat. Tulisan Cacao Group terlihat jelas di bagian depannya. Seorang pria yang berdiri di dekat pintu masuk melambaikan tangan begitu melihat mereka mendekat.
"Welcome!” serunya hangat.
Jeanne mengulurkan tangan. "Kau pasti Kaito?”
Mereka baru satu kali bertemu, dalam rapat online terakhir sebelum keberangkatan ke Jepang. Selama persiapan, Robertlah yang lebih banyak berkomunikasi dengannya.
Kaito mengajak mereka berkeliling kantor. Cacao Group sengaja memilih gedung yang cukup besar agar kegiatan produksi bisa dilakukan di tempat yang sama. Dengan begitu, Kaito, yang menjabat sebagai chief operating officer, dapat memantau proses pembuatan barang secara langsung.
Ruang produksi berada di lantai satu untuk memudahkan bongkar muat bahan baku. Lantai dua digunakan sebagai ruang kerja utama, sementara lantai tiga menampung beberapa ruang kerja tambahan, pantry, dan ruang gym. Di lantai empat terdapat studio untuk pembuatan konten dan pemotretan. Setiap lantai memiliki desain yang berbeda. Semuanya penuh warna, unik, dan terasa begitu dekat dengan selera anak muda.
Jeanne dan timnya akan menggunakan sebuah ruangan di lantai tiga yang jarang dipakai. Ukurannya cukup luas, lebih dari cukup untuk mereka berlima.
Setelah berkeliling, mereka kembali membahas agenda selama berada di Jepang. Jeanne dan Kaito lebih banyak berbicara, sedangkan anggota tim yang lain menyimak. Di tengah diskusi, seseorang mengetuk pintu. Seorang lelaki dengan tinggi sekitar 185 cm berdiri di ambangnya. Jeanne merasa pernah melihat wajahnya di beberapa poster yang terpajang di kantor. Lelaki itu sedikit menundukkan kepala untuk memberi salam.
"Perkenalkan, ini tim dari Fiora yang pernah saya ceritakan,” kata Kaito kepadanya.
"Halo, saya Fumiya. Semoga kalian nyaman di sini.” Ia tersenyum hingga matanya menyipit, lalu membagikan kopi yang dibawanya kepada semua orang.
Sambutan yang hangat, pikir Jeanne.
Di sebelahnya, Katrin membisikkan sesuatu kepada Fay. Keduanya tersenyum simpul. Jeanne tak perlu mendengar bisikan itu untuk tahu siapa yang sedang mereka bicarakan.
Ia berdehem dan mencubit pelan lengan Fay, memberi isyarat agar kembali fokus pada diskusi. Sayangnya, gerakan kecil itu justru tertangkap oleh semua orang di ruangan. Tawa pun terdengar, membuat Fay buru-buru menegakkan duduknya.
"Fumiya akan banyak membantuku dalam proyek ini. Dia sangat ahli dalam fotografi dan modeling,” jelas Kaito sambil tersenyum.
Dari sudut matanya, Jeanne melihat Fumiya menunduk, tampak sedikit malu mendengar pujian itu.
"Aku masih harus banyak belajar,” sahut Fumiya.
Semua orang tertawa kecil, lalu kembali membahas rencana kerja mereka selama tiga puluh hari ke depan.
Hari pertamanya di Jepang seolah membuat Jeanne lupa bahwa masalahnya dengan Steve belum selesai. Ia begitu fokus pada pekerjaan di hadapannya hingga baru menyadari pesan Steve yang masuk sejak dini hari belum juga dibalas.
Jeanne menatap layar ponselnya sejenak. Kini ia sudah melihat pesan itu, tetapi tetap tidak ingin membalasnya.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari 30 hari mengejar cinta jeanne.