Tika Apriyanti
30 hari mengejar cinta jeanne
Mulai membaca
Jeanne memutuskan berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya. Ada beberapa hal yang ingin ia persiapkan dengan lebih matang di hari keduanya, terlebih pagi ini mereka dijadwalkan bertemu dengan salah satu investor. Robert sudah berulang kali mengingatkan agar mereka tidak terlambat. Nada suaranya cukup tegas untuk membuat siapa pun enggan mengambil risiko.
Udara masih terasa sangat dingin, meski sisa salju di antara dahan pohon mulai mencair. Jeanne berkali-kali merapatkan jaket dan menarik syalnya hingga menutupi mulut.
Setibanya di kantor, ia mencari petugas keamanan yang bisa membukakan pintu. Kaito bilang petugas akan berjaga selama dua puluh empat jam, sehingga mereka bisa datang kapan saja, bahkan di luar jam kerja. Namun, dari balik pintu kaca, Jeanne hanya melihat ruangan yang masih gelap. Ia pun menekan bel di samping pintu.
Bunyinya terdengar nyaring hingga ke lantai atas. Tak ada yang muncul. Jeanne mencoba lagi. Baru setelah ia menekan bel untuk ketiga kalinya, Fumiya datang mengenakan celana pendek dan kaos lengan panjang dengan sebotol air mineral di tangannya.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu,” kata Jeanne.
"Tidak apa-apa. Aku tadi sekalian mengisi botol minum.”
Fumiya mempersilahkannya masuk, lalu menyalakan lampu.
"Kenapa kamu datang pagi sekali?” tanyanya.
"Ada beberapa laporan yang harus diselesaikan sebelum makan siang. Aku ingin mengerjakannya selagi kantor masih sepi.”
"Masuk akal.”
"Kalau kamu? Apa setiap hari datang sepagi ini?”
"Hampir setiap hari. Biasanya aku berolahraga dulu sebelum bekerja. Tempat tinggalku juga tidak jauh dari sini.”
Jeanne mengangguk. Mereka berpisah di depan ruang kerja yang digunakan timnya. Sebelum pergi, Fumiya berpesan agar Jeanne mencarinya di ruang gym jika membutuhkan bantuan. Sikapnya ramah dan menyenangkan.
***
Setelah berkali-kali mencoba menghubungi Giska, akhirnya panggilan Jeanne dijawab.
"Gue baru mendarat di Bali, Jeanne!”
"Lo gimana sih, Gis? Dari kemarin gue sudah bilang, bahan meeting sama investor harus dikirim paling lambat jam lima. Sampai pagi ini belum ada juga.”
Jeanne tak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya. Ia sudah datang lebih awal untuk mempersiapkan pertemuan itu, tetapi tanpa materi dari Giska, mereka terpaksa menundanya. Jeanne malu harus menyampaikan perubahan jadwal kepada investor. Untungnya, Robert memahami situasinya dan tidak menyalahkan Jeanne sepenuhnya.
Di seberang telepon, Giska tidak banyak membela diri. Ia mengakui kesalahannya dan berjanji akan mengirimkan materi itu sesampainya di hotel. Jeanne mengakhiri panggilan, lalu keluar dari ruangan. Saat ini, ia hanya ingin minum kopi.
Dalam perjalanan menuju pantry, ia melirik ke arah ruang gym. Fumiya sedang membereskan barang-barangnya. Ia sudah berganti pakaian dan melambaikan tangan saat melihat Jeanne lewat. Jeanne berhenti untuk menyapanya.
"Mau kopi?” tawar Jeanne kepada Fumiya. Setidaknya, ia bisa berterima kasih karena Fumiya telah membukakan pintu tadi pagi.
"Mau mencoba kopi yang enak di dekat sini?”
Jeanne berpikir sejenak. Pertemuan dengan investor sudah ditunda, dan ia masih perlu menenangkan diri sebelum kembali bekerja.
"Tentu saja.”
Dalam perjalanan ke kedai kopi, obrolan mereka mengalir dengan mudah. Jeanne mengetahui bahwa Fumiya memiliki darah campuran, sama seperti dirinya. Ayah Fumiya keturunan Irlandia, sedangkan ibunya orang Jepang. Keduanya bertemu saat berkuliah di Amerika. Dua tahun terakhir, orang tuanya tinggal di Westport, County Mayo, tempat kelahiran sang ayah.
"Papá-ku orang Meksiko, sedangkan ibuku orang Indonesia. Mereka bertemu di Bali,” cerita Jeanne.
"Bali?” Fumiya menoleh sebelum Jeanne sempat melanjutkan.
"Ya. Kamu pernah ke sana?”
"Pernah, sekali. Aku ingin kembali suatu hari nanti. Bali sangat indah.”
"Tentu saja. Kabari aku kalau kamu ke Bali lagi,” kata Jeanne sambil tertawa. "Kadang rasanya Bali lebih terkenal daripada Indonesia sendiri.”
"Apa kamu tinggal di Bali?”
"Tidak. Aku tinggal di Jakarta. Aku lahir di Bali dan tinggal di sana sampai umur lima tahun. Setelah itu, Papá kembali ke Meksiko. Aku kuliah di Milan, lalu mendapat tawaran pekerjaan di Jakarta.”
"Menarik sekali hidupmu.” Goda Fumiya sambil menyunggingkan senyum. "Bagaimana Jakarta?” tanyanya lagi.
"Ramai. Tapi banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Datanglah kapan-kapan.”
Fumiya kembali tersenyum. "Apa kamu masih sering pulang ke Meksiko?”
"Waktu kuliah, aku pulang mungkin setahun sekali. Kalau aku tidak bisa, biasanya Papá yang mengunjungiku di Milan.” Jeanne menatap cangkir di tangannya. "Aku rindu Meksiko. Papá sudah berkali-kali mengeluh karena aku belum juga menepati janji untuk pulang.”
"Dia pasti sangat merindukanmu. Apa ibumu juga tinggal di sana?”
Jeanne terdiam sejenak. "Ibuku meninggal saat aku masih sekolah dasar.”
Senyum Fumiya memudar. "Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih.”
"Tidak apa-apa. Kamu tidak tahu.”
Fumiya tidak mendesaknya bercerita lebih jauh. Ia beralih menanyakan makanan apa yang sudah sempat Jeanne coba di Jepang, lalu bercerita tentang beberapa tempat yang menurutnya layak dikunjungi. Jeanne kembali merasa nyaman mengobrol dengannya. Meski tiga tahun lebih muda, Fumiya tampak dewasa dan tahu kapan harus memberi orang lain ruang.