CeritaGW
Buku / Bab
Bab 08714 kata

Bab 8

TA

Tika Apriyanti

30 hari mengejar cinta jeanne

Mulai membaca

Hari-hari setelah mengetahui perselingkuhan Steve, Jeanne kembali menjalani rutinitasnya. Ia tetap datang ke kantor, menghadiri rapat, dan menyelesaikan pekerjaannya. Hanya saja, kini ia datang lebih pagi dan pulang jauh lebih larut. Rasa sakit yang terus mengikutinya ia paksa menjadi tenaga untuk bekerja. Selama ia masih di kantor, ia tidak perlu bertemu Steve.

Steve tidak banyak bertanya dan mencoba memberinya ruang, seolah itu cara terbaik untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun, bagi Jeanne, keheningan di antara mereka justru membuat apartemen itu terasa asing. 

Beberapa kali Steve tidak pulang ke apartemen, atau baru tiba saat menjelang pagi. Sebelum perselingkuhan itu terbongkar, Jeanne mungkin akan memakluminya sebagai urusan pekerjaan. Kini, bahkan untuk percaya bahwa Steve benar-benar pergi bekerja pun ia kesulitan. 

Sore itu, Robert berhenti di ambang pintu ruang kerja Jeanne.

"Hai.”

Jeanne menoleh dan tersenyum sekilas, lalu kembali menghadap monitor.

"Aku perhatikan belakangan ini kau sering pulang larut.” Robert masuk dan duduk di kursi di hadapannya.

"Ya…” Jeanne menggerakkan tetikus, meski tidak ada lagi yang perlu ia kerjakan di layar. "Aku tidak ingin mengecewakan perusahaan. Kita tidak punya banyak waktu.”

Robert menyesap kopinya. Ketika Jeanne akhirnya menoleh, ia mendapati lelaki itu masih memperhatikannya.

"Kau yakin hanya itu alasannya?”

Jeanne mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?”

"Aku tahu sejak dulu kau memang gila kerja. Tapi percayalah, kau tidak pernah mengecewakan kami. Apapun hasilnya nanti, aku tahu semua orang di Fiora sudah berusaha sebaik mungkin.”

Jeanne mengangguk pelan. Ia berharap Robert akan berhenti di sana.

"Tetapi,” lanjut Robert, "beberapa hari ini kau terlihat berbeda.”

Jeanne segera mengalihkan pandangan ke monitor. Layarnya sudah gelap sejak beberapa menit lalu. Ia bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di sana, samar dan lelah.

"Wow. Bagaimana kau bisa sampai pada kesimpulan itu?” tanyanya, berusaha terdengar santai.

Robert mengangkat bahu. "Mungkin karena aku sudah cukup lama bekerja denganmu.”

Jeanne memaksakan senyum. "Aku hanya sedikit kelelahan. Aku baik-baik saja, sungguh.”

Robert tidak langsung menjawab. Jeanne semakin sulit menatapnya. Seandainya ia membuka mulut sekali lagi, ia takut yang keluar bukan penjelasan tentang pekerjaan, melainkan semua hal yang mati-matian ia tahan sejak malam itu.

"Baiklah,” kata Robert akhirnya. "Kalau kau butuh bantuan, katakan padaku. Kau tahu, sejak bertemu Miguel, aku selalu merasa punya janji untuk menjagamu di sini.”

Senyum Jeanne memudar. Mendengar nama ayahnya membuat dadanya terasa sesak dengan cara yang berbeda. Ia menunduk, merapikan beberapa berkas yang sebenarnya sudah tersusun rapi.

"Terima kasih, Robert.”

Hanya itu yang sanggup ia katakan. Ia belum siap menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Steve, bahkan kepada orang yang cukup mengenalnya untuk tahu bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

***

Jeanne mendadak menghentikan langkahnya beberapa meter dari lift. Lelaki yang sedang menunggu di sana membelakanginya, tetapi ia tahu itu Steve. Ia mengenali kemeja yang dikenakannya, juga caranya berdiri sambil menatap angka di atas pintu lift.

Jeanne ingin berbalik dan menunggu sampai Steve pergi. Namun, sebelum ia sempat melangkah, Steve menoleh dan melihatnya. Untuk sesaat, mereka hanya saling memandang dari kejauhan. Jeanne lalu melanjutkan langkahnya menuju lift, berusaha bersikap seolah pertemuan itu tidak membuatnya gelisah.

"Hai…” Steve menyapanya lebih dulu.

Jeanne tidak menjawab. Ia mengeluarkan ponsel dari tas dan menatap layarnya, meski tidak ada pesan yang perlu dibaca. Steve pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka berdiri berdampingan dalam diam hingga pintu lift terbuka.

Jeanne masuk lebih dulu. Steve menyusul, lalu menekan tombol lantai apartemen mereka. Ruang lift yang sempit membuat Jeanne semakin sadar akan kehadirannya. Ia tetap menunduk, sementara dari sudut matanya ia bisa melihat Steve beberapa kali menoleh ke arahnya.

"Gimana pekerjaan kamu?” tanya Steve akhirnya.

"Baik,” jawab Jeanne singkat.

Steve mengangguk pelan. Ia tampak ingin bertanya lagi, tetapi melihat respon Jeanne yang dingin, ia memilih untuk mengurungkan niatnya. 

Pintu lift terbuka, Jeanne melangkah keluar, dan Steve berjalan di sisinya menuju apartemen.

"Oh iya, aku lupa bilang,” ujar Jeanne tanpa menoleh. "Minggu ini aku harus ke Jepang. Sekitar satu bulan.”

Langkah Steve sedikit melambat. "Kenapa baru kasih tahu sekarang?”

Jeanne menatap lurus ke depan. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul. "Aku kasih tahu lebih awal atau sekarang, aku tetap harus pergi ke sana, kan?”

Steve tidak langsung menjawab. Biasanya ia akan menyampaikan keberatannya, lalu perbincangan mereka berubah menjadi perdebatan panjang. Kali ini, ia hanya menarik napas dan kembali berjalan di samping Jeanne.

Keheningan itu tidak membuat Jeanne lega. Justru di sepanjang lorong menuju apartemen, ia semakin merasakan betapa asingnya mereka satu sama lain.

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 08 / 8
30 hari mengejar cinta jeanne
07

Bab 7

784 kata / Tersedia

08

Bab 8

714 kata / Sedang dibaca