Tika Apriyanti
30 hari mengejar cinta jeanne
Mulai membaca
***
Hujan deras masih mengguyur Jakarta ketika Steve mengemudikan mobil menjauh dari gedung kantor Jeanne. Lagu-lagu Barat lama mengalun dari radio, menemani perjalanan mereka menuju apartemen.
"Mau kopi nggak?” tanya Steve.
Jeanne menoleh kepadanya. "Boleh,” jawabnya lirih.
Steve segera membelokkan mobil ke kedai kopi yang terlihat beberapa meter di depan. Namun, sesampainya di sana, ia baru menyadari bahwa kedai itu tidak memiliki layanan drive-through.
"Ah, nggak bisa drive-through,” gumamnya setelah memarkir mobil.
Jeanne melirik hujan yang masih turun deras. Ia menyarankan agar mereka langsung pulang saja, tetapi Steve merasa terlalu letih untuk melewatkan kopi malam itu.
"It’s okay. Kayaknya aku bisa lari.”
Sebelum Jeanne sempat menjawab, Steve sudah membuka pintu dan berlari menuju kedai. Jeanne menghela napas. Ia tahu betapa keras kepalanya lelaki itu.
Bip, bip…
Di tengah keheningan mobil, Jeanne mendengar bunyi ponsel. Ia menoleh ke kursi yang baru saja ditinggalkan Steve, lalu ke dasbor. Setahunya, Steve membawa ponselnya di saku celana.
Bunyi itu berhenti sejenak, kemudian terdengar lagi. Kali ini Jeanne yakin suara tersebut berasal dari bawah kursi pengemudi. Ia berpindah ke kursi belakang agar bisa melihat lebih jelas, lalu menemukan sebuah ponsel di sana.
Jantungnya mulai berdebar. Jeanne tidak pernah tahu Steve memiliki ponsel lain. Selama ini, bahkan untuk urusan bisnis, Steve selalu menggunakan nomor yang sama.
Dengan tangan gemetar, Jeanne mengambil ponsel itu. Di layar tertera panggilan dari nomor yang tidak tersimpan, dengan foto profil seorang perempuan. Setelah panggilan terputus, ia melihat sebuah pesan masuk. Jeanne ragu sesaat sebelum membuka percakapannya. Ponsel itu tidak terkunci.
Baru beberapa pesan yang dibacanya, Jeanne sudah mengerti hubungan seperti apa yang disembunyikan Steve. Perutnya terasa mual saat melihat foto-foto tanpa pakaian yang dikirim perempuan itu. Namun, yang paling menyakitkan adalah cara mereka membicarakan dirinya. Mereka menjadikan Jeanne bahan lelucon. Bahkan, apa yang baru saja Steve lakukan di kantornya ternyata sengaja ia ceritakan untuk membuat perempuan itu cemburu.
Perempuan itu: Aku nggak akan cemburu. Dia nggak akan pernah bisa ngikutin permainan yang kamu mau!
Steve: Haha… Yeah. Kamu memang yang paling bisa!
Air mata Jeanne jatuh ke layar ponsel. Ia masih menggenggamnya ketika pintu mobil terbuka dan Steve masuk membawa dua gelas kopi. Senyum di wajah lelaki itu lenyap begitu melihat benda di tangan Jeanne.
Untuk sesaat, mereka hanya saling diam. Jeanne masih duduk di kursi belakang, berusaha menenangkan diri. Rasa sakit dan amarah bercampur dengan kebencian terhadap dirinya sendiri. Belum pernah ia mengalami hal sepahit ini dalam percintaan.
"Jeanne, aku minta maaf.” Steve akhirnya memberanikan diri membuka percakapan.
Namun, permintaan maaf itu terasa hampa. Jeanne menatapnya dari balik sisa air mata, tanpa tahu apa yang harus ia katakan.
***
Sesampainya di apartemen, Jeanne langsung menuju kamar. Ia mengeluarkan koper dari lemari dan meletakkannya di atas kasur. Ia belum tahu akan pergi ke mana malam itu. Hotel, rumah teman, atau sekadar tempat yang tidak ada Steve di dalamnya. Apa saja, asal ia bisa bernapas tanpa melihat wajah lelaki itu.
"Hey, Jeanne, please…” Steve menyusulnya ke kamar. "Kamu enggak bisa pergi begitu aja. Kita selesaikan masalah ini.”
"Masalah kita?”
Jeanne berhenti dengan sehelai pakaian di tangannya. Sejak di mobil ia menahan diri agar tidak berteriak, tetapi mendengar Steve menyebutnya masalah kita membuat pertahanannya runtuh.
"Kamu yang selingkuh, Steve. Kamu yang bohong selama ini. Bagian mana yang jadi salahku?”
Steve terdiam. "Oke. Ini salahku. Please, jangan pergi.”
"Kasih aku alasan kenapa aku harus tetap di sini.”
"Aku cinta sama kamu.”
Jeanne tertawa pendek, meski air matanya kembali jatuh. "It’s bullshit!” Ia menatap Steve tepat di matanya. "Aku baca pesan-pesan kalian. Kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Kamu menjadikan aku bahan tertawaan. Lalu sekarang kamu berdiri di sini dan bilang kamu cinta aku?”
"Aku melakukan itu karena aku enggak mau terus-terusan nyakitin kamu dengan keinginan-keinginanku.”
"Jangan pakai alasan itu.” Suara Jeanne bergetar. "Kamu menyakitiku. Berkali-kali. Dan perselingkuhan tetap perselingkuhan.”
Ia membalikkan badan dan kembali memasukkan pakaian ke koper. Tangannya gemetar. Beberapa baju terjatuh ke lantai, tetapi ia membiarkannya. Yang ia pikirkan hanya bagaimana caranya keluar dari apartemen itu secepat mungkin.
"Aku akan pergi.”
Steve menarik lengannya. Jeanne menoleh, hendak memintanya melepaskan tangan itu, tetapi Steve menariknya lebih kuat hingga ia terjatuh ke atas kasur.
"Steve, lepasin aku.”
"Jeanne, dengarkan aku dulu.”
"Aku enggak mau dengar apa-apa lagi. Lepasin!”
Jeanne berusaha bangun, tetapi Steve menahan kedua lengannya. Ia meronta, mendorong bahu lelaki itu, lalu berteriak memintanya berhenti. Suaranya pecah. Steve tetap tidak melepaskannya.
Air mata Jeanne mengalir tanpa bisa ia tahan. Ia teringat bagaimana, beberapa menit sebelumnya, lelaki itu memohon agar ia tidak pergi. Kini, bahkan ketika Jeanne menangis dan mengatakan stop tepat di hadapannya, Steve tetap memaksakan kehendaknya.
Jeanne memalingkan wajah. Koper yang masih terbuka berada tak jauh dari mereka, dengan pakaian berserakan di lantai. Ia menatapnya sambil terus menangis, berharap bisa meraih koper itu dan pergi.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari 30 hari mengejar cinta jeanne.