Tika Apriyanti
30 hari mengejar cinta jeanne
Mulai membaca
Hujan deras mengguyur hampir seluruh penjuru Jakarta sejak siang tadi. Satu per satu orang di kantor memilih memaksakan diri pulang daripada harus terjebak seharian di dalam gedung. Lagi pula, bisa dipastikan jalanan akan semakin macet setelah hujan reda.
Jeanne menutup laptop yang sejak tadi masih menyala. Tatapannya beralih ke jendela ruangannya yang dipenuhi bulir-bulir air hujan. Ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekat untuk melihat kondisi jalan dari lantai lima kantornya.
Melihat deretan lampu kendaraan yang mengular di bawah sana, Jeanne mendadak bertanya-tanya bagaimana caranya ia bisa pulang. Bahkan dari kejauhan, pemandangan itu sudah cukup menunjukkan betapa kacaunya kondisi jalanan saat ini.
Beberapa saat kemudian, telepon genggamnya berdering. Tanpa perlu melihat layar, Jeanne sudah bisa menebak bahwa orang di balik panggilan itu adalah Steve. Ia hanya berdiri diam, mempertimbangkan apakah akan menjawabnya atau kembali mengabaikannya seperti beberapa jam lalu.
Dering itu akhirnya berhenti. Namun, belum lama keheningan kembali memenuhi ruangan, teleponnya berbunyi lagi.
"Halo,” sapa Jeanne datar setelah memutuskan untuk menerima panggilan tersebut. Setelah dipikir-pikir, tidak ada gunanya terus menghindari Steve. Sikap itu hanya akan menjadi pemicu pertengkaran mereka berikutnya.
"Kamu di mana?”
"Di kantor,” jawab Jeanne, masih mempertahankan nada bicaranya.
"Aku di pintu masuk.”
Kalimat itu seketika mengejutkan Jeanne. "Pintu masuk?” tanyanya untuk memastikan.
"Ya. Pintu masuk kantor kamu.”
Jeanne segera mematikan panggilan, lalu bergegas keluar dari ruangannya untuk memastikan ucapan Steve. Benar saja, lelaki itu sudah berdiri di balik pintu kaca, menunggunya.
Jeanne membuka pintu perlahan dan mempersilakannya masuk.
Sebagian besar lampu kantor telah dimatikan oleh office boy. Hanya beberapa lampu di sekitar ruangan Jeanne yang masih menyala karena ia belum pulang. Cahaya temaram membuat kantor yang biasanya sibuk itu terasa sunyi dan asing.
"Kok tumben?” tanya Jeanne sambil menatapnya penuh rasa ingin tahu.
"Why not?” Steve menjawab ringan.
Tanpa peringatan, ia memeluk tubuh Jeanne dari belakang. Wajahnya dibenamkan ke punggung perempuan itu, sementara kedua lengannya mengunci pinggang Jeanne begitu erat hingga ia kesulitan melepaskan diri.
"Steve, please. Ini di kantor,” tegur Jeanne pelan.
Namun, Steve tidak menghiraukan peringatannya. Ia justru semakin merapatkan tubuh mereka, lalu mulai menciumi tengkuk Jeanne. Ciumannya perlahan bergerak ke sisi leher hingga ke bagian depan tubuh perempuan itu.
Jeanne menegang. Kunjungan Steve yang semula hanya terasa mengejutkan kini mulai membuatnya tidak nyaman. Jeanne bahkan tidak pernah membayangkan Steve akan melakukan tindakan senekat ini.
"Steve, aku mohon. Kalau kamu mau, kita bisa melakukannya di tempat lain,” bujuk Jeanne penuh harap. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan lelaki itu, tetapi Steve tetap tidak bergeming.
"Steve, cukup,” ucap Jeanne lebih tegas.
Kali ini, Steve menghentikan gerakannya. Napasnya terdengar berat ketika ia membalikkan tubuh Jeanne agar menghadap kepadanya.
"Kamu benar-benar ingin aku berhenti?” tanyanya sambil menatap mata Jeanne.
Jeanne terdiam. Di satu sisi, ia masih diliputi kekhawatiran seseorang akan datang atau rekaman kamera pengawas itu dilihat oleh orang lain. Namun, di sisi lain, kedekatan Steve perlahan meruntuhkan pertahanannya.
"Bukan di sini,” bisiknya, meski kedua tangannya justru mencengkeram kerah kemeja Steve.
"Tidak akan ada yang datang,” ujar Steve meyakinkannya.
Jeanne menatap sekeliling sekali lagi. Sebagian besar ruangan telah gelap dan keheningan menyelimuti seluruh lantai. Ia tahu tak seorang pun kemungkinan akan memeriksa kamera pengawas malam itu. Namun, tetap saja, melakukan hubungan intim di ruang kerja bukanlah sesuatu yang pantas.
Steve kembali mendekat, tetapi kali ini ia menunggu. Ketika Jeanne tidak lagi menjauh dan justru membalas ciumannya, lelaki itu mengangkat tubuhnya perlahan ke atas meja kerja.
"I love you, baby,” bisik Steve di sela napasnya.
Jeanne memejamkan mata. Kekhawatiran yang sejak tadi memenuhi pikirannya perlahan tersingkir, tergantikan oleh gejolak perasaan yang membuatnya memilih menikmati kedekatan mereka malam itu.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari 30 hari mengejar cinta jeanne.