Tika Apriyanti
30 hari mengejar cinta jeanne
Mulai membaca
Usai pertemuan pagi itu, Robert menghampiri Jeanne di ruang kerjanya. Ia mengucapkan terima kasih dan berharap segala sesuatu yang telah mereka rencanakan dapat berjalan dengan baik. Pria berkepala botak yang biasanya gemar berteriak itu mendadak menjadi lebih banyak diam.
Jeanne tahu, meskipun terkadang menyebalkan, Robert adalah sosok pemimpin yang patut dikagumi. Kerja keras dan kegigihannya dalam membangun Fiora di Indonesia bukanlah sesuatu yang mudah. Jeanne masih ingat betul ketika mereka memulai semuanya dari nol. Saat itu, Robert sampai sering menginap di kantor karena bekerja hingga larut malam.
"Terima kasih, Jeanne,” ucapnya lirih sambil meletakkan segelas kopi di atas meja kerja Jeanne.
Jeanne tersenyum ramah. Ia melirik kopi hitam yang masih mengeluarkan kepulan uap tipis.
"Aku juga minta maaf jika beberapa hari lalu sikapku menyebalkan,” jawab Jeanne dengan suara yang tidak kalah lirih.
Keduanya saling bertukar senyum, seolah ketegangan yang terjadi selama beberapa hari terakhir telah hilang begitu saja.
Bisa dibilang, Jeanne dan Robert sama-sama keras kepala. Namun, pada akhirnya mereka selalu mampu bekerja dengan kompak. Mungkin itulah sebabnya Robert memilih Jeanne untuk menemaninya membangun Fiora di Indonesia. Robert tahu bahwa Jeanne adalah perempuan yang penuh ambisi, tidak jauh berbeda dari dirinya.
"Bagaimana perasaanmu?” tanya Robert.
Jeanne mengangguk pelan, lalu menyesap kopi pemberian Robert sebelum akhirnya menjawab, "Baik, seperti yang kau lihat. Aku kembali dengan ide- ide cemerlang, bukan?”
"Itulah hal yang kusukai darimu. Kau tidak berlarut-larut dalam kemarahan,” goda Robert sambil tertawa.
"Apakah kau akan ikut ke Jepang?” tanya Jeanne.
"Awalnya aku berpikir demikian. Namun, setelah dipertimbangkan kembali, sepertinya aku cukup memantau semuanya dari jauh supaya biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar.”
Jeanne kembali mengangguk. "Aku sudah memutuskan hanya akan membawa dua orang. Flo dan Brian.”
"Oke, aku percayakan semuanya kepadamu.” Robert meraih tas laptopnya dan bersiap meninggalkan ruangan. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Hari ini aku akan bekerja dari luar. Aku harus mengantar Maria ke dokter kandungan.”
Jeanne hampir tersedak kopi yang sedang diminumnya. "Maksudmu, Maria hamil?” tanyanya penasaran.
"Entahlah,” jawab Robert sambil tersenyum lebar.
Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Robert meninggalkan Jeanne dengan rasa penasaran. Beberapa bulan lalu, ia akhirnya memutuskan untuk menikahi Maria, perempuan asal Indonesia yang ditemuinya ketika berlibur di Bali.
Robert memang pernah mengatakan bahwa ia ingin segera memiliki keturunan, terlebih usianya sudah tidak lagi muda. Tahun ini, ia genap menginjak usia empat puluh satu tahun.
Pikiran Jeanne kemudian kembali kepada Steve. Membicarakan pernikahan Robert dan Maria mengingatkan Jeanne pada satu momen beberapa bulan lalu, ketika Steve akhirnya mengajaknya melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Seandainya ajakan itu disampaikan sebelum Jeanne mengetahui sisi lain Steve yang selama ini disembunyikannya, mungkin tanpa berpikir panjang ia akan langsung mengatakan, "Ya.”
Namun, kini Jeanne tidak mungkin menyerahkan masa depannya kepada seorang laki-laki yang tidak mampu memberinya rasa aman sepenuhnya. Bagaimana mungkin ia membiarkan Steve menjadi pemimpin dalam rumah tangga yang kelak mereka bangun jika untuk memercayainya saja Jeanne masih dipenuhi keraguan?
Hingga kini, ajakan Steve untuk menikah masih menggantung begitu saja tanpa kepastian dari Jeanne. Tak jarang, Steve menjadikan hal itu sebagai pemicu pertengkaran mereka akhir-akhir ini.
Berbagai tuduhan ia tujukan kepada Jeanne. Mulai dari menuduhnya sudah tidak lagi mencintai Steve, terlalu gila bekerja, hingga mencurigai adanya laki-laki lain di hati Jeanne.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari 30 hari mengejar cinta jeanne.