Tika Apriyanti
30 hari mengejar cinta jeanne
Mulai membaca
***
Seperti biasa, belum sampai tiga kali dering, Miguel sudah menjawab panggilan putrinya dengan penuh semangat.
"Halo, sayangku!” sapanya sedikit berteriak.
"Halo, Papa,” jawab Jeanne lembut, berusaha menyembunyikan sisa-sisa kekacauan yang telah dilaluinya hari itu.
"Bagaimana keadaan Papa?”
"Sudah jauh lebih baik. Tidakkah kau mendengar betapa bahagianya suara Papa?”
Jeanne tahu bahwa percuma saja menanyakan kondisi kesehatannya secara langsung. Pria yang usianya hampir menginjak tujuh puluh tahun itu akan selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Untungnya, Bibi Charlotte,adik perempuan satu-satunya sang ayah, selalu memberi tahu Jeanne keadaan Miguel yang sebenarnya.
"Bagaimana pekerjaanmu?” Miguel balik bertanya.
"Baik, hanya sedikit sibuk.” Jeanne menarik napas perlahan sebelum melanjutkan, "Tetapi Fiora sedang tidak baik-baik saja.”
Miguel tidak langsung menjawab. Dari nada bicara putrinya, ia dapat menangkap bahwa masalah yang sedang dihadapi Jeanne bukanlah sesuatu yang mudah.
"Aku akan pergi ke Jepang untuk bekerja sama dengan sebuah merek ternama di sana. Semoga kolaborasi ini bisa membuat kondisi Fiora kembali membaik.”
"Syukurlah. Bukankah sejak dulu kau sangat ingin pergi ke sana?”
Jeanne tertawa. Ia teringat percakapannya dengan sang ayah lebih dari dua puluh tahun lalu, ketika usianya belum genap enam tahun. Saat itu, mereka sedang dalam perjalanan dari Bali menuju Meksiko dan harus transit di Jepang sebelum melanjutkan penerbangan.
Jeanne kecil sudah mengenal sedikit tentang Jepang karena sering menonton serial Doraemon. Sayangnya, waktu transit mereka hanya beberapa jam sehingga tidak memungkinkan bagi keduanya untuk keluar dari bandara. Sejak saat itu, Jeanne selalu mengatakan bahwa suatu hari nanti ia ingin kembali dan benar-benar menginjakkan kaki di negeri tersebut.
"Papa masih mengingatnya,” ucap Jeanne, masih dengan sisa tawanya.
"Kenangan manis bersamamu akan selalu tersimpan di hati Papa.”
Kalimat sederhana itu seketika meruntuhkan pertahanan hati Jeanne yang memang sedang rapuh. Papanya selalu berhasil membuatnya merasa aman dan dicintai.
Meski tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu, Jeanne tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Miguel telah mencurahkan seluruh hidupnya untuk merawat dan membesarkannya seorang diri. Namun, tidak dapat dimungkiri, dalam beberapa momen Jeanne tetap merindukan sosok ibu di sisinya. Hanya saja, ketika mengingat seluruh usaha dan pengorbanan papanya, Jeanne tidak pernah sampai hati untuk mengeluhkan kekosongan itu.
"Lalu, bagaimana dengan Steve? Sudah lama kau tidak bercerita tentangnya.”
Jeanne mendadak terdiam. Ia tahu cepat atau lambat sang ayah pasti akan menanyakan Steve. Namun, ia lupa menyiapkan jawaban sebelum menghubungi papanya.
"Hmm... ba….baik,” jawab Jeanne terbata-bata.
"Mengapa jawabanmu terdengar ragu?” Miguel bertanya dengan cepat.
"Tidak, bukan begitu. Tadi temanku menanyakan sesuatu, jadi aku tidak fokus,” kilah Jeanne sambil melirik ke sekeliling kedai, memastikan suaranya tidak terdengar terlalu gugup. "Steve baik-baik saja. Sama sepertiku, belakangan ini dia juga sedang menangani proyek yang cukup besar. Pekerjaan itu banyak menyita waktunya.”
"Hmmm... begitu, ya,” gumam Miguel.
Jeanne tidak tahu apakah papanya sungguh memercayai jawabannya atau sengaja memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Beberapa detik kemudian, Miguel mengalihkan pembicaraan ke topik lain, seolah memberi kesempatan kepada putrinya untuk menyimpan apa pun yang belum siap ia ceritakan.
Setidaknya, malam itu Jeanne telah menemukan jawaban atas dua hal yang sejak pagi memenuhi kepalanya. Pertama, kondisi ayahnya sudah jauh lebih baik. Kedua, ia mulai bisa menerima kenyataan bahwa dalam waktu dekat dirinya harus pergi ke Jepang.
Sementara itu, mengenai hubungannya dengan Steve, Jeanne sendiri tidak yakin apakah masalah di antara mereka masih dapat diselesaikan atau hanya akan terus dibiarkan menggantung dan berjalan tanpa kepastian.
Ia menenggak tegukan terakhir kopinya yang telah dingin, kemudian beranjak meninggalkan kedai. Dengan langkah berat, Jeanne berjalan menuju apartemen yang selama ini ditinggalinya bersama Steve, tempat yang seharusnya terasa seperti rumah, tetapi belakangan justru menjadi tempat yang paling enggan ia datangi.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari 30 hari mengejar cinta jeanne.