Tika Apriyanti
30 hari mengejar cinta jeanne
Mulai membaca
Dari atas tempat tidur, Steve terus memperhatikan setiap gerak-gerik Jeanne yang baru keluar dari kamar mandi. Tatapan matanya yang berbinar seolah menunjukkan keinginan yang sedang memenuhi pikirannya. Jeanne sadar dirinya tengah diperhatikan, tetapi ia berusaha tetap tenang dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
"Steve…” panggil Jeanne lirih ketika kedua tangan laki-laki itu menanggalkan handuk yang membalut tubuhnya. Melalui pantulan cermin di hadapan mereka, Steve dapat melihat dengan jelas tubuh Jeanne yang masih sedikit basah.
Tanpa menghiraukan nada keberatan dalam suara Jeanne, Steve membalikkan tubuh ramping wanita itu dan perlahan, ia mendaratkan ciuman hangat di bibirnya.
Seketika, Jeanne merasakan hawa panas menjalar ke seluruh tubuh. Steve memang selalu tahu cara meruntuhkan pertahanannya. Padahal sejak kemarin, Jeanne sudah bertekad akan bersikap dingin dan menjaga jarak darinya.
"Please… lepaskan aku,” pinta Jeanne ketika Steve mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju tempat tidur.
"Kenapa?” tanya Steve setelah membaringkan tubuh Jeanne perlahan. Tatapannya masih enggan beralih dari wanita yang kini terlentang di hadapannya.
Pertanyaan itu terdengar sangat sederhana, tetapi Jeanne seolah kehilangan semua jawaban yang sudah disiapkannya. Ketika Steve mendekat, Jeanne justru menelusupkan wajah ke dada Steve, mencoba menyembunyikan kemarahan yang perlahan melebur menjadi hasrat.
Napas Steve memburu. Gerakan tangannya yang semula masih berirama kini berubah menjadi cengkeraman kuat, seolah ingin memastikan Jeanne tidak dapat bergerak sedikit pun.
"Steve, please. Sakit,” rintih Jeanne ketika laki-laki itu memaksakan sebuah benda ke dalam lubang pelepasannya.
Rasa sakit seketika membuat tubuh Jeanne menegang. Namun, seperti yang sudah-sudah, ketika hasrat Steve mengalahkan logikanya, permohonan Jeanne hanya dianggap sebagai angin lalu.
Steve menanggalkan satu per satu pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Setelah itu, ia kembali menindih Jeanne yang masih berusaha menahan sakit akibat getaran benda kecil tersebut. Berat tubuh Steve mengimpitnya, membuat setiap usaha untuk melepaskan diri terasa sia-sia.
Cengkeraman tangan Steve kemudian berpindah ke leher jenjangnya. Jeanne tersengal. Ruang untuk bernapas semakin sempit, terlebih untuk berteriak dan meminta pertolongan.
"You look so beautiful, baby,” bisik Steve di telinganya.
Jeanne memejamkan mata rapat-rapat ketika Steve kembali memaksakan diri kepadanya. Jeritan kesakitan lolos begitu saja dari bibirnya. Namun, Steve hanya membiarkannya sesaat sebelum kembali membungkam mulut Jeanne dengan jari-jarinya.
"Steve… please, stop. Aku gak bisa. Lepasin aku!” Air mata Jeanne mengalir begitu saja, tetapi permohonannya justru membuat Steve semakin kehilangan kendali. Laki-laki itu memindahkan benda kecil tersebut ke bagian lain dari tubuh Jeanne tanpa mempedulikan penolakannya.
Steve lalu duduk di sofa yang berada di sudut kamar dan memaksa Jeanne berlutut di lantai, tepat di hadapannya. Jeanne langsung memahami apa yang diinginkan laki-laki itu. Seluruh tubuhnya gemetar, tetapi belum sempat ia menjauh, Steve sudah mencengkram rambutnya dengan kasar.
"Steve, jangan…”
Kalimat Jeanne terputus ketika Steve kembali memaksakan kehendaknya. Jeanne mencoba menarik diri, tetapi cengkeraman di kepalanya semakin kuat. Ia kesulitan bernapas dan hanya mampu mencengkeram paha Steve, berharap laki-laki itu menyadari bahwa dirinya benar-benar kesakitan.
Namun, Steve tidak peduli.
Bagi Steve, tubuh Jeanne seolah bukan lagi milik perempuan itu sendiri. Sementara bagi Jeanne, setiap detik yang berlalu malam itu semakin mengikis perasaan aman yang pernah ia miliki bersamanya.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari 30 hari mengejar cinta jeanne.