Tika Apriyanti
30 hari mengejar cinta jeanne
Mulai membaca
Kalau setiap manusia memiliki jatah masalah, mungkin bulan ini jatah Jeanne sudah jauh melebihi kuota yang seharusnya. Hubungannya dengan Steve sedang bermasalah, kondisi ayahnya yang beberapa kali harus dirawat di rumah sakit, hingga perusahaan tempatnya bekerja yang sedang tidak baik-baik saja. Semuanya seolah datang secara bersamaan, membuatnya terkadang ingin menyerah dan lari dari kenyataan.
Dengan sisa-sisa tenaganya hari itu, Jeanne duduk di sebuah kedai kopi yang terletak tidak jauh dari kantornya. Dipandanginya langit Jakarta yang perlahan semakin gelap, kontras dengan cahaya lampu kendaraan yang masih ramai berlalu-lalang. Ia menghirup aroma kopi panas di tangannya sebelum menyesapnya perlahan.
"Ah, kau memang selalu menenangkan,” gumamnya ketika rasa pahit cairan berkafein itu memenuhi mulutnya.
Setelah merasa sedikit lebih baik, Jeanne kembali mengingat satu per satu permasalahan yang sedang dihadapinya. Sosok pertama yang muncul di kepalanya adalah Robert, country director di perusahaan tempatnya bekerja.
Fiora, merek pakaian ternama asal Italia, harus menghadapi kenyataan bahwa penjualannya di pasar Indonesia tidak berjalan sesuai harapan. Dalam beberapa bulan terakhir, angka penjualan terus mengalami penurunan. Pihak manajemen tentu tidak dapat menoleransi keadaan itu lebih lama lagi. Jika terus dibiarkan, penutupan gerai dan pemutusan hubungan kerja secara massal menjadi taruhannya.
Dengan penuh harapan, Robert meminta kesempatan kepada manajemen untuk memperbaiki keadaan. Ia memutuskan untuk berkolaborasi dengan salah satu merek pakaian Jepang yang tengah naik daun. Berdasarkan hasil analisisnya, desain Fiora yang cenderung glamor mungkin sudah tidak lagi menarik minat pasar. Sementara itu, gaya berpakaian yang digemari kebanyakan masyarakat Asia saat ini lebih sederhana, dengan motif minimalis dan warna-warna yang menyatu dengan alam.
Masalahnya, Jeanne dipercaya untuk memegang tanggung jawab penuh atas kolaborasi tersebut. Posisinya sebagai konsultan desain membuatnya memegang peranan penting dalam menyatukan identitas kedua merek itu menjadi sesuatu yang istimewa bahkan, seperti kata Robert, bombastis.
Ekspresi Robert sore itu sudah cukup menjelaskan bahwa tugas tersebut bukanlah sebuah penawaran, melainkan keharusan yang harus Jeanne jalani. Ia hanya diberi waktu tujuh hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum terbang ke Jepang.
"Argh!” Jeanne menggeram, lalu meneguk kembali kopi hitamnya yang mulai dingin.
Namun, beberapa saat setelah menggerutu dan mengutuki keputusan Robert dalam hati, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis. Setidaknya, ada satu hal baik yang bisa ia dapatkan dari keadaan ini. Mungkin menyibukkan diri dengan pekerjaan adalah pelarian terbaik dari masalah lain yang sedang dihadapinya, Steve.
Pria yang telah menjadi kekasihnya selama hampir dua tahun itu merupakan penyebab terbesar terkurasnya energi Jeanne. Dalam beberapa bulan terakhir, sikap Steve berubah semakin liar dan sulit dikendalikan. Cara lelaki itu menyentuh tubuhnya kerap membuat Jeanne merasa takut dan tidak nyaman. Steve bahkan tidak segan menggunakan kekerasan demi memperoleh kepuasan saat bercinta, seolah keinginan Jeanne tidak lagi berarti.
Pada awalnya, Jeanne mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya terjadi karena Steve sedang berada di bawah tekanan. Ia terus mencari alasan untuk memaklumi perilakunya. Namun, semakin lama, Jeanne semakin sulit menyangkal satu kenyataan yang menakutkan: hubungan mereka tidak lagi terasa seperti cinta, melainkan sebuah ancaman yang perlahan merenggut rasa aman dari hidupnya.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari 30 hari mengejar cinta jeanne.