Tika Apriyanti
30 hari mengejar cinta jeanne
Mulai membaca
***
Robert terus memantau perkembangan proyek mereka. Ia ingin memastikan setiap hari yang mereka habiskan di Jepang menghasilkan kemajuan. Jeanne pun harus segera memilih foto yang akan dikirim kepada editor agar pekerjaan berikutnya bisa dimulai.
Tok, tok.
Jeanne mendongak saat seseorang mengetuk pintu. Fumiya berdiri di sana sambil membawa segelas kopi.
"Aku melihat lampu ruangan mu masih menyala,” katanya. "Jadi, aku membelikanmu kopi.”
Jeanne sedikit terkejut. Perhatian itu membuatnya senang, meski ia berusaha tidak menunjukkannya terlalu jelas.
"Terima kasih.”
Kopi itu masih panas. Uapnya mengepul tipis ketika Jeanne mendekatkan gelas ke wajah. Ia selalu menyukai aroma kopi yang baru diseduh dan rasa hangat yang menyentuh kulitnya sebelum ia menyesapnya.
"Kenapa kau belum pulang?” tanya mereka hampir bersamaan.
Keduanya tertawa.
"Aku harus memilih foto yang akan kuserahkan ke editor,” jawab Jeanne.
Fumiya mendekati meja dan melihat layar laptopnya. Mereka memeriksa foto satu per satu. Sesekali Fumiya menunjuk gambar yang menurutnya bagus, lalu menjelaskan alasannya.
Jeanne justru merasa malu melihat foto-foto mereka berdua. Saat pemotretan, ia yakin posenya terlihat kaku. Namun, di layar, hasilnya jauh lebih baik daripada yang ia bayangkan.
"Yang ini bagus,” kata Fumiya sambil menunjuk salah satu foto.
"Kau yakin? Rasanya tadi aku tidak tahu harus berbuat apa di depan kamera.”
"Kalau kau terlihat sekaku yang kau pikirkan, fotografer pasti akan terus mengulang pengambilannya.”
Jeanne meliriknya. Ia tidak tahu apakah Fumiya sungguh menyukai hasil foto itu atau hanya sedang berusaha membuatnya merasa lebih baik.
"Kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau model laki-laki untuk pemotretan ini?”
"Memangnya untuk apa?” Fumiya menoleh sebentar, lalu kembali melihat layar.
Jeanne tidak punya jawaban. Ia menggeser foto berikutnya dan berusaha mengabaikan senyum kecil di wajahnya.
"Oh, iya,” kata Fumiya setelah beberapa saat. "Bagaimana dengan kekasihmu? Apa kalian sudah bertemu?”
"Steve?” Jeanne bahkan hampir lupa bahwa beberapa hari lalu Steve mengatakan akan ke Jepang. "Belum. Sejak menelepon malam itu, dia belum mengabariku lagi.”
Fumiya mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh.
"Aku berencana pergi ke sauna besok,” katanya kemudian. "Kau mau ikut?”
"Sauna?”
"Katanya, datang ke Jepang belum lengkap kalau belum mencobanya.”
Jeanne tertawa kecil. "Kalau begitu, alasan apa yang kupunya untuk menolak?”
Fumiya tersenyum puas. Mereka sepakat bertemu pukul delapan pagi; Fumiya akan menjemputnya di hotel. Jeanne belum berniat memberi tahu teman-temannya. Ia bisa membayangkan bagaimana Fay dan yang lain akan bereaksi jika mendengar ia pergi berdua dengan Fumiya.
Setelah selesai memilih foto, Jeanne menambahkan editor dan Robert sebagai penerima email. Ia memeriksa lampirannya sekali lagi sebelum menekan tombol Send.
Mereka keluar dari kantor bersama. Meski hampir pukul sembilan malam, jalanan Shibuya masih ramai. Fumiya mengajaknya mampir untuk makan, tetapi Jeanne menolak. Ia tidak lapar dan ingin tidur lebih awal agar bisa bangun tepat waktu besok.
Di sebuah persimpangan, mereka berpisah. Hotel Jeanne dan apartemen Fumiya berada di arah yang berbeda.
Jeanne melanjutkan langkah sendirian. Namun, sepanjang perjalanan, wajah Fumiya terus muncul di benaknya: caranya tersenyum di studio, kopi yang dibawakannya, dan ajakannya untuk pergi besok pagi. Tanpa ia sadari, lelaki itu mulai mengambil tempat dalam pikirannya. Selama beberapa saat bersama Fumiya, ia bahkan bisa berhenti memikirkan masalahnya dengan Steve.
Jeanne merapatkan jaketnya dan mempercepat langkah. Ia harus menjaga perasaannya sendiri. Hubungannya dengan Steve memang sedang bermasalah, tetapi mereka masih bersama. Jeanne tidak ingin melanggar prinsip kesetiaan yang selama ini ia pegang.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari 30 hari mengejar cinta jeanne.