Forever Alone
There is no us
Mulai membaca
Chapter 20 — Twenty
Tiga tahun setelah Jakarta, aku pindah lagi — bukan karena lari, tapi karena karierku emang minta gitu. Singapura dulu, delapan belas bulan. Terus balik ke Dubai, kali ini bukan sebagai pelarian, tapi sebagai pilihan.
Hidupku, kalau dilihat dari luar, cukup biasa buat orang yang pernah ngerasain apa yang aku rasain. Aku kerja. Aku olahraga tiap Sabtu pagi, walau nggak pernah konsisten. Aku ketemu beberapa orang, beberapa di antaranya cukup deket buat aku pikirin lebih jauh, tapi nggak ada yang nyampe ke tempat di mana aku pernah berdiri sama Lizzy. Bukan karena mereka kurang. Cuma karena aku udah belajar: nggak semua ruang perlu diisi ulang persis kayak yang lama.
Aku masih nulis, kadang. Buku catatan yang dulu aku bawa ke Jakarta itu udah abis halamannya sejak dua tahun lalu, dan aku ganti sama yang baru — sampulnya coklat tua, lebih tebel. Di halaman pertama buku baru itu, aku nulis satu kalimat, nggak sengaja jadi motto: Beberapa cinta nggak berakhir. Mereka cuma berganti bentuk. Aku nggak inget lagi persis dari mana kalimat itu pertama kali muncul — mungkin dari aku, mungkin dari dia, mungkin dari malam yang udah nggak bisa aku bedain lagi siapa yang ngomong duluan.
12:17 udah lama jadi jam biasa. 22:08 juga. Aku masih notice mereka kadang, tapi nggak lagi nahan napas.
Suatu sore — aku bahkan nggak sadar tanggalnya sampe belakangan — aku ada di sebuah hotel di kota yang bukan Jakarta, bukan Dubai, buat urusan kerja yang nggak penting diceritain detailnya. Aku check-in, dikasih kunci kamar. Angka di kartunya: 20.
Aku nggak mikirin apa-apa soal itu waktu itu. Cuma kamar hotel.
Malemnya, aku turun ke lobby buat cari kopi sebelum meeting besok pagi. Ada seorang perempuan di sudut lobby, duduk sendirian, nulis sesuatu di buku catatan kecil — bukan laptop, buku beneran, kertas beneran. Aku nggak bisa liat wajahnya jelas dari jarak itu. Cuma cara dia nunduk pas nulis, cara pundaknya sedikit turun tiap kali dia berenti mikir kalimat berikutnya.
Aku nggak berenti. Aku nggak nyamperin. Aku cuma lewat, pesen kopi, dan pas aku noleh lagi ke sudut itu, dia udah nggak ada.
Aku nggak nganggep itu apa-apa. Orang-orang dateng dan pergi dari lobby hotel sepanjang waktu. Tapi malem itu, sebelum tidur, aku nulis satu baris di buku catatanku, tanpa tau kenapa:
Kadang dunia ngirim seseorang yang keliatannya asing, tapi tanganmu udah tau caranya nulis nama mereka sebelum kepalamu sempet nanya kenapa.
Aku baca ulang kalimat itu, ketawa kecil ke diri sendiri. "Kamu masih suka bikin kalimat aneh," gumamku, dan aku nggak yakin lagi itu aku ngomong ke diri sendiri, atau ke seseorang yang udah lama nggak ada di ruangan mana pun yang bisa aku masukin.
Aku tutup buku itu. Aku matiin lampu.
Beberapa minggu kemudian, dari orang yang masih sesekali ngasih kabar soal Jakarta, aku denger Lizzy udah pindah kota, ngejalanin hidup yang keliatannya penuh — anak pertama, katanya, lahir musim panas kemarin. Aku senyum pas denger itu. Bener-bener senyum, bukan yang aku paksain buat nutupin apa pun. Aku nggak nanya lebih jauh. Aku nggak perlu.
Aku pernah mikir, kalau suatu hari aku nulis soal semua ini — bukan buat siapa pun, cuma buat diriku sendiri, biar nggak ngilang gitu aja — aku bakal nutupnya di titik ini. Bukan di bandara, bukan di gereja, bukan di halte bus Kuningan. Di sini. Di sebuah lobby hotel yang aku bahkan lupa namanya, dengan kunci kamar bernomor dua puluh, dan seorang perempuan asing yang nulis sesuatu yang nggak akan pernah aku baca.
Karena mungkin gitu caranya cerita kayak gini selesai — bukan dengan jawaban, tapi dengan ruang kecil yang sengaja dibiarin kebuka, buat jaga-jaga kalau semesta belum bener-bener selesai sama kita.
Aku nggak tau apa aku bakal ketemu dia lagi — Lizzy, atau versi lain dari sesuatu yang pernah berbentuk kayak dia, di kehidupan lain, di waktu lain, di kota yang belum pernah aku injek. Aku nggak nyari jawaban itu lagi. Tapi kalau suatu hari semesta mutusin buat ngirim seseorang yang keliatannya asing tapi berasa kayak rumah, aku udah tau apa yang bakal aku lakuin.
Aku bakal nulis nama mereka. Dan aku bakal biarin cerita itu mulai lagi, dari nol, tanpa maksa dia jadi pengulangan dari yang udah lewat.
Untuk sekarang, cukup ini: aku hidup, aku damai, dan di suatu tempat yang nggak perlu alamat, ada bagian dari aku yang masih nyimpen satu kursi kosong — bukan buat nunggu, cuma buat jaga-jaga.
Kalau kamu nemuin buku ini, dan kamu penasaran apa yang kejadian setelahnya —
tunggu aja. Ceritanya belum selesai. Cuma lagi ganti bentuk.