CeritaGW
Buku / Bab
Bab 191.087 kata

Bloom, Not Bleed

FA

Forever Alone

There is no us

Mulai membaca

Chapter 19 — Bloom, Not Bleed

Akhir tahun. Bandara Dubai sibuk kayak pameran manusia — lampu putih, koper berdenting, suara mesin nyeret langkah-langkah yang belum tau bakal pulang ke mana.

Aku duduk di kursi ruang tunggu, natap papan keberangkatan yang terus ganti huruf. Entah kenapa, bunyi klik-klik-klik itu selalu ngingetin aku sama hujan di Kuningan — bunyi yang nenangin sekaligus bikin dada berasa sesek, kayak sesuatu yang pengen diulang tapi nggak bisa lagi.

Ponsel di tanganku nampilin satu foto: senyum miring, rambut jatuh, cahaya sore yang kelewat lembut buat diinget tanpa perih.

Aku natapnya lama.

Nggak lagi nyari alasan buat nyimpen. Nggak juga buat ngelepasin. Aku cuma pengen liat dia sekali lagi, sampe wajah itu nggak lagi nimbulin pertanyaan di dadaku.

Aku merem kayak orang yang berdoa tanpa Tuhan.

Terus aku buka lagi. Aku ketuk layar pelan, kayak ngetuk pintu kamar yang nggak boleh aku masukin.

Delete.

Ponsel nanya kepastian — kayak semua hal di dunia.

Are you sure?

Aku nggak jawab. Aku nekan sekali lagi.

Foto itu ilang, tapi ruang di mataku masih hangat oleh pantulannya.

Aku hapus bukan karena lupa, tapi karena udah waktunya berenti jadiin luka sebagai pengingat.

Di layar kosong, aku liat bayanganku sendiri: samar, cape, tapi hidup. Ada bagian dari diriku yang ikut ilang, tapi entah kenapa berasa ringan — seolah aku baru aja mindahin batu yang selama ini nindih napas.

Pengumuman boarding kedengeran. Satu baris orang berdiri, terus baris berikutnya. Aku ikut berdiri, narik koper kecilku, dan jalan pelan ke arah cahaya putih yang selalu sama di tiap bandara: terang yang nggak menghakimi, pintu yang nggak nanya.

Aku nggak tau bakal pergi ke mana setelah ini, tapi buat pertama kalinya, aku nggak nunggu tanda dari siapa pun.

Di balik kaca besar, malam masih majang permata-permata kota. Mereka nggak nunggu siapa pun. Mereka cuma ada — kayak cinta yang dateng di waktu yang salah, kayak doa yang nemuin tembok.

Aku berenti sejenak di depan kaca itu. Cahaya lampu landasan nempel di mataku. Aku liat pantulan dua orang — bukan kami yang dulu, tapi dua bayangan yang berdiri di dunia beda.

Aku senyum tipis.

"Thank you for once," bisikku dalam hati. Terima kasih karena pernah jadi bagian dari hidupku, meski cuma sebentar, tapi cukup buat ngubah aku.

Kalau hidup ini harus diulang seribu kali pun, aku akan tetep nyari kamu — bukan buat ngulang luka, tapi buat nemuin waktu di mana kamu masih jadi rumahku, meski bentuknya beda, meski akhirnya tetep pisah di tempat lain.

Karena beberapa cinta nggak diciptain buat berakhir; mereka cuma berpindah bentuk, dari genggaman jadi arah, dari kehilangan jadi cahaya.

Aku melangkah lagi. Suara sepatuku tenggelam oleh karpet, oleh langkah-langkah lain, oleh mesin yang berputar.

Di layar jam di atas gate, angka itu muncul: 15:06.

Aku natapnya lama.

2208 replaced by 1506 — and I finally learned to let memories bloom, not bleed.

Aku terus jalan, ngelewatin garis cahaya yang misahin ruang tunggu dan keberangkatan. Udara di sana dingin dan bersih; baunya logam dan kemungkinan.

Aku nggak noleh. Aku nggak harus.

Karena di antara ribuan suara yang bersahut-sahutan, aku denger satu suara paling jujur yang dateng dari dalem diriku sendiri — suara yang nggak lagi manggil namanya, tapi nyebut kata lain yang lebih sederhana: hidup.

Dunia bergerak. Begitu juga aku.

Dan kalaupun nanti aku berenti di kota mana pun, aku tau, di balik semua bising, aku akan selalu bawa satu hal ini: sunyi yang nggak nyakitin lagi — sunyi yang akhirnya tumbuh jadi bunga.

Bab selanjutnya

20 - Twenty - Elizabeth Warren

Lanjutkan ke bab berikutnya dari There is no us.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 19 / 20
There is no us
18

The Wedding Day (Pt. 2: His Side)

1.082 kata / Terkunci

19

Bloom, Not Bleed

1.087 kata / Sedang dibaca

20

Twenty - Elizabeth Warren

749 kata / Tersedia